Kamis, 10 Juni 2010

FEATURE NEWS

Bukan Sampingan Bukan Pokok
Oleh: Rudi Hartono Saragih


Malam semakin larut, jalanan mulai sepi. sekali-kali kendaraan memacu abu beterbangan, walau malam, jalanan masih penuh dengan debu. Tampak sebuah gerobak sorong yang diterangi lampu neon. Satu buah kursi panjang tersedia untuk duduk sesaat bagi para pengujung. Gerobak sorong seakan-akan memberikan harapan. Beragam jamu tersusun rapi, telur ayam kampung, telur bebek terletak di sebelah bawah bersama gelas dan berbagai manisan. Berbagai profesi yang dilakukan untuk bertahan hidup. Dari aktivitas subuh hingga malam gelap. Itu semua dilakukan untuk keluarga.
Sebatang rokok dihisap dan dihembuskannya setengah tengadah. Tampaknya walau malam-malam dia tidak berhenti untuk mengais rupiah. Fahmi (35), itulah namanya. Dia Seorang penjual jamu setiap malam di jalan Tembung Deli Serdang, Sumatera Utara. Walau terlihat sedikit mengantuk tetapi dia selalu senyum menyajikan jamu kepada pelanggannya. Bahasa tubuhnya yang ramah, tersirat sebagai penarik para konsumen untuk minum jamu yang dibawa-bawa gerobaknya.
Menjual jamu saat kebanyakan orang sudah terlelap telah dijalaninya selama 5 tahun. Dengan penghasilan yang tidak tentu, lelaki yang telah mempunyai anak 3 ini mengaku meyakini setiap usahanya dalam menjalani kehidupan. "Mana ada cerita sampingan dalam hidup ini. Karena kalau dagang kan itu tergantung kemauan," tuturnya ketika ditanya apakah menjual jamu itu sebagai sampingan (14/4). Dengan percaya diri, lelaki yang bertubuh kekar ini menyatakan senang sekali menjadi penjual jamu. Tidak dikatakannya sebuah pekerjaan itu sampingan, semua itu adalah usaha untuk menghidupi diri dan keluarga. Sebenarnya, sehari-harinya dia adalah seorang penjual pakaian di pasar tembung. "Dari pada gak ada kerjaan di malam hari, bagus jualan jamu sambil duduk-duduk," tukasnya. Tidak terlihat ketidakpercayadirian dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Kekukuhan yang terlihat pada dirinya sangat menunjukkan bahwa jika yang kita kerjakan adalah hal yang halal maka tidak perlu malu atau bahkan tidak percaya diri.
Lalu lalang orang dijalan semakin sedikit, wajar saja, malam semakin larut. Tetapi semakin larut malam para pembeli jamu semakin banyak. Hingga pukul 12. Lokasi ini cukup strategis, jalan yang menghubungkan kota Medan dengan Kabupaten Deli Serdang. Orang yang telah selesai bekerja di Medan biasanya singgah untuk menambah stamina tubuh dengan minum jamu Bang Fahmi.
Ternyata, untuk menjadi penjual jamu seperti ini, juga membutuhkan dana lebih kurang 10 juta rupiah. Fahmi menambahkan, bahwa untuk gerobaknya saja sudah mencapai 6 juta, sedangkan jamu dan perlengkapan lainnya mencapai 4 juta rupiah. Gerobak yang dipenuhi perlengkapan dan peralatan seperti dispenser, termos, alat pengaduk jamu bahkan ada TV di sudut atas gerobak sebagai sumber hiburan bagi pengunjung.
Menjadi tukang jamu itu bukan sampingan, bukan juga pekerjaan pokok. Itu identik dengan sebuah perjuangan hidup yang bertanggung jawab kepada kehidupan. Itu pula lah yang dinyatakan Suwito, seorang penjual jamu di jalan Letda Sudjono. Sudah 18 tahun menjual jamu. Sambil mendengar radio dengan tape rekordernya yang mini dia menjual jamunya seusai magrib hingga pukul 12. Tak ubahnya dengan fahmi, lelaki tua yang sudah berumur 58 tahun ini mengaku bahwa pendapatannya akhir-akhir ini sudah mulai menurun. Kalau dahulu masih bisa menghabiskan 50 gelas tiap malamnya, sekarang sudah berangsur berkurang.
Tidak jauh berbeda dengan penjual jamu yang lainnya. Pak Suwito, menjual jamu dengan kisaran harga Lima Ribu Rupiah hingga Lima Belas Ribu Rupiah. Harga itu tidak terlalu mahal karena sudah dicampur dengan telur ayam kampung atau telur bebek. Satu malamnya dia bisa mendapat penghasilan bersih dari 40 ribu hingga 150 ribu rupiah. Kadang pengahasilan menurun dan kadang meninggi karena hujan, hari libur dan alasan lain. Ketika orang malas keluar karena hujan, maka pendapatan akan menurun. Ketika hari baik dan hari kerja, pendapatan bisa meninggi.
Dengan menjual jamu, pak Suwito bisa menghidupi diri dan keluarganya setiap harinya. Istrinya juga sebagai penjual jamu di pasar saat dia bekerja pada siang hari menjadi kuli bangunan. Kadang-kadang dia menjadi kuli pembuatan perabot. Terlihat ketegarannya berprofesi sebagai tukang jamu. Kata-kata yang diucapkannya terucap secara gamblang tanpa ada rasa malu. Dia betul-betul menikmati pekerjaan itu. Dulunya dia tamat sekolah rakyat (SR), dengan mengikuti jejak orangtuanya dia senang menjual jamu. Menjual jamu sudah seperti keturunan di keluarga mereka, kenapa tidak, satu orang dari tiga anaknya juga menjadi penjual jamu di Pasar Mandala, Medan. "Aku memang sengaja tidak membuat mesin gerobak ini, dengan mengayuh sepeda ini bisa mengeluarkan keringat dan menjadi olah raga bagi seusia kami." ulasnya. Dia memang selalu membanggakan pekerjaan ini, menggunakan gerobak ini bukan karena kurang mampu beli, tetapi sekaligus untuk menjaga kesehatan.
Sekali-kali acapkali datang pembeli saat ngobrol asik dengannya. “Aku sering kali minum jamu di tempat uwak ini, hampir tiap malam pun,” kilah Yogi, seorang pengunjung yang sehari-harinya bekerja di sebuah Pergudangan. Minum jamu malam hari lebih bagus karena setelah itu bisa langsung istirahat dan badan bisa segar kembali untuk bekerja esok hari, Tambahnya. Pengunjung yang satu ini terlihat kompak dengan Pak Suwito. Tertawa lepas dari mereka berdua membuat senyum para tamu yang lainnya.
Bekerja malam-malam bukanlah hal yang asing bagi mereka. Ancaman-ancaman juga hampir tidak pernah mereka alami. Mencari sesuap nasi, itulah selalu yang didengungkan saat mencari mata pencaharian. "Kalau kita baik, pasti orang akan baik sama kita. Jadi kalau masalah gangguan dari PS (pemuda setempat-red) atau ormas (organisasi masyarakat-red) itu tergantung kepada kita," tutur Fahmi yang setiap malamnya berjualan sampai jam 1. “Tidak perlu khawatir, jualan jamu adalah jualan yang halal. Bahkan para penjual jamu menolong orang-orang untuk menjaga kesehatannya. Berpahala lagi,” tambahnya sambil tertawa.
Kebanyakan para pekerja malam seperti menjual jamu memiliki pekerjaan di siang hari. Dengan berbagai keinginan dalam kehidupan, mereka terus berusaha semampu apa yang mereka bisa. Tidak penting waktu matahari memancarkan cahaya atau bahkan hanya bulan yang memancarkan cahaya. "Aku sehari-harinya menjual tilam, dan jangan sampai dapur gak berasap." Kata-kata itulah yang diucapkan Darhan (42) – penjual jamu di jalan Pancing. Malam-malam dia setia menunggu pelanggan.
Berjualan jamu sudah menjadi bagian dari dirinya. walau istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga, dia selalu setia berusaha menghidupi keluarganya. Dia dikaruniai 3 orang anak dan sekarang si sulung sudah ada di SMP. Walau bekerja setiap hari dan malamnya, dia selalu mengganggap pekerjaannya itu bukan tambahan tetapi sesuatu tanggung jawab sebagai kepala keluarga. "Sekarang ini jamu sudah mulai kurang digemari orang. para pelanggan sudah berkurang, tapi tidak apa-apa, yang penting waktu malam juga bisa dipergunakan untuk mencari duit." tuturnya dengan senyum.
perwatakannya yang kurus tinggi itu sepertinya memperlihatkan kerja kerasnya setiap malam. Menunggu pengunjung dan berharap rezeky dari Yang Maha Kuasa. Keprofesionalannya mengocok jamu membuat pengunjung tidak terlalu lama menunggu. Gesit, tanggannya bergerak. Sebentar saja dia bisa menyuguhkan beberapa gelas jamu.
Berbeda dengan Suwito, Darhan adalah orang pertam yang bekerja sebagai penjual jamu di malam hari dari keluarganya. Dia mengetahui dan menekuni pekerjaan ini dari binaan para temannya yang berjualan jamu di jalan lain. Walau tidak pernah ada keluarganya yang menjual jamu, dia tidak pernah merasa malu. “Kalau gengsi nggak makan lah, betul kan,” tuturnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar