Selasa, 01 Juni 2010

SI KECAMBAH BERPIKIR

Oleh Rudi Hartono Saragih*

Langkah kakinya menghentak menuju kamar peserta Diklat Jurnalistik Mahasiswa tingkat Lanjut yang diadakan LPM Bahana Mahasiswa Universitas Riau. Tubuhnya tinggi kurus begitu gesit bergerak memasuki kamar. Seraya masuk sambil menyapa teman sekamar, dia melempar senyum. Terlihat senang, dan duduk di samping penulis.
Bung Ardan, Itulah nama akrabnya. Ardansyah merupakan nama lengkap yang diberikan kepadanya. Lahir 15 Mei 1990 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sekarang tinggal di Pekanbaru tepatnya di jalan Rawa Indah Simpang Tiga, Pekanbaru.
Obsesinya menjadi tentara surut karena pernah mengalami kecelakaan. Itu membuat dia tidak lulus kriteria menjadi seorang militer. Namun tidak menyurutkan semangat untuk mencerahkan kehidupan masa depannya. Fakultas Hukum Universitas Riau menjadi pilihan. Sekarang berada sedang menjalani semester 2 dengan memiliki Indeks Prestasi 3,67. Selain kuliah, aktivitasnya di kampus semakin padat dengan diterimanya dia menjadi anggota tetap di Lembaga Pers Mahasiswa Bahana.
Pada awalnya dia tidak terpikir akan menjadi wartawan kampus. Tidak memiliki minat di jurnalistik. Namun dengan ajakan dan persuasi senior di Bahana –Suhardi namanya– akhirnya dia berkecimpung menjadi jurnalis kampus. Aktivitas ini dinikmatinya. Dia mengaku bangga karena bisa mengenal banyak teman dan mengetahui informasi secara cepat serta bisa mengembangkan diri.
Kemampuan menyampaikan pendapat dalam setiap diskusi menampakkan dirinya sebagai orang yang aktif dalam menangapi masalah. Saat pelatihan maupun saat di dalam kelas. “Dia itu sekelas saya, sering sekali dia mengeluakan pendapat…, Di Bahana dia cukup aktif,” jelas Erliana, teman sekelas dan satu organisasi di Bahana.
Cita-citanya menjadi hakim direncanakan dengan akan memilih Program Studi Hukum Perdata. “Aku terinspirasi pamanku yang menjadi hakim ketika aku kecil hingga sekarang,” ujarnya.
Berbagai prestasi telah diraihnya. Walau tidak sesuai dengan akademik dan aktivitasnya sekarang, itu cukup bisa menandakan bahwa dia memiliki potensi yang besar. Menjadi yang terbaik pada pemilihan Model Iklan by Yoga Pratama entrepreneur, juara 2 pada lomba Model di Matahari Departemen Store Pekanbaru, dan yang paling dia banggakan adalah juara 3 pada lomba Fashion Dance di Mall Ciputra. “Walaupun ini juara 3, namun ini membutuhkan skill dan kemampuan karena pesertanya sangat banyak…,” ucapnya.
Dualismenya sebagai panitia dan peserta pada pelatihan ini, memesankan kepada seluruh peserta agar memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk belajar. “… kan segala sesuatu itu bukan waktu yang mengatur. Kita lah yang mengatur semuanya,” kilahnya.
Sesuatu itu merupakan proses, mulai dari hal kecil hingga besar, itu semua sangat berguna. Hal ini sesuai dengan mottonya, “Bekerja keraslah untuk menggapai sesuatu.”
“Selagi kita masih mengerjakan dan menjalan yang baik, terserah mereka mau bilang apa, yang penting yang kita berikan itu adalah fakta dan kenyataan,” tuturnya menanggapi bahwa wartawan sudah dianggap ‘jelek’. Dia menambahkan bahwa itu merupakan sebuah tantangan bagi para jurnalis.

*Penulis adalah anggota Pers Mahasiswa Kreatif Universitas Negeri Medan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar