Cinta Bahasa dan Sastra Indonesia
Sebuah Kreativitas, Inisiatif dan Abdi terhadap bahasa dan Sastra Indonesia
Sabtu, 24 September 2011
Guru Jabut
BUNYI nio-nio terdengar kuyup! Ketimpong gong kecil itu menyela haru rindu yang berlangsung di rumah Marapande. Bakda subuh tadi, Dorlan tiba di rumah Uda Marapande, adik kandung Ayahnya. Letih oleh perjalanan Jakarta-Medan dengan pesawat, dilanjutkan dengan bus ekonomi satu malam utuh, mendadak lenyap oleh peluk cium Uda Marapande dan istrinya, Bujing Ros. Lebih dari 15 tahun Dorlan tak mengunjungi rumah tempat ia menghabiskan masa kanak. Iyalah, Uda Marapande dan Bujing Ros tak sebugar dulu. Telikung garis usia memang tak mudah dikecoh.
Suara nio-nio makin menanjak ke telinga. Pemukulnya sudah pasti memikul seru-seruan bagi warga. Boleh jadi undangan untuk memufakatkan hal penting di sopo godang, balai adat. Namun, irama nio-nio yang tegas tapi berjeda lama, barang tentu akan menguarkan kabar dukacita. Dorlan, Uda Marapande dan Bujing Ros menyiagakan telinga.
“Telah berpulang ke rahmatullah Panangaran Bayo Angin, tutup usia kurang lebih empat puluh dua tahun. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah Opung Omas. Insya Allah, almarhum ke tanah hari ini juga, lepas sembahyang zuhur.”
Dengung nio-nio menikung ke kejauhan. Bujing Ros memanggil napas ke dada. Uda-nya bergegas menerobos kamar. Dorlan memicing-micing mata.
“Siapa itu Panangaran….”
“Tak ingat kau sama Guru Jabut?” Bujing Ros menyalip keheranan Dorlan.
“Gu…ru Jabut…,” Garis-garis dahi Dorlan melengkung, “Guru Jabut yang….”
“Iya, yang mengajari kau mengaji,” pangkas Bujing-nya.
“Mmh….”
“Alah, Guru Jabut. Pelupa kalilah kau ini.”
Dorlan tertegun, tapi bukan karena ia mati ingatan.
“Jadi, Pana…ngaran itu Guru Jabut?” Dorlan seperti mengais kepastian ke Bujing Ros. Istri Uda-nya itu berangguk-angguk.
“Mandilah kau dulu. Habis itu makan. Biarlah Uda-mu duluan turun ke rumah duka. Kalau kau mau takziah, nanti menyusul,” titah Bujing Ros. Dorlan setengah mengangguk, setengah menerawang. Sorot matanya dilemparkan ke bubungan rumah panggung yang tak berlangit-langit.
Mmh, Guru Jabut. Manalah bisa sosok itu dikelupas dari dinding masa kanak Dorlan….
.
GURU Jabut, lelaki bertampang letih, tapi berhati cerlang. Ia dibutuhkan, tapi juga diam-diam dipencilkan. Guru Jabut itu ringan tenaga, pesuruh yang pantang mengeluh. Jaga malam di ranum sawah-ladang warga ia lakukan. Menambal atap rumah yang bocor ia tunaikan. Upahnya? Kalau tak dengan beras sepungut-dua pungut, ya, boleh kasih seikat sayur, sebungkus rokok, atau apa saja. Tak berupah pun, Guru Jabut tak kapok.
Sudah itu, Guru Jabut paling rajin ke surau. Ia tekun pula jadi guru mengaji di beranda surau. Sebagian besar anak-anak kampung seumur anak SD, Guru Jabut pengajarnya. Ia fasih tajwid, mahir pula melagukan bacaan. Suara Guru Jabut, uih, merdu berkelok. Guru Jabut tak hanya mengajar baca Quran, tapi juga memandikan sekaligus sembahyang mayit. Lantas, anak laki-laki dibimbingnya mengumandangkan bahang alias azan, juga jadi imam. Bisa dikatakan, Guru Jabut tak ambil keuntungan besar, terlebih-lebih uang, dari jasa mengajar. Lalu? Ya, itu tadi. Pokoknya para orang tua jarang merogoh saku. Guru Jabut cuma disodori beras, rencah lauk, rokok, bahkan tak sama sekali.
Benarkah Guru Jabut melakukannya tanpa pamrih? Soal itu, tanya saja Tuhan. Tapi, kalau Guru Jabut lama tak muncul di surau, tiada lain karena penyakitnya yang kumat, bukan sebab mogok tak terima upah. Kalau sudah kumat, lamanya bisa berbilang hari, bahkan berbilang minggu. Konon, Guru Jabut mengidap sakit jiwa kambuhan. Penyakit turun-temurun, kata orang-orang. Tak jarang, dalam sakitnya, Guru Jabut berceracau tak tentu hilir. Gubuknya yang compang-camping, 2 x 3 meter, berlantai tanah, berdinding tepas, beratap rumbia itu, bakal berantakan. Kendati demikian, kalau pun sedang dirundung gangguan jiwa, Guru Jabut tak pernah keluyuran, apalagi sampai mengacau di surau. Lantas, siapa yang mengurusnya? Ya, ia sendiri! Pula keluarganya sudah sejak lama hijrah ke kampung lain. Paling, Opung Omas, nenek Guru Jabut, yang sesekali datang menjenguknya. Ouh, jangan harap warga mau peduli terhadap upaya kesembuhannya.
Oya, sebentar, mengapa ia dipanggil Guru Jabut? Bukankah nama akikahnya Panangaran Bayo Angin? Dipanggil Guru, mungkin karena ia guru mengaji. Mmh, Jabut? Itu sabut kelapa! Lazimnya, tak akan ada orang kampung yang sudi digelari Jabut. Adapun jabut kerap dikaitkan dengan tahi ayam. Tiada benda yang paling dicari untuk menjumput unggun tahi ayam kecuali Jabut. Selain itu, kalau seseorang sudah diseru Jabut, tak lain untuk menyatakan bahwa seseorang itu tak berguna. Tapi Guru Jabut tak pernah mengeluh. Ia malah berkelakar, “Kalau tak ada Jabut, bah, alamat kampung kita banjir tahi ayam. Matilah kita!”
Mmh, Guru Jabut memang menyimpan sakit, tapi tidak hatinya. Ia tak pandai sakit hati. Padahal sering warga berginju gunjing: tak waras itu Guru Jabut! Tapi, anak-anak mereka belajar mengaji pada Guru Jabut juga. Bah! Ya, pada siapa lagi? Di kampung itu, banyak pemuda yang tamatan sekolah agama, tapi dengan berliuk alasan, enggan jadi guru mengaji.
Namun begitulah, warga punya gunjing, Guru Jabut punya senyum. Tetap dituntunnya anak-anak kampung belajar agama, meski para orang tua mereka menjewer telinga Guru Jabut dengan cibiran. Ah, tapi Guru Jabut tak paham kaji benci. Senantiasa riang hatinya memangku anak-anak. Padahal, tingkah anak-anak pun tak selalu diminyaki pekerti. Alah, macam tak tahu saja perilaku anak-anak.
Ha-ah. Biasanya, menjelang asar, anak-anak sudah kumpul di surau. Keriuhan pun pecah! Apalagi, cuma anak-anak yang memakmurkan surau di masa asar. Kebanyakan orang-orang dewasa masih sibuk di sawah, suntuk di ladang. Nah, pas masuk waktu, seusai Guru Jabut menyalakan pengeras suara, kontan sejumlah anak lelaki bakal berebut meledakkan suara di corong mikrofon. Barang tentu, kegaduhan sengketa suara menebar ke segenap penjuru kampung. Tak ayal, sasaran amarah Lobe Torop, pengurus surau, ya, Guru Jabut. Tapi, amarah Lobe Torop dibalas Guru Jabut dengan seringai kekeh.
O, tapi, pernah suatu kali, Guru Jabut diserapahi Lobe Torop tanpa ampun. Pasalnya, ada dua anak didiknya yang berebut mengumandangkan bahang asar. Sebab tak ada yang mau mengalah, Guru Jabut menyuruh keduanya bahang estafet. Seperdua lafaz bahang, tugas yang satu, separuh lagi ditunaikan yang satunya. Bayangkan, seperti apa wujud kumandang bahang oleh dua suara yang berlainan? Guru Jabut pun masuk buku hitam! Ia dilarang bergiat di surau, kalau tak salah, lebih dari sebulan.
Namun, Guru Jabut seolah tak dapat diceraikan dari surau, tak tahan lama-lama terberai dari anak-anak, sekalipun harus menahankan guit keusilan. Cobalah, pada sebuah peristiwa sembahyang asar, baru saja Guru Jabut menghela kedua tangan ke dada usai takbir pertama, di situ pula anak-anak meninggalkan saf. Jadilah Guru Jabut sembahyang seorang diri, jadi imam sekaligus makmum! Untung lidah Guru Jabut tak fasih mencecarkan kalimat murka. Tapi, ei, bukan ia tak punya hukuman. Seluruh anak lelaki terhukum dideretkan di saf pertama, diberi tugas jadi imam secara bersamaan. Gantian, Guru Jabut sebagai makmum. Selepas rampak suara takbir pertama, Guru Jabut menjiplak perilaku anak didiknya: pergi meninggalkan saf sambil dicekik-cekik kegeliannya sendiri. Tapi, meski demikian, anak-anak tak pernah memontennya: sakit jiwa!
Lain pula tingkah anak-anak sewaktu praktik sembahyang mayit. Anak-anak baru berkenan menunaikan sembahyang mayit kalau Guru Jabut bersedia jadi mayitnya. Nah, siapa pun yang dapat giliran imam, akan dengan sengaja memercik-mercikkan ludah saat mengeja bacaan. Tentulah wajah Guru Jabut ditempiasi ludah. Kalau sudah begitu, Guru Jabut bakal melindungi wajahnya dengan tangan sambil memelas, “Amangoi, janganlah ludahi aku! Meludah itu bukan bagian dari khusyuk!”
Namun, keusilan anak didiknya tak sampai di situ. Mendengar Guru Jabut memelas, mereka pun melonjak, pura-pura terperanjat, terus meledaklah pikuk-gelak yang tindih-menindih, “Hoi, mayitnya hidup. Ada mayit hidup. Tolong! Lari! Lari!”
Ups, demi mendamaikan kekacauan, Guru Jabut memilih menanggungkan hujan ludah dari sejumlah anak didiknya. Tapi, Guru Jabut tak pernah bersurut hati. Tabungan kasih sayangnya terhadap anak-anak selalu berlimpah. Pun anak-anak, sesungguhnya menaruh hormat pada Guru Jabut. Mereka tetap setia berimam pada Guru Jabut. Hal yang tak dilakukan sebagian besar warga dewasa di kampung itu.
Tengok saja saban magrib. Ya, para orang tua di kampung itu kan kerap telat berangkat ke surau. Maka Guru Jabut selalu pula berinisiatif berdiri di hulu saf, dan anak-anak yang jumlahnya tak lagi sebanyak asar jadi makmum yang pura-pura serius. Namun, sembahyang jemaah yang diimami Guru Jabut, tak bakal diikuti jemaah dewasa yang terlambat.
“Dari mana pula jalannya, he, orang gila jadi imam,” desis Haji Ringgas, seorang alim sepuh di kampung itu. Maka, di satu surau, berlangsunglah dua sembahyang berjemaah secara bersamaan. Separah itu? Rasa-rasanya, tak perlu lagi dikisahkan bagaimana sikap kekanak-kanakan yang terselempang di tubuh para orang dewasa di kampung itu.
.
RUMAH duka lengang. Tak terdengar sayup andung, ratap tangis. Mungkin karena mayit sudah diangkut ke bilik pemandian. Di halaman rumah bertanah miring, terdapat beberapa pentakziah berwajah enggan. Sekuat ingatan, Dorlan berupaya mengeja wajah setiap pelayat. Mana tahu, meski lupa nama, tapi hapal rupa. Sesekali Dorlan mendapati Uda Marapande hilir-mudik. Eh, siapa lelaki tua berlangkah limbung itu, bukankah ia Lobe Torop? Dorlan menyemai tanya sekaligus menuai jawab di hatinya sendiri.
Sambil memindah-mindah toleh, Dorlan melepas sapa, menyodorkan salam ke sesama hadirin belasungkawa. Namun, tatapan ganjil balasan yang diterima. Wajar, bujuk Dorlan pada hatinya. Tak ada lagi waktu baginya untuk mengisahkan bahwa belasan tahun lampau ia tinggal di kampung itu. Ia anak Baginda Hatoguan yang karena sering berpindah dinas, memilih menitipkan putranya pada sang adik, Marapande. Lalu, bersebab sudah mapan bermukim di Jakarta, Baginda Hatoguan menagih kembali anak lelakinya.
Ah, sudahlah, sembari menunggu mayit selesai dimandikan, Dorlan turut bercakap-cakap di bawah rerak tenda duka. Dari perbincangan yang tawar, Dorlan berhasil juga mengantungi satu-dua kabar. Ramlan, teman sebaya Dorlan sekaligus saingannya berebut bahang semasa kanak sudah jadi mualim di sebuah pesantren. Ia bahagia mendengarnya. Napasnya lapang. Tapi, dada Dorlan mendadak sempit ketika mengetahui Guru Jabut menghembuskan napas penghabisan di bawah cengkeraman pasung. Katanya, sejak tujuh tahun lalu Guru Jabut terpaksa dipasung karena dinilai mengganggu ketenteraman.
Dorlan bergegas naik ke rumah duka. Untung ia masih sempat menyaksikan Guru Jabut sebelum digelung kain kafan. Guru Jabut tampak lebih tua dari usianya. Tapi Dorlan tak menemukan garis-garis penderitaan di cekung wajahnya, meski tak pula wajah itu dinaungi senyum. Air mata Dorlan terbit.
Matahari makin naik menurutkan lengkung langit. Jenazah siap-siap diusung ke surau untuk disembahyangkan. Upacara pelepasan jenazah kelihatan sekenanya saja. Dorlan ikut menandu keranda saat jenazah Guru Jabut bergerak dari rumah duka. Pemberangkatan yang dingin, batin Dorlan! Pengiring jenazah pun tak lebih banyak dari pemikul keranda. Ke mana warga kampung? Tertambat di sawah atau terkurung di ladang? Atau sudah lebih dulu berkerumun di surau?
Tapi, kenyataannya, surau tak berkawan kala menyongsong jenazah Guru Jabut. Dorlan terbenam dalam cenung, sampai-sampai tak sadar kalau ia sudah khatam menunaikan sembahyang zuhur berjemaah. Dorlan baru angkat kesadaran tatkala bilal mayit berseru-seru: siapa sanak yang sudi jadi imam? Tapi jemaah cuma sudi bertikai pandang, mengundak-undak gerik bahu.
Di sela senyap, Dorlan meninggalkan saf, melangkah ke bibir keranda. Ia sempurnakan tekuk kepala. Sedang sebagian besar jemaah di belakangnya masih berdongak-dongak kepala; siapa gerangan pemuda yang jadi imam itu? Tapi, Dorlan terlanjur khusyuk untuk meladeni keheranan tersebut.
Sumpah, tak pernah Dorlan sekhusyuk ini. (*)
.
.
Griya Sakinah Medan, 2011
Hasan Al Banna lahir di Padangsidempuan, Sumatera Utara, 3 Desember 1978. Buku cerita pendeknya, Sampan Zulaiha (2011). Bekerja di Balai Bahasa Medan dan mengajar sastra di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan.
Di bawah pohon mahoni kampus serambi,
di alun-alun terbuka sebuah ranah,
kala rindu menepi membangun dermaga,
pada jiwa yang tumbuh dari bumi,
dalam senyum merekah yang bisa dipetik dari ladang,
pada aroma satu jiwa yang telah hilang,
kuakui aku rindu padamu…
Teringat kisah bersama kalian, dulu membuihkan mulut mengeja tuk berlatih. Di bawah pohon rindang Unimed, ngumpul uang lima ribu lima ribu untuk membeli kemek-kemek. Dari sudut jalan terlihat tergesa-gesa Sri dkk. yang sudah terlambat, tetapi tetap ditunggu, karena kalau mereka tak datang, tak khusuk rasanya. Dan Sri pun berucap, “Maap ya baru siap kuliah juga.”
Per dua minggu, menggelar karpet di belakang UMSU, di bawah pohon belimbing, meneduhkan rindu pada pena. Sesekali menjajah sekretariat BEM FKIP UMSU menemu tawa. Di situ pula, aku sering terlambat, “Sori,aku terlambat lagi woi…,” selepas itu kusambung lagi, “hehheheheheeee.”
Sayum Sabah menjadi saksi menulis di tengah sungai pada atas batu, menulis puisi bersambung ketika basah oleh air hulu. Malam itu kita menimba cerita dengan beliau. Siapa yang tak menemu baru ketika membaca puisi di bawah pohon coklat. Eh, kala petang bermain diiringi musik. Dan pulang diguyur hujan. Oi, jadi terlambat nyampe di rumah. Dalam hati, “Mudah-mudahan aja adek-adek ni gak pada dimarahni setelah nyamper rumah.”
Berjalan masa pada alam, rindu beralih pada sudut taman budaya. Dari situ disulam jejak-jejak penemu tulis. Sempat aku berkilah, “Kita harus mengembangkan ‘sayap’, pelatihan di kampus masing-masing. Kita buat aja Kompak Unimed, Kompak UMSU, Kompak Nomensen,” Namun dengan teguh dijawab oleh Sri, “Tidak! Kita harus tetap satu! Kita pelatihan di sekretariat. Ya, di Taman Budaya ini.”
Rudi Saragih
| Reaksi: |
Kamis, 14 Oktober 2010
lomba cerpen 2010
ni ada lomba!
Ayo, gali potensi! Asah kemampuan! Atau apapun namanya….. coba dulu deh….
[orang lain aja bilang kamu bisa kok. Ya, pasti bisa n memang bisa!]
[Ayo tunjukkan kawan…. Tindakanmu buktinya tu….]
===================================================================================
Kompak Festival Puisi dan Cerita Pendek Indonesia
“Menggali Potensi dan Kreativitas Generasi Muda dalam Bersastra”
25-27 November 2010
Mengadakan Lomba:
1. Cipta Cerpen untuk umum (usia 15-25 tahun)
Persyaratan:
- Banyak naskah 5000-8000 karakter
- Tema bebas
- Uang pendaftaran Rp. 15000,
2. Cipta Puisi untuk umum (usia 15-25 tahun)
Persyaratan:
- Tema bebas
- Uang pendaftaran Rp. 15000
3. Lomba Baca Puisi untuk umum (usia 15-25 tahun)
Persyaratan:
- uang pendaftaran Rp. 15.000, tema bebas
4. Cipta Cerpen khusus anggota KOMPAK
Persyaratan:
- Banyak naskah 5000-8000 karakter
- Tema budaya local
5. Workshop Cerita Pendek
- Biaya pendaftaran Rp. 10.000
6. Pameran Cerita Pendek
7. Bazar Buku Antologi Cerpen dan Puisi
Persyaratan Umum:
- Berkas rangkap 3, menyertai soft copy di CD, biodata, dan foto JPG ukuran minimal 1000×2000
- Diketik kertas A4, Times New Roman, huruf 12, 1 ½ spasi
- Berkas dikirim ke rudisaragih@ymail.com, atau wahyu_wiji@yahoo.com dan dapat pula dikirim langsung ke sekretariat Taman Baca setiap sabtu pukul 15.30-17.30
- Uang pendaftaran dapat dikirim kerekening BNI 46 dengan No. 0137031319 atas nama Ria Ristiana Dewi
Informasi lebih tepat hubungi:
Rudi Hartono Saragih 081260980286 || Zuliana Ibrahim 085277042241
Dani Sukma 085762691247 || Erni Wirda Ningsih 081990504418
Batas akhir pendaftaran 30 oktober 2010 pukul 00.00
diselenggarakan oleh KOMPAK bersama LABSAS
============================================================================
teknik menulis esai
Tulisan prosa berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek / bidang kehidupan. Tulisan ini mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan analisis, sintesis dan kesimpulan yang khas dari penulisnya.
Langkah-langkah membuat Esai
1. Mulailah dengan Semangat! Dan jangan melemahkan diri anda katakana pada diri anda
“Ayo … (sebutkan nama anda) kamu pasti bisa!”
2. Tentukan topik
Topik yang ditentukan harus spesifik, kreatif, dan inovatif. Pikirkan tujuan dan potensi (pengaruh) topik
[gak usah berpikir menulis yang besar, yang kecil aja asal pasti.]
3. Tuliskan Garis besar ide-ide dan struktur ide
Identifikasi secara umum apa yang akan dituliskan
4. Identifikasi dengan hal-hal yang berhubungan
5. Buat lead
Kalimat pengantar yang membuat orang tertari pada kesan pertama membaca
6. Kembangkan ide
7. Buatlah beberapa sub topic untuk pembahasan lebih mendalam
8. Kembangkan sub topik yang telah anda buat
9. buat Sintesis-nya
Perpaduan masalah, analisis serta ide/gagasan
10. Berikan sentuhan terakhir
Pilih mana data dan informasi menarik, paling kuat hingga setelah membaca tulisan anda pembaca penasaran untuk membahas lebih dalam
11. Baca kembali [editing akhir]
12. Baca kembali [perbaiki] selanjutnya baca kembali [dan tersenyumlah dan katakan “yes! Selesai!]
Membuat tulisan tentunya berdasarkan wawasan dan pengalaman. menulis non fiksi berupa menyampaikan gagasan dengan kemampuan intelektual dalam bentuk tulisan.
| Reaksi: |
Minggu, 05 September 2010
Ejaan Jiwa
katupuk
Kau baru saja mengungkapkan ilmu padi diantara orang kerdil
Dalam malam guratan evaluasi terpahat kemilau, sahabat
Dari jiwa-jiwa sedih hari kemarin
Kita telah membubut kebersamaan
Dalam perjalanan hari lalu
Kita tersenyum bersama bunga-bunga pagi
Ada segala rasa dalam sahabat
Aku besar tak lepas dari batinku yang telah bercampur keringatmu
Tak bisa aku pungkiri itu
Walau embun pagi juga belum turun
Pedebatan kita malam ini menguak untaian makna
Walau matahari belum berbagi sinar
Tapi sinar sahabat cemerlang diantara gelapnya jiwa
Mega malam telah bersama kita
Ada sebuah bintang yang memberi semangat
Aku bangga kala semangat malam ini
Kembali ada arus menuju ketinggian,
Dan itu,
Nurani kita
Semangatku, semangatmu, semangat kita!
Terukir dalam bulan suci, bulan penuh berkah
Hingga akhir nanti kita bisa tersenyum
Setelah mengalami lapar dan haus dalam garapan pemuda tahan lapar
Garputala sebutannya
Hari kemarin bisa diingat dan dilantunkan
Sedih kemarin hikmah hari ini
Menjadi semangat hari depan
Jangan katakana kata “aduh” dalam deretan katamu
Tertuju semua situasi dan kondisi,
Ejalah semangat dalam tantangan,
bukan dalam masalah
Pun dalam sela-sela nafas di balik udara
Selama kita hidup, satu harapanku terpenting
Selama aku ada
jangan umbarkan, jangan lakukan deretan kata itu:
pergi…!
Enyahkan itu sahabat!
Jadikan semangat dalam diri.
Lantai tiga 7naga
Memberi guratan cinta dalam sahabat
Semangat dalam sahabat
Rasa dalam sahabat
Berharap awan berhembus menuju cahaya di timur
Tembung, Lt 3 7naga 03:00
3 Ramadhan 1431 H
Selasa, 17 Agustus 2010
Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna,
sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut
adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode
pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model
pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat
memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu
proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi,
menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat
dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan
(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam
strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003)
mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan
sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan
selera masyarakat yang memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling
efektif untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh
sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran
(standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan
profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang
dipandang paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan
teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria
dan ukuran baku keberhasilan.
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1)
pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru
(teacher centered approach).
1. Pendekatan Expository
Pendekatan Expository menekankan pada penyampaian informasi yang
disampaikan sumber belajar kepada warga belajar. Melalui pendekatan ini sumber belajar
dapat menyampaikan materi sampai tuntas. Pendekatan Expository lebih tepat digunakan
apabila jenis bahan belajar yang bersifat informatif yaitu berupa konsep-konsep dan
prinsip dasar yang perlu difahami warga belajar secara pasti. Pendekatan ini juga tepat
digunakan apabila jumlah warga belajar dalam kegiatan belajar itu relatif banyak.
Pendekatan expository dalam pembelajaran cenderung berpusat pada sumber
belajar, dengan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) adanya dominasi sumber belajar
dalam pembelajaran, 2) bahan belajar terdiri dari konsep-konsep dasar atau materi yang
baru bagi warga belajar, 3) materi lebih cenderung bersifat informasi, 4) terbatasnya
sarana pembelajaran.
Langkah-langkah penggunaan pendekatan Expository
a. Sumber belajar menyampaikan informasi mengenai konsep, prinsip-prinsip dasar
serta contoh-contoh kongkritnya. Pada langkah ini sumber belajar dapat
menggunakan berbagai metode yang dianggap tepat untuk menyampaikan informasi
b. Pengambilan kesimpulan dari keseluruhan pembahasan baik dilakukan oleh sumber
belajar atau warga belajar atau bersama antara sumber belajar dengan warga belajar
Keuntungan dari penggunaan pendekatan Expository adalah sumber belajar dapat
menyampaikan bahan belajar sampai tuntas sesuai dengan rencana yang sudah
ditentukan, bahan belajar yang diperoleh warga belajarnya sifatnya seragam yaitu
diperoleh dari satu sumber, melatih warga belajar untuk menangkap, manafsirkan materi
yang disampaikan oleh sumber belajar, target materi pembelajaran yang perlu
disampaikan mudah tercapai, dapat diikuti oleh warga belajar dalam jumlah relatif
banyak.
Disamping kebaikan ada juga kelemahannya yaitu pembelajaran terlalu berpusat
kepada sumber belajar sehingga terjadi pendominasian kegiatan oleh sumber belajar yang
mengakibatkan kreatifitas warga belajar terhambat. Kelemahan lain yaitu sulit
mengetahui taraf pemahaman warga belajar tentang materi yang sudah diberikan, karena
dalam hal ini tidak ada kegiatan umpan balik.
Untuk mengatasi kelemahan pendekatan ini harus ada usaha dari sumber belajar
tentang jenis metode yang digunakan yaitu setelah penyampaian informasi selesai harus
ada tindak lanjutnya yaitu dengan menggunakan metode bervariasi yang sekiranya
memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk mengemukakan permasalahan atau
gagasannya yang ada kaitannya dengan materi yang sudah diberikan.
2. Pendekatan Inquiry
Istilah Inquiry mempunyai kesamaan konsep dengan istilah lain seperti
Discovery, Problem solving dan Reflektif Thinking. Semua istilah ini sama dalam
penerapannya yaitu berusaha untuk memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk
dapat belajar melalui kegiatan pengajuan berbagai permasalahan secara sistimatis,
sehingga dalam pembelajaran lebih berpusat pada keaktifan warga belajar. Dalam
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Inquiry, sumber belajar
menyajikan bahan tidak sampai tuntas, tetapi memberi peluang kepada warga belajar
untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan menggunakan berbagai cara
pendekatan masalah. Sebagaimana dikemukakan oleh Bruner bahwa landasan yang
mendasari pendekatan inquiry ini adalah hasil belajar dengan cara ini lebih mudah
diingat, mudah ditransfer oleh warga belajar. Pengetahuan dan kecakapan warga belajar
yang bersangkutan dapat menumbuhkan motif intrinsik karena warga belajar merasa puas
atas penemuannya sendiri.
Pendekatan Inquiry ditujukan kepada cara belajar yang menggunakan cara
penelaahan atau pencarian terhadap sesuatu objek secara kritis dan analitis, sehingga
dapat membentuk pengalaman belajar yang bermakna. Warga belajar dituntut untuk
dapat mengungkapkan sejumlah pertanyaan secara sistimatis terhadap objek yang
dipelajarinya sehingga ia dapat mengambil kesimpulan dari hasil informasi yang
diperolehnya. Peran sumber belajar dalam penggunaan pendekatan Inquiry ini adalah
sebagai pembimbing/fasilitator yang dapat mengarahkan warga belajar dalam kegiatan
pembelajarannya secara efektif dan efisien.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dengan menggunakan pendekatan Inquiry
yaitu sebagaimana dikemukan oleh A.Trabani :
a. Stimulation : Sumber belajar mulai dengan bertanya mengajukan persoalan atau
memberi kesempatan kepada warga belajar untuk membaca atau mendengarkan
uraian yang memuat permasalahan
b. Problem Statement : Warga belajar diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai
permasalahan. Permasalahan yang dipilih selanjutnya harus dirumuskan dalam
bentuk pertanyaan atau hipotesis
c. Data Collection : Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya
hipotesis itu, warga belajar diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai
informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objeknya, mewawancarai
nara sumber, uji coba sendiri dan sebagainya.
d. Data Processing : Semua informasi itu diolah, dilacak, diklasifikasikan, ditabulasikan
kalau mungkin dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat
kepercayaan tertentu.
e. Verification : Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran atau informasi yang ada
tersebut, pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian
dicek terbukti atau tidak.
f. Generalization : Berdasarkan hasil verifikasi maka warga belajar menarik
generalisasi atau kesimpulan tertentu.
Adapun langkah secara keseluruhan mulai dari perencanaan sampai evaluasi
tentang penggunaan pendekatan Inquiry adalah sebagai berikut :
a. Kegiatan pemberian dorongan : Kegiatan ini ditujukan untuk menarik perhatian
warga belajar dan mengungkapkan hubungan bahan belajar yang akan dipelajari
dengan bahan belajar yang sudah dikuasai atau dalam keseluruhan bahan belajar
secara utuh
b. Kegiatan penyampaian rencana program pembelajaran. Kegiatan ini ditujukan untuk
mengungkapkan rencana program pembelajaran, termasuk prosedur pembelajaran
yang harus diikuti oleh warga belajar
c. Proses inquiry. Pelaksanaan pembelajaran dapat mengikuti langkah-langkah sebagai
berikut :
1) Pengajuan permasalahan
2) Pengajuan pertanyaan penelitian atau hipotesis
3) Pengumpulan data
4) Penarikan kesimpulan
5) Penarikan generalisasi
d. Umpan balik. Kegiatan ini ditujukan untuk melihat respon warga belajar terhadap
keseluruhan bahan belajar yang telah dipelajari
e. Penilaian. Kegiatan penilaian dilakukan oleh sumber belajar baik secara lisan
maupun tertulis dan atau penampilan.
Dalam penggunaan pendekatan Inquiry, Sumber belajar perlu memperhatikan halhal
sebagai berikut :
a. Warga belajar sudah memiliki pengetahuan konsep dasar yang berhubungan dengan
bahan belajar yang dipelajari
b. Warga belajar memiliki sikap dan nilai tentang keraguan terhadap informasi yang
diterima, keingintahuan, respek terhadap penggunaan fikiran, respek terhadap data,
objektif, keingintahuan dalam pengambilan keputusan, dan toleran dalam
ketidaksamaan
c. Memahami prosedur pelaksanaan penggunaan strategi pembelajaran Inquiry
Apabila pendekatan Inquiry digunakan dalam kegiatan pembelajaran maka
banyak kelebihan yang diperoleh, diantaranya yaitu :
a. Menumbuhkan situasi keakraban diantara warga belajar, karena diberi kesempatan
untuk saling berkomunikasi dalam memecahkan suatu permasalahan
b. Membiasakan berfikir sistimatis dan analitis dalam mengajukan hipotesis dan
pemecahan masalah
c. Membiasakan berfikir objektif dan empirik yang didasarkan atas pengalaman atau
data yang diperoleh
d. Tumbuhnya suasana demokratis dalam pembelajaran
e. Dapat menambah wawasan bagi warga belajar dan sumber belajar karena terjadi
saling tukar pengalaman
Disamping kelebihan dari pendekatan ini juga tidak lepas dari kelemahan yang
mungkin timbul dalam proses pembelajaran yaitu apabila tidak ada kesiapan dan
kemampuan dari warga belajar untuk memecahkan permasalahan maka tujuan
pembelajaran tidak akan tercapai, juga kemungkinan akan terjadi pendominasian oleh
beberapa orang warga belajar yang sudah biasa dalam hal mengemukakan pendapat.
Untuk mengurangi permasalahan yang mungkin muncul, sumber belajar dituntut
memiliki kemampuan dalam hal membimbing dan mengarahkan warga belajar supaya
mereka dapat mengembangkan kemampuannya sesuai dengan potensi yang sudah
dimilikinya.
Pengertian Strategi
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke
dalam strategi pembelajaran. Strategi dalam kegiatan pembelajaran dapat diartikan dalam
pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Dalam pengertian sempit bahwa
istilah strategi itu sama dengan pengertian metode yaitu sama-sama merupakan cara
dalam rangka pencapaian tujuan. Dalam pengertian luas sebagaimana dikemukakan
Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur
strategi dari setiap usaha, yaitu:
1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan
sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera
masyarakat yang memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling
efektif untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh
sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran
(standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil
perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang
paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan
teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan
ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa
agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan
mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi
pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya
masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu
pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian
pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning
(Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara
pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran
induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
METODE PEMBELAJARAN
Metode merupakan langkah operasional dari strategi pembelajaran yang dipilih
dalam mencapai tujuan belajar, sehingga bagi sumber belajar dalam menggunakan suatu
metode pembelajaran harus disesuaikan dengan jenis strategi yang digunakan. Ketepatan
penggunaan suatu metode akan menunjukkan fungsionalnya strategi dalam kegiatan
pembelajaran.
Istilah metode dapat digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, sebab secara
umum menurut kamus Purwadarminta (1976), metode adalah cara yang telah teratur dan
terfikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud. Sedangkan menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode berasal dari
kata method (Inggris), artinya melalui, melewati, jalan atau cara untuk memeroleh
sesuatu.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas jelas bahwa pengertian Metode pada
prinsipnya sama yaitu merupakan suatu cara dalam rangka pencapaian tujuan, dalam hal
ini dapat menyangkut dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, maupun keagamaan.
Unsur–unsur metode dapat mencakup prosedur, sistimatik, logis, terencana dan aktivitas
untuk mencapai tujuan. Adapun metode dalam pembahasan ini yaitu metode yang
digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya
yang sistimatik dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar kegiatan
pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dalam kegiatan pembelajaran
tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar,
sehingga untuk melaksanakan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam
pelaksanaannya. Interaksi dalam pembelajaran tersebut dapat diciptakan interaksi satu
arah, dua arah atau banyak arah. Untuk masing-masing jenis interaksi tersebut maka jelas
diperlukan berbagai metode yang tepat sehingga tujuan akhir dari pembelajaran tersebut
dapat tercapai.
Metode dalam pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk
menyampaikan materi saja, sebab sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran
mempunyai tugas cakupan yang luas yaitu disamping sebagai penyampai informasi juga
mempunyai tugas untuk mengelola kegiatan pembelajaran sehingga warga belajar dapat
belajar untuk mencapai tujuan belajar secara tepat. Jadi, metode pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut maka kedudukan metode dalam pembelajaran
mempunyai ruang lingkup sebagai cara dalam:
1. Pemberian dorongan, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam rangka
memberikan dorongan kepada warga belajar untuk terus mau belajar
2. Pengungkap tumbuhnya minat belajar, yaitu cara dalam menumbuhkan rangsangan
untuk tumbuhnya minat belajar warga belajar yang didasarkan pada kebutuhannya
3. Penyampaian bahan belajar, yaitu cara yang digunakan sumber belajar dalam
menyampaikan bahan dalam kegiatan pembelajaran
4. Pencipta iklim belajar yang kondusif, yaitu cara untuk menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan bagi warga abelajar untuk belajar
5. Tenaga untuk melahirkan kreativitas, yaitu cara untuk menumbuhkan kreativitas
warga belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya
6. Pendorong untuk penilaian diri dalam proses dan hasil belajar, yaitu cara untuk
mengetahui keberhasilan pembelajaran
7. Pendorong dalam melengkapi kelemahan hasil belajar, cara untuk untuk mencari
pemecahan masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk
mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan
kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan
metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan
untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2)
demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7)
brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
TEKNIK PEMBELAJARAN
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.
Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan
seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan,
penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak
membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan
penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula,
dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas
yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal
ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
TAKTIK PEMBELAJARAN
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan
metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat
dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat
berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung
banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi,
sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak
menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu.
Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing
guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang
bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga
seni (kiat)
MODEL PEMBELAJARAN
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik
pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa
yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya
merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan
secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau
bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan
dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model
pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3)
model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian,
seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi
pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat
divisualisasikan sebagai berikut:
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain
pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan
prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk
kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah
ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah,
strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak
dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing
akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah
menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang
diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya,
mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang
akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara
profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang
memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan
menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para
guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran,
yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun
penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika
para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang
merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan
di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan
mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata
di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model
pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya
khazanah model pembelajaran yang telah ada.
=> Dikutip dari berbagai sumber
Jumat, 13 Agustus 2010
Universitas yang Sesungguhnya
Rudi Hartono Saragih
“Nanti lama tamatnya.” Kata-kata itu yang selalu terucap dari mahasiswa yang tidak ingin mengecap organisasi di kampus. Cara pandang ini mengkambinghitamkan organisasi sebagai penyebab lamanya menyelesaikan studi. Tidakkah terpikir bahwa semua itu sangat erat kaitannya dengan manajemen pribadi dalam menjalankan tugas akademisi?
Momok ini memang terbentuk ketika mengetahui lama tamatnya para organisator yang sering disebut aktivis. Namun perlu dikaji ulang latar belakang penyebab masalah tersebut. Tidak hanya itu, ketakutan dipersulit dosen juga tidak terenyahkan oleh orang yang disebut agen perubahan ini.
Kenyataannya memang ada aktivis yang lama tamat, namun itu karena ada kesibukan di sela-sela kuliah. Paradigma ini memang tidak banyak diterima. Dalam hal ini, memaknai ’universitas yang sesungguhnya’ masih sangat beragam. Sebagai tempat mempersiapkan diri untuk terjun secara profesional ke lingkungan masyarakat, institusi ini memberikan pengetahuan dan pengalaman. Dalam ranah pengalaman inilah organisasi memberikan kontribusi yang paling besar. Wadah ini yang acap kali membentuk manajemen diri dan kelompok serta karakter dan berbagai pengalaman menarik.
Ketika di bangku kuliah kemampuan kognitif telah dipenuhi, maka secara umum kemampuan afektif dan psikomorik lebih diasah di organisasi. Dalam hal ini, kuliah dan organisasi saling terikat. Kuliah akan lebih sempurna ketika diikuti organisasi, serta sebaliknya.
Tentunya salah juga, ketika organisasi sampai menghambat kuliah sebagai aktivitas primer
Minggu, 11 Juli 2010
Karya di Ujung Pena
1. cerpen
Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Artefak”
Judul Cerpen : Sehelai sirih
Halaman : 114-120
Penerbit : Laboritorium Sastra Medan (Labsas) tahun 2008
ISBN : 978-979-16205-6-7
2. cerpen
Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Para Penanti”
Judul Cerpen : Badai di Pinggir Jalan Bulan di Tepi Jurang
Halaman : 83-87
Penerbit : Mentiko Publisher tahun 2008
ISBN : 978-602-95059-01
3. cerpen
Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Cermin”
Judul Cerpen : Semangat Ratapan
Halaman : 133-140
Penerbit : Laboritorium Sastra Medan (Labsas) tahun 2009
ISBN : 978-979-16205-8-1
4. feature
Judul Buku : Kumpulan Feature Human Interest “Pencari”
Judul Cerpen : Bukan Pekerjaan Pokok Bukan Pekerjaan Sampingan
Halaman : 109-112
Penerbit : Pers Mahasiswa Kreatif Universitas Negeri Medan tahun 2010
ISBN : 978-602-96992-0-3
5. puisi
Judul Buku : Kumpulan Puisi “Suara Peri dan Mimpi”
Judul Puisi : - Murka
- Pengabdian
Halaman : 79-80
Penerbit : Laboritorium Sastra Medan (Labsas) tahun 2009
ISBN : 978-979-16205-7-4
Daftar 10 piagam dan sertifikat pilihan (terbaik)
1. Piagam penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dalam menulis karya tulis ilmiah pemuda tingkat nasional tahun 2007
2. Piagam penghargaan dari Rektor Universitas Negeri Medan sebagai mahasiswa berprestasi Unimed tahun 2009
3. Piagam penghargaan sebagai penulis dalam buku “PENCARI” Kumpulan Feature Human Interest tahun 2010
4. Piagam penghargaan sebagai juara harapan I pada Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) FBS Unimed tahun 2008
5. Piagam penghargaan sebagai juara II Sayembara Penulisan Esai Tingkat Mahasiswa se-Sumatera Utara oleh Balai Bahasa Medan tahun 2009
6. Sertifikat sebagai juara II Penulisan Artikel pada acara Bulan Bahasa di FBS Unimed tahun 2008
7. Sertifikat sebagai peserta terbaik peringkat I pada pemilihan Mahasiswa berprestasi Universitas Negeri Medan tahun 2009
8. Sertifikat Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tahun 2008
9. Sertifikat peserta pendidikan dan pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut Se-Sumatera di Pekanbaru tahun 2010
10. Sertifikat peserta Pendidikan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional tahun 2008 di Palembang.
Daftar Riwayat Hidup
Nama : Rudi Hartono Saragih
T.T.L : Sipolin, 26 Desember 1986
Alamat : Jln. Sukaria no. 100 Pancing, Medan 20222
Agama : Islam
Jenjang Pendidikan Terakhir:
Jenjang studi Strata 1 (S-1)
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FBS Universitas Negeri Medan
Semester VIII (telah menyelesaikan mata kuliah 144 SKS)
IPK 3,19
No.HP : 0812 6098 0286
e-mail : rudisaragih@ymail.com
blog : cintabahasadansastraindonesia.blogspot.com,
Pendidikan
Jenjang Pendidikan Tempat Tahun
SD SD Negeri Sipolin, Kec.Purba, Simalungun 1993 – 1999
SMP SMP Negeri 1 Sidamanik 1999 – 2002
SMA SMA negeri 1 P.Siantar 2002 – 2005
PT Universitas Negeri Medan 2006 – sekarang
Prestasi yang pernah diraih pada masa kuliah:
1. Membina dan menginovasi majalah ‘INISIATIF’ Taman Madya Taman Siswa Tebing Tinggi ketika Praktik Pengalaman Lapangan Tahun 2009
2. Menjadi Mahasiswa berprestasi Universitas Negeri Medan tahun 2009
3. Juara harapan I pada Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) FBS Unimed tahun 2008
4. Juara II Sayembara Penulisan Esai Tingkat Mahasiswa se-Sumatera Utara oleh Balai Bahasa Medan tahun 2009
5. Juara II Penulisan Artikel pada acara Bulan Bahasa di FBS Unimed tahun 2008
6. Beberapa karya seperti cerpen, puisi dan feature telah dibukukan, dll.
Rabu, 07 Juli 2010
SEMANGAT RATAPAN
Oleh Rudi Hartono Saragih
”… Anakku, sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan ladang kita
Tak mungkin menjualnya demi cita-citamu
Tenaga dan doa yang kuat dapat kuberikan padamu
Jika ada tangan-tangan suci meraih dan merangkulmu, ikutlah
Bersamalah engkau tetap pada cita-cita kecilmu dulu…,”
***
Lalang-ilalang menyondong ke jalan, batu-batu tak beraturan menghiasi jalanan. Semalam sandal jepit kesayanganku masih memijak aspal, kini dia hanya bisa bersentuhan dengan abu-abu, batu dan sedikit becek yang ada. Ya, kemarin ada hujan deras mengguyur jalanan ini. Mendung menyelimuti awan, mengiringi jejak kakiku yang bergetar, bergerak menepis jalanan. Diam, sepi, hanya gemerisik dedaunan di pinggir jalan yang diiringi suara burung. Aku tatap jauh ke depan, sambil terus melangkah, kadang aku hanya bisa berjalan dari pinggir, di tengah ada becek bagai kubangan kerbau.
Baru saja aku kembali dari ibukota Sumatera Utara, Medan. Kota menuju metropolitan. Dengan penuh harapan di sana aku mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri. Berharap masa depan lebih cerah, berharap aku dapat mengubah nasib keluarga.
Menurut informasi yang aku dapatkan, kuliah di perguruan tinggi negeri jauh lebih murah dibanding swasta. Pun, di perguruan tinggi negeri, banyak beasiswa terutama bagi keluarga yang kurang mampu seperti keluarga kami.
Sekali-kali aku teringat ratapan ayah, “… Anakku, sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan ladang kita, Tak mungkin menjualnya demi cita-citamu…,” membuat merasa lebih bertanggung jawab untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga. Apalagi aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ini adalah amanah. Ini tanggung jawab.
“Bang aku minta ikannya, nasiku belum habis…,”
“Udah habis, besok lagi ya, tadi kedai sudah tutup jadi tidak sempat beli ikan” Potong ayah menjawab pertanyaan adik yang belum mengerti kondisi keluarga.
Pagi ini, pukul 00:00 adalah pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru yang kuikuti. Gelisah menunggu jawaban, aku bingung. Di kampung ini tidak ada koran yang ada hanya radio dan TV hitam putih, itupun terbatas.
Sambil duduk, diam, aku berencana menanyakan esok hari kepada teman, kenalanku ketika ujian melalui telepon genggam pak kepling, satu-satunya telepon genggam di kampung ini.
“Bang, aku dengar di radio nanti ada pengumuman yang lulus seleksi” Kata adikku seraya mendekatiku.
“Radio apa?”
“Ntah”
Aku segera menuju radio yang digantung khusus di atas meja. Radio tidak boleh dibawa-bawa. Radio adalah barang berharga di kampung ini.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Segera aku dengar dengan seksama pengumuman yang disiarkan di RRI. Aku mendengar nomor ujian dan nama yang disebutkan, pesertanya cukup banyak. Pernah aku mendengar namaku, tapi nomornya berbeda, berarti itu bukan aku! Nomorku 013-205-05875. Tentunya sekarang bukan giliranku. Hingga aku tertidur setelah setengah jam mendengarkan pengumuman itu, maklum hari ini aku capek bekerja di ladang.
Aku merasa kurang percaya, karena semalam ketiduran. Tidak mendengar pengumuman secara keseluruhan.
Di desa, pedalaman yang jauh dari kota seperti ini, waktu berbelanja hanya satu kali satu minggu. Yakni ketika pekan tepatnya hari rabu. Di saat itulah aku berusaha mencari koran bekas hari sabtu. Ya, tentu saja karena pengumuman kemarin tepatnya hari sabtu.
***
Gemerisik ilalang dengan belaian angina tetap mengerling di telinga. Embun pagi hari masih bergantung di dedaunan segar. Alunan kicau burung mengiringi datangnya mentari di pegunungan ini.
Wushh…, Angin sepoi kembali menyapa, dingin. Badan gemetar dan gigi sepertinya bergeletar. Dingin menusuk ke tulang sum-sum. Tapi pagi ini cukup cerah, pagi adalah permulaan yang baik.
Aku langkahkan kakiku menuju ladang, kira-kira 6 kilo meter dari rumah. Ini jarak yang tidak jauh kalau perladangan di kampung. Aku tahankan dinginnya pagi ini. Apalagi embun pagi yang singgah di rumput telah membasahi lutut hingga jemari kaki.
Aku menyadari, tiada jalan yang kutempuh untuk keluarga selain rajin ke ladang. Aku telah gagal menjadi mahasiswa. Aku tahu jika kuliah di swasta, orangtuaku tidak akan sanggup. Pun, kalau kuliah di negeri aku hanya mengharapkan beasiswa dengan surat sakti yang ditandatangani kepala desa. Tapi inilah kehidupan, tidak mungkin aku putus asa. Mudah-mudahan tetap sadar bahwa aku adalah anak pertama.
“Mau jadi apa kelak adik-adikku jika aku tidak berusaha sedini mungkin” Gumamku seperti mengigau.
Aku pacu semangatku membuka lahan/ladang yang dipinjam ayah dari tetangga. Walau aku harus membayar sewa dengan bekerja di ladangnya, aku tetap memupuk semangat.
Tanaman padi dan cabai adalah jenis tanaman yang kami tanam. Aku tambahkan ubi di pinggir ladang untuk mengambil sayur dan buah ubi. Setiap pagi hingga sore, aku terus ke ladang. Untuk merawat padi dan cabai tanaman kami.
Selama tiga hari dalam seminggu, aku terpaksa bekerja di ladang orang untuk mencari gaji harian guna membeli makanan di rumah. Ibu tidak sanggup lagi bekerja di ladang orang. Pun, kalau dia bekerja hanya mencabut rumpur di ladang kami. Sedangkan ayah hanya bisa diam di rumah untuk memulihkan kakinya yang sakit akibat kerja mengangkut kayu dari hutan. Kemarin satu bulan lalu sebelum sakit dia masih bisa bekerja di ladang orang untuk menutupi kebutuhan kedua orang adikku yang sekolah di SMP dan SMA di ibukota kecamatan. Karena di desa ini yang ada hanya ada SD, itupun masih jauh dari rumah.
Ladangku kini sudah mulai subur, padi dan cabai terlihat gemuk. Satu bulan lagi padi kami bisa di panen, sedangkan cabainya bisa di panen selama tiga bulan lagi. Tapi panen tidak akan memuaskan jika tanaman ini tidak diberi pupuk. Untuk itu jugalah aku harus bekerja di ladang orang. Berharap dengan adanya pupuk, panen kami akan bertambah.
***
Terus aku gisgisi rumput di ladang ini. Teriknya hari adalah bunga-bunga, variasi para petani. Walau membuat lelah dan haus ini harus tetap disyukuri karena cuaca seperti ini harus tetap disyukuri. Cuaca seperti ini sangat cocok untuk tanaman. Walau tidak cocok untukku, tetapi sudah lebih baik jika itu cocok untuk tanaman.
Perawatan tanaman ini harus intensif seperti yang telah kupelajari di mata pelajaran muatan lokal, walaupun aku juga harus mendapat saran dari ibu. Ibu sangat berpengalaman. Tanaman ini terus aku bersihkan dan tidak lupa memupuk setiap bulan serta menyemprot walaupun dengan ala kadarnya.
Aku dikejutkan suara anak-anak yang menangis dari jalan ladang. Itu adikku.
“Hi…, hiks…, hiks…,” Sambil menangis dia hanya bisa berkata “Abang…, bang…, ayah…,” dan terus menangis. Entah kenapa.
“Sudahlah diam! Ada apa dengan ayah?” Aku hanya senym melihatnya, sepertinya dia dimarahi ayah gara-gara sesuatu.
Aku menjadi ragu, kata-kata itu diulang dan diulangi adikku sambil menarik bajuku menuju arah pulang. Tidak seperti biasanya, adikku sibungsu adalah bijak dan berani berbicara.
Jantungku semakin berdetak kencang saat mendengar ratapan tangis dari rumahku.
“Jeurrr…” Darahku mengalir dan langsung melemah. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Ayah telah kembali kepadaNya. Kembali aku teringat ratapan ayah,
“… Berharap aku, di kampung kita
Engkau mulai langkah-langkah tegar menuju ke sana
Dalam setiap ayunan cangkulku selalu bersama cita-citamu
….
Anakku, anakku
Andai angan harap dan pendengaranku tak dapat menyertaimu
Aku serahkan padaNya
Semoga ada yang melihat dan membawamu dari lumpur
Ke tingkat istana kebenaran itu…,”
Hari ini hari yang menyedihkan bagi keluarga kami. Sungguh aku tidak tega melihat ibuku dan adik-adikku menangis.
Sepeninggalmu ya ayah
Aku tanamkan tanggung jawab di dalam batinku
Aku nobatkan diriku untuk menafkahi ibu dan adik-adikku
Kan kuteruskan ladang kita di sana
Ayah, hanya doa yang bisa kaberikan untukmu
Semoga engkau diterima di sisinya.
Aku tidak tahan mendengar ibu dan adikku menangis tidak ingin menemui adikku putus sekolah. Hatiku tetap risau. Kacau balau. Keadaan semakin buruk, adik-adikku hendak pergi ke sekolah. Seperti biasanya dia meminta uang bulanan. Untung saja aku bisa bekerja di ladang orang dan sekarang uang itu cukup untuk membiayai adik-adikku dan makan keluargaku.
Aku semakin yakin, ayah pernah mengingatkan kalau Yang Maha Kuasa tidak akan memberikan cobaan untuk hambanya jika hambanya tidak sanggup menghadapinya. Kehidupan ini akan silih berganti dan akan berubah. Ada saat senang ada saat sedih. Ada hikmah dibalik kesedihan. Dan pasti ada peluang di balik krisis.
Hari-hari terus kami lalui tanpa ayah. Cukup berat rasanya memanen padi tanpa kehadiran ayah. Tapi apalah daya, takdir sudah berjalan, semua itu tidak bisa disalahkan. Namun, lumayan. Panen kali ini cukup banyak. Cukup untuk makan sampai panen berikutnya.
Sejak panen padi, aku dan ibu sudah bisa khusus mencari uang bulanan adik-adikku dan sedikit tabungan keluarga. Ibu juga selau bilang, kalau itu adalah uang belanja tak terduga.
Hasil cabai cukup melimpah, tidak hanya itu, harga cabai di pasaran juga memuncak hingga enam tahun terakhir. Empat bulan waktunya cabai terus panen setiap satu kali satu minggu. Berkat kerja keras selama ini, ibu punya tabungan juga yang cukup untuk menyekolahkan kami dan modal untuk tahun selanjutnya.
Aku kembali mengingat kata-kata ayah “Anakku, semua peristiwa itu ada hikmahnya, pasti ada peluang di balik tantangan, pasti adal kehidupan baru setelah kehidupan lama’.
Aku merenungi, menyadari seandainya dulu aku lulus menjadi mahasiswa pasti adik-adikku juga putus sekolah. Pasti tidak ada panen cabai yang melimpah seperti ini.
“Terimaksih ya Allah. Atas semua hikmah yang kau berikan. Ada firman di balik cobaanmu. Ayat-ayatmu memberi kekuatan, dzikirmu menenangkan jiwaku. Rahmat dan karuniamu melekat di keluargaku. Ya Allah terimalah ayahku di sisimu.”
Kini aku percaya kepada ibu untuk menafkahi kami sekeluarga. Modal untuk bertani sudah lebih dari cukup untuk beberapa tahun ke depan. Tetapi walaupun demikian aku akan tetap bekerja hendak sambil kuliah di hari esok.
Hari ini aku telah mendapat ijin untuk pergi dari ibu dan adik-adikku. Yang terhalang tahun lalu.
“Ibu, doakan aku menjadi mahasiswa yang baik berperestasi untuk mengejar cita-cita, menatap hari esok yan semakin cerah dan memperbaiki keluarga kita.” Ujarkuu seraya senyum dan menempatkan tangan ibuku di keningku.
Hari ini aku pergi ke kota untuk mengikuti seleksi penrimaan mahasiswa baru. Tidak lupa aku membawa surat sakti yang ditandatangani kepala desanya.
Kutipan puisi “Seorang Petani Menatap Kampus Kebenaran” karya Antilan Purba
Sidamanik
26 September 2009
Kamis, 10 Juni 2010
Artikel
Oleh: Rudi Hartono Saragih
Guru, pahlawan tanpa jasa. Pahlawan yang paling dekat dengan masyarakat dan pahlawan yang memasyarakat. Jasa-jasanya sangat abstrak tetapi sangat berpengaruh dan menentukan kehidupan setiap individu, masyarakat, bangsa dan negara.
Memperingati hari guru ke-63, 25 November 2008, tampaknya merupakan sebuah nostalgia dengan tindak-tanduk, peran dan fungsi guru yang telah dilaksanakan pada masa lalu. Semua itu mengingat hal-hal yang berhubungan dengan proses pencerdasan kehidupan bangsa indonesia.
Jasa yang tidak terukur dalam membangun harkat dan martabat bangsa menuju kesejahteraan dan keadilan dalam lingkup negara kesatuan republik indonesia. Kecerdasan itu adalah alat dan bekal setiap individu untuk hidup dan menjalani kehidupan. Sadarkah kita bahwa semua itu adalah hasil dari jasa-jasa guru? Seluruh individu menjadi manusia yang utuh dengan segala kemampuan kognitif, afektif dan psikomotoriknya berkat guru yang telah membina dan mengajar individu sebagai peserta didik. Kemampuan-kemampuan terbentuk dengan proses pembelajaran yang direncanakan dan dilakasanakan oleh guru. Dalam pengembangan sumber daya menusia (SDM), guru menjadi seorang konseptor sekaligus eksekutor. Artinya gurulah yang membuat konsep/rencana dan penerapan untuk membentuk SDM yang lebih baik. Oleh karena itu terbentuklah individu-individu dengan berbagai kemampuan seperti sekarang ini.
Guru kencing berdiri murid kencing berlari. Peribahasa ini menyatakan, apa yang dilakukan guru hal itulah yang akan dilakukan peserta didiknya. Peserta didik cederung meniru apa yang dilakukan guru. Para perserta didik tentunya menjadikan seorang guru itu adalah seorang panutan yang pantas ditiru. Sangat jelas bahwa perkembangan individu dipengaruhi secara mendasar dari kelakuan, sikap dan arahan yang diberikan seorang guru. Kita tidak dapat mengingkari kalau seorang guru membelajarkan ilmu yang salah maka ilmu yang salah itulah yang akan berkembang di negara ini. Kita akan tahu dampaknya, jika ilmu yang salah menjadi pedoman maka negara ini akan amburadul.
Reformasi pendidikan yang diharapkan bangsa Indonesia menuju kualitas yang lebih baik dan bermutu tampaknya belum masih jauh dari harapan. Harapan-harapan kemajuan itu seluruhnya terbeban pada "pundak guru" adalah sebagai sesuatu yang wajar dan tidak salah lagi. Tagihan-tagihan selalu tercurah pada guru untuk mempertanyakan efektivitas pembelajaran yang dilakukan melalui para peserta didik. Ketidaksuksesan pembelajaran juga banyak yang menyalahkan guru. Tetapi apakah itu sesuai dengan kondisi guru yang sekarang ini?
Anggaran pendidikan sebanyak 20 persen dari APBN yang dicanangkan pemerintah sampai sekarang masih dipertanyakan. Usaha penyejahteraan guru yang dilakukan pemerintah memang harus didukung dan diberikan penghargaan. Upaya sertifikasi yang dilakukan pemerintah seperti yang tertuang dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 (UU Guru dan Dosen) tentang tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok sudah terealisasi. Namun apa yang dilakukan tersebut tampaknya masih kurang karena kuota yang mendapatkan sertifikasi masih sangat jauh dari jumlah guru yang ada. Tidak hanya itu, untuk mencapai pendidikan yang lebih baik dan bermutu, pemerintah seyogianya memberikan APBN yang lebih besar dari itu. Sehingga SDM Indonesia terbentuk dan tercibta dengan potensi yang luar biasa dan tangguh yang nantinya membawa kesejahteraan masyarakat indonesia serta mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dalam persaingan global.
Tetapi jangan sampai salah persepsi, apresiasi terhadap profesi guru tak hanya sebatas tunjangan finansial. guru juga membutuhkan rasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugas-tugas profesinya. Banyak kejadian kekerasan yang masih saja menimpa para guru. Acapkali guru harus menerima ancaman kekerasan dari siswa atau pihak orang tua murid, ketika sedang menjalankan tugas. Walaupun guru memiliki kesalahan dalam mengambil keputusan, karena mereka juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Sungguh tidak adil kalau guru lantas harus diperlakukan kurang manusiawi melalui tindakan-tindakan yang kurang baik dan mempermalukan. Ada orang tua yang dengan keras mempertanyakan tindakan anaknya, bahkan ada juga yang sampai marah. Namun selain itu ada juga dengan lembut dan memberikan apresiasi yang baik. Semua itu sebagai gado-gado profesi yang dilakukan guru sehingga bertambahnya hal-hal yang harus dipikirkan oleh guru sebagai seseorang yang berperan sebagai orangtua di lingkungan pendidikan formal. Banyak lagi masalah-masalah yang dialami guru. Namun tidak berarti guru dibiarkan berbuat semaunya karena ada juga guru yang bertindak tidak sesuai dengan profesinya dan itu harus di tindak tegas. Oleh karena itu tetap saja kita sesuaikan dengan hukum dan sesuai dengan kode etik profesi guru.
Guru sebagai tulang punggung kemajuan pendidikan di indonesia memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Tidak kalah pentingnya, para guru juga harus melakukan refleksi dan evaluasi terhadap dirinya. Kesadaran guru harus dipacu. Kemajuan bangsa ini terletak di tangan guru sebagai pencetak kalangan-kalangan akademisi yang professional. Jangan sampai guru yang menjadi penghalang majunya peradaban bangsa ini. Dampak negatifnya akan lebih luas dan besar jika hal itu terjadi. Reputasi guru akan tercemar dan tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat. Apalagi adanya upaya peningkatan kesejahteraan, para guru juga harus berusaha meningkatkan kompetensi diri menjadi seorang pengajar yang berkualitas.
Seperti yang dituntut dalam peraturan Mendiknas No. 16 tentang Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru, sebagai pengajar yang berkualitas guru dituntut memiliki berbagai kemampuan. Ada empat kemampuan (kompetensi) utama seorang guru yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Pertama, kompetensi pedagogik mencakup penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik dengan menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. Selain itu guru juga dituntut untuk mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu dan melakukan penilaian serta evaluasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Kedua, kompetensi kepribadian mencakup tindak-tanduk sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia serta penampilan sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Selain itu guru dituntut menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri arif, dan berwibawa serta tidak lupa terhadap kode etik profesi guru. Ketiga, kompetensi sosial mencakup sikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif, berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. Keempat, kompetensi profesional mencakup penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu serta mengembangkannya dan memanfaatkan media pembelajaran efektif. Kompetensi-kompetensi ini dikembangkan secara utuh sesuai dengan kualifikasi mata pelajaran yang diampu para guru.
Bukan hanya itu, guru juga dituntut dan disibukkan dengan tagihan-tagihan yang bersifat administratif. Mulai dari membuat program tahunan, program semester, silabus, rencana program pembelajaran dan berbagai penugasan dan penilaian untuk melakukan evaluasi sampai membuat catatan-catatan kecil tentang proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas. Hal ini dilakukan secara tertulis untuk memiliki data yang autentik selanjutnya dibuat sebagai dokumen pembelajaran peserta didik. Dan pada akhirnya guru dapat mengambil kesimpulan akhir tentang kemampuan peserta didik tersebut. Seorang guru harus mengetahui prosedur-prosedur pembelajaran dan prosedur dalam satuan pendidikan tertentu.
Setiap harinya guru selalu berpikir untuk kemajuan generasi penerus bangsa. Pergi pagi untuk memberikan ilmu yang dimiliki dengan harapan peserta didik dapat menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan yang banyak dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehati-hari. Selain mentransfer ilmu pengetahuannnya, guru juga melakukan penilaian-penilaian kepada perserta didik guna mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran sehingga dapat ditindaklanjuti sesuai dengan kemampuannya.
Seperti yang saja katakan di atas, Guru sebagai produser yang merencanakan proses pembelajaran setiap harinya pantas diberikan apresiasi yang baik. Sehingga dapat mengubah paradigma bahwa profesi sebagai guru adalah profesi alternatif karena tidak diterima di profesi lain tetapi profesi yang benar-benar mulia dan memiliki tingkat kesejahteraan yang cukup dan bukan pas-pasan. Mari kita wujudkan profesi guru untuk masa depan adalah profesi yang diterima masyarakat sebagai profesi yang tidak kalah pentingnya dengan profesi lain. Oleh karena itu, guru akan membentuk peradaban bangsa yang baik dan sesuai dengan cita-cita bangsa serta membawa indonesia sebagai bangsa yang besar dan diperhitungkan di dunia internasional.
Selamat ulang tahun guru. Bangsa ini diamanahkan kepadamu. Negara ini berada pada genggamanmu. Walaupun jasamu tidak terlihat secara nyata, tetapi jasamulah yang memiliki peran penting dalam kemajuan bangsa ini. Selamat ulang tahun guru. Jasamu akan selalu dikenang.