Kamis, 29 Oktober 2009

Puisi

SEMBURAT CONGKAK
oleh: Wahyu Wiji Astuti

Lagi, sajak-sajak dipintal oleh mulut bertaring
Tak berakar budi yang mendengungkannya
Hanya seutas kata bertumpuk debu
Yang pias di beranda angin

Oh, matanya beku
“Buatkan aku perahu nabi Nuh” teriaknya
Meski aral meregang penat,
“Lemparkan padaku tongkat nabi Musa!” pekiknya
Buas!

Mengapa dedaun asa itu berwarna kelam?
Tidakkah mulia kan pijar gemerlapan?
Masa itu kau urai keindahan pagi
Masa kini kau sebar kebusukan malam
Dengan baumu yang tak lagi harum

“Aku ingin singgasana Fir’aun!” koar mulutmu lalu.


Medan, September 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar