Selasa, 20 Oktober 2009

TIPS, "BERSASTRA ITU ASIK"

GEMAR MEMBACA SASTRA

I. Pendahuluan
Kini saatnya bersenang-senang. Penuhi hari-hari Anda dengan kenikmatan membaca karya sastra. Reguplah kenikmatan itu, pengetahuan dan wawasan Anda akan semakin luas. Seluas samudra. Biar yakin, baca dulu materi ini!

II. Materi

2.1 Nilai Sasta / Manfaat Sastra
Penjelasan tentang pengertian dan hakikat sastra di atas, menyatakan bahwa karya sastra merupakan suatu hasil kreativitas dengan tujuan yang sangat mulia. Suatu ciptaan yang mengandung nilai tertentu. Pernyataan yang paling awal dikemukakan tentang nilai sastra adalah formula yang dikemukakan oleh Horace, yakni dulce et utile
( bermanfaat dan menghibur). Makna yang terkandung pada kata ‘bermanfaat’ adalah
bahwasannya membaca karya sastra merupakan kegiatan yang tidak membuang- buang waktu, tidak merupakan kegiatan iseng, kegiatan yang perlu mendapat perhatian khusus.Pada kata ‘menghibur’ tersirat makna bahwa menikmati sastra tidak akan menimbulkan rasa bosan, bukan kewajiban, dan memberikan kesenanagan
( Wellek & Warren, 1989:24-27)
Dalam polemik kebudayaan yang terjadi pada tahun 1930 antara Sutan Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane terdapat dua pendapat. Satu pihak berpendapat ‘seni untuk seni’ dan pihak yang lain berpendirian bahwa sastra untuk memberikan pelajaran tentang kehidupan. Pihak pertama lebih menekankan unsure seni atau keindahan yang terdapat dalam karya sastra, sedang pihak kedua berpandangan bahwa suatu karya sastra haruslah mengandung pelajaran yang bermanfaat bagi pembacanya. Masing-masing pendapat tentu ada pengikutnya. Diantara kedua pendapat tersebut tentu tidak perlu dicari yang mana benar dan yang mana salah. Yang jelas dari peristiwa itu tersirat makna bahwa sastra dianggap sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia.
Dalam bukunya Penulisan Kreatif Prof.H.Saleh mengutarakan beberapa tugas sastra, sebagai berikut:
(a) Sebagai alat penting pemikir-pemikir untuk menggerakkan pembaca kepada kenyataan dan menolongnya mengambil suatu keputusan apabila ia menhhadapi masalah;
(b) Karya sastra yang baik selalu menjadi tempat nilai-nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sewajarnya;
(c) Karya sastra berperan sebagai alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti yang positif ( dalam Semi, 1988:20-21).

Dalam suatu wawancara antara wartawan Horison dengan Mochtar Lubis terungkap bahwa “sastra berperan sebagai kritik bangsa”. Pokok-pokok pikiran yang diungkapkan Mochtar Lubis itu dapat dirinci sebagai berikut:
1) Sastra dapat mengangkat harkat manusia;
2) Sastra dapat mengembalikan kemanusiaan agar tidak terperangkap nafsu kebinatangan;
3) Sastra dapat membuat perubahan sosial (bonus sastra);
4) Sastra dapat sebagai loncatan jembatan tranformasi budaya selekas-lekasnya dengan memberikan peneladanan;
5) Walau sangat tipis hasilnya, sastra dapat berfungsi sebagai reformasi nilai aktualisasi kesadaran bangsa;
6) Sastra dapat sebagai penggugat penyelewengan hukum, social, politik, ekonomi, dan lain-lain ( 1983:77-81).

Menurut Abdul Hadi W.M. “Sastra berperan dalam pembakuan bahasa”. Beberapa pokok
pikiran yang termuat dalam ungkapannya itu dapar dirinci sebagai berikut:
a) Dalam sastra kemungkinan-kemungkinan bahasa digali semaksimal mungkin dan dimanfaatkan untuk memberikan lebih banyak makna.
b) Sastra dapat menjalankan peranan sebagai pembakuan bahasa, dalam arti sebagai penstabilan alat kominikasi yang lincah.
c) Gaya bahasa seorang pengarang; cara menyusun kalimat atau membuat uraian yang tepat dan lincah, efisien, dan mempesona bisa dijadikan model pemakaian bahasa yang baik dan benar.
d) Tak jarang penyair mampu menampilkan kata-kata lama yang hampir tak terpakai dan hilang dalam pemakaian sehari-hari menjadi kata-kata baru dan segar, contohnya kata santer (1980:225-233).

2.2 Strategi Memupuk Minat baca Sastra
M inat tehadap suatu objek sikap hendaknya ditumbuhkan dalam diri seseorang. Di lembaga pendidikan, usaha menumbuhkan dan memupuk minat baca ini hendaknya terintegrasi dalam pembelajaran. Agar dapat berhasil secara optimal ada beberapa strategi yang dapat digunakan. I.G. Wardani ( 1981 ) menawarkan seperangkat strategi, yaitu : 1) Pemberian contoh, 2) Saran, 3) Penguatan, dan 4) Perlengkapan. Selain itu, seorang guru pengajar sastra, Sri Kitonawangsih melakukan terobosan untuk meningkatkan minat baca sastra siswanya dengan cara: 1) Meyakinkan siswa, 2) Menceritakan, 3) Menggunakan tayangan TV sebagai bahan pembelajaran.





2.3 Membuat Kliping
Karya sastra yang dapat dinikmati tidak hanya berupa karya yang dipublikasikan dalam bentuk buku, tetapi banyak pula karya yang dipublikasikan melalui media massa, baik media massa cetak atau elektronik. Untuk karya sastra dalam bentuk buku, setelah dibaca atau dinikmati ditulis sinopsisnya atau ringkasannya, sedangkan karya yang dipublikasikan secara lepas di media massa dikliping. Maksud mengliping karya sastra di sini adalah menempel karya sastra yang telah dibaca dan melakukan analisis terhadapnya.
Kegiatan mengliping karya sastra menurut Suroto ( 1990 ) dapat mendatangkan tiga manfaat. Sebagaimana dijelaskannya, manfaat mengliping karya sastra tersebut adalah: 1) Kita dapat mengikuti karya-karya yang baru, 2) Melakukan pekerjaan mengliping dapat membina ketekunan bekerja, dan 3) Seseorang yang senantiasa melakukan kegiatan mengliping yang membaca atau menikmati karya tersebut terlebih dahulu akan terbina pada dirinya rasa cinta pada sastra.
Kliping yang dibuat sesuai dengan pengertian yang di atas, berarti kliping itu merupakan kliping bertipe kompleks. Kliping tipe ini tidak hanya sebatas menempelkan karya yang telah dibaca di sebidang kertas saja, tetapi dilengkapi dengan identitas sumber tempat kliping itu dipublikasikan dan disampaikan pula analisis atau tanggapan terhadapnya. Adapun identitas sumber dimaksud adalah: judul karya, nama pengarang, nama Koran, majalah, atau tabloid, waktu publikasi ( hari, tanggal, dan tahun ). Kedalam kliping yang bertipe kompleks ini termasuk juga pengertian bahwa kliping itu dikerjakan dengan menerapkan prinsip-prinsip penciptaan karya seni. Membuat kliping termasuk kegiatan kreatif. Oleh sebab itu, sangatlah perlu memperhatikan kerapian, penataan bidang tempel, pewarnaan, dan pemakaian besar dan bentuk huruf yang variatif.
Aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan kliping di atas sekaligus menjadi aspek penilaian sebuah kliping. Pembobotan yang dapat dikenakan pada aspek-aspek penilaain tersebut, adalah: 1) kelengkapan bahan 30%, 2) Identitas sumber 20%, 3) intensitas tanggapan atau analisis 30%, dan 4) penataan 20%.
Adapun berkenaan dengan teknik atau prosedur pengerjaan kliping tersebut, dirasa Anda telah memahaminya, karena kegiatan ini telah Anda lakukan pada jenjang pendidikan sebelumnya.

2.4 Sinopsis dan Tanggapan
Sinopsis dan tanggapan adalah dua kegiatan yang biasa dilakukan setelah menikmati suatu karya sastra. Kegiatan ini dapat terlaksana apabila pembaca melaku-
kan identifikasi terhadap unsur-unsur pembangun karya baik secara fisik maupun secara mental. Identifikasi ini akan lahir dalam bentuk analisis atau penguraian karya atas unsur-unsur yang membangunnya.
Pada dasarnya sinopsis adalah penyampaian kembali secara ringkas karya sastra yang telah dibaca seseorang kepada pihak lain atau orang lain. Panuti Sudjiman ( 1986:63) mengatakannya sebagai ikhtisar sebuah karya yang memberikan gambaran umum tentangnya. Hal-hal yang perlu disampaikan dalam sebuah sinopsis adalah identitas karya dan unsur-unsur intrinsik karya tersebut. Kedalam identitas karya mencakup: Judul, pengarang, tahun terbit, jumlah halaman, kota dan nama penerbit, dan identitas lain yang ada dan perlu diungkapkan. Unsur-unsur intrinsic yang dikemukakan tentu tergantung pula pada jenis karya yang disinopsis. Unsur intrinsik puisi tentu berbeda dengan unsur sinopsis novel atau naskah drama.
Tanggapan adalah sambutan pembaca atau penikmat terhadap sebuah karya sastra sesuai dengan apa yang diterimanya baik secara indrawi atau bayangan di dalam angan-angan. Tanggapan dapat disampaikan dalam bentuk kritik atau komentar ( KBBI, 2001 ). Perihal suatu kritik atau komentar ia termasuk ke dalam bentuk hasil kajian atau telaah sastra. Sebuah telaah sastra mengandung tiga aspek pokok, yaitu analisis, interpretasi, dan penilaian. Jadi, tiga hal inilah yang perlu disampaikan dalam sebuah tanggapan. Tentu penyampaiannya tidak berurutan secara kaku seperti itu, tetapi ketiganya dapat terintegrasi, disampaikan dalam urutan yang bervariasi. Adapun yang perlu ditanggapi itu tak lain dan tak bukan adalah unsur-unsur pembangun karya tersebut. Misalnya pada novel, disampaikan tanggapan terhadap tema cerita, alur cerita, penokohan atau perwatakan, pemakaian bahasa, dan sebahgainya.
2.5 Penilaian Minat Baca
Penilaian terhadap minat baca dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan mengadakan ujian lisan, dengan pengamatan, melalui penyelesaian suatu proyek, atau dengan self report (laporan diri sendiri), atau self evaluation ( penilai
an diri ).
Penilaian dengan pengamatan terhadap sikap positif pembelajar ( siswa / mahasiswa) memang sulit dilakukan. Akan tetapi, pada ivent-ivent tertentu pengamatan itu bisa dilakukan, misalnya ketika ada kegiatan lomba di sekolah atau dikampus. Pengajar dapat mengamati pembelajar yang mengikuti atau berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Tiga strategi penilaian yang lainnya sangat mudah dilakukan. Dosen atau guru menyiapkan rubrik-rubrik penilaian yang dipahami dan dapat diisi dengan mudah oleh mahasiswa. Namun harus diingat, prosedur pengerjaan tugas dan kriteria penilaian yang akan diterapkan harus diinformasikan kepada pembelajar.

III. Petunjuk Pembelajaran
1. Bacalah materi dengan judul gemar membaca sastra di atas dengan seksama.
2. Tandailah pokok-pokok pikiran, rinciannya, dan konsep-konsep atau istilah yang
ada pada uraian di atas kemudian pahamilah maksudnya!
1. Buatlah ringkasan materi di atas dalam bentuk peta konsep.

IV. Tugas
Mulai minggu ini Anda membiasakan diri menikmati karya sastra setiap minggu. Jangan lewatkan satu minggu pun. Rekaman kegiatan membaca karya sastra itu Anda buat dalam catatan berbentuk catatan harian yang lengkap. Untuk kepentingan penilaian aktivitas belajar ini akan dinilai pada minggu ke-14. Jadi, penilaian dilakukan terhadap aktivitas membaca karya sastra yang Anda lakukan selama sepuluh minggu. Adapun aspek aktivitas membaca karya sastra ini terbagi ke dalam empat bagian, yaitu : 1) aktivitas menikmati karya sastra selama sepuluh minggu. Penghitungan dimulai dari minggu ketiga Oktober sampai minggu terakhir Desember 2007. 2) Menulis sinopsis karya sastra yang telah dibaca, yakni berupa satu novel, satu buku naskah drama, satu buku kumpulan puisi, dan satu novelet. 3) Mempersiapakan diri mempresentasikan salah satu sinopsis yang telah ditulis yang paling Anda kuasai di depan teman-teman Anda, dan 4) Membuat kliping karya sastra yang telah Anda nikmati. Adapun penjelasan lebih lanjut, tertera pada rubrik tugas dalam naskah Kontrak Perkuliahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar