Jumat, 09 Oktober 2009

MEMBANDINGKAN SASTRA DARI SATU PENGARANG DENGAN JAMAN YANG BERBEDA

Oleh
Rudi hartono saragih


“Tubuh tanpa ruh” (diciptakan 12 Agustus 1984)
Dibandingkan Dengan
“Seperti kematian” (diciptakan tahun 2004)

Puisi Karya Isbedy Stiawan ZS


PENDAHULUAN

Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural (pendalaman budaya). Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu, tempat dan tempat. Berdasarkan waktu, sastra bandingan dapat membandingkan dua atau lebih karya sastra dasri periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat akan mengikat sastra bandingan menurut wilayah geografis sastra. Konsep ini mempresentasikan bahwa sastra bandingan memang cukup luas sehingga akan memperbanyak kajian sastra bandingan itu sendiri.
Sastra yang akan dibandingkan dalam tulisan ini adalah berbentuk puisi. Latar belakang pengarangan puisi tentunya berbeda-beda sesuai dengan waktu dan tempat atau yang sering kita sebut sebagai konteks. Puisi yang akan dibandingkan tentunya memiliki persamaan. Dari satu pengarang yang menciptakan puisi berbeda jaman tentunya menarik untuk dikaji. Makna karangan-karangan yang dicibtakan akan dapat kita ketahui jika kita menelaahnya terlebih dahulu.
Puisi yang akan dibandingkan adalah puisi karangan Isbedy Stiawan ZS. puisi yang akan dibandingkan “Tubuh tanpa ruh” yang diciptakan 12 Agustus 1984 dengan “Seperti Kematian” diciptakan tahun 2004.


ANALISIS
Puisi Karya Isbedy Stiawan ZS
“Tubuh tanpa ruh” (diciptakan 12 Agustus 1984)
Dibandingkan Dengan
“Seperti kematian” (diciptakan tahun 2004)

TUBUH TANPA RUH*

Tubuh itu
Tanpa ruh. Nyebarkan duka
Melayat bunga dari seluruh kampong

(dari sini perjalanan masih panjang
Bagi tubuh tanpa ruh
Yang ditandu; bergegaslah peluit dibunyikan
Biar sampai di stasiun sebelum senja merengkuh)

Tubuh itu
tanpa ruh
bekukan hujan di awan
sepanjang hari

sementara dari kamar
netes kenang; siapa bias
menghapus gambar tangan
di dada?

12/7/1984

*dikutip dari antologi “seratus puisi pilihan karya Isbedy Stiawan ZS” 2005. Jakarta: penerbit Gransindo. Halaman 3
SEPERTI KEMATIAN**

Aku dapati kematian
Tiap gali rahasia perempuan
Serupa mendung
Di wajahmu
Aku hanya rasakan
Aroma peluhmu

Lalu mata,
Bibir yang anggur
Sebagai kanal dingin:
Sesunyi pelataran ini
Buatku medesah

Kugotong berwaktu-waktu
Mencapai pendakian
Dan membongkarnya
Di kanal ini

Tapi, sudah berapa jauh
Aku mengembara,
Berapa lubang kugali
Mencari temu rahasia?

Engkau, perempuan, rahasia
Yang sulit diselami
seperti kematian
yang kurasakan
setiap petang…..
2004

**dikutip dari antologi “seratus puisi pilihan karya Isbedy Stiawan ZS” 2005. Jakarta: penerbit Gransindo. Halaman 122

Ada beberapa hal yang akan dibandingkan dalam membandingkan karya sastra yakni Unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur-uunsur intrinsik seperti tema, alur, amanat, diksi dan lain-lain. Berikut ini adalah perbandingan unsur intrinsik puisi tersebut.
No Hal yang dibandingkan puisi “tubuh tanpa ruh” Puisi “seperti kematian” Ket.
1 Waktu pembuatan 12 Agustus 1984 2004
2 Tema Kematian
(Bermakna denotasi)
Menyatakan bahwa tubuh tanpa ruh yang sedang ditandu. Puisi ini di persembahkan kepada almarhum D.Z Kematian
(Bermakna Konotasi)
Kematian dalam hal ini merupakan perasaan yang digambarkan pengarang bahwa selalu ada rasa ketidakpuasan dalam menggali rahasia perempuan sehingga seperti menggali/mengetahui kematian yang tidak akan diketahui (memiliki misteri)
3 Diksi Diksi (pilihan kata) yang digunakan cenderung menggunakan bahasa sehari-hari. Tidak ada menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti secara sintaksis. diksi yang digunakan pada umumnya mengandung makna konotasi. pengarang menggunakan kata-kata indah dengan menempatkan setiap kata. artinya kata yang digunakan telah mengandung makna yang dalam.
4 Amanat Amanat yang disampaikan pengarang adalah bahwa kematian itu pasti akan datang sehingga pergunakan lah untuk membuat kenangan yang baik. Dan, pada akhirnya kita akan dikenang. Sulitnya menggali rahasia perempuan seperti mendapati kematian! Oleh karena itu hargailah perempuan itu dengan baik-baik biar kita tidak seperti dalam kematian.
5 Makna Puisi ini mengandung makna denotasi. Kematian merupakan sebuah hal yang dialami setiap manusia. Ketika tubuh itu tanpa ruh, maka kematianlah yang akan menantinya. Kematian itu meninggalkan berbagai duka. Mdenghapus duka dalam kematian adalah hal yang sulit apalagi ada kenangan yan indah. Namun perjalanan hidup tidak hanya sampai pada kematian. Akhirat juga akan di disinggahi. Artinya perjalanan masih panjang setelah kematian. Kematian dalam puisi ini adalah makna denotasi. Walaupun pada judulnya “kematian” bermakna konotasi, namun pada dasarnya isinya merupakan kematian perasaan yang dirasakan pengarang ketika sesahnya mengetahui atau memahami seorang perempuan itu.
6 Suasana Suasana yang ditimbulkan puisi ini adala sedih dan prihatin terhadap kematian yang sesungguhnya. Duka yang diakibatkan kematian ternyata tidak begitu cepat untuk melupakannya. Bingung bercampur penasaran untuk mengerti seorang perempuan. Suasana yang prihatin tampak di sini yakni untuk menghargai perempuan serta suasana penuh penasaran akan perempuan



KESIMPULAN

Puisi Isbedy Versi tahun 84 yang berjudul “Tubuh Tanpa Ruh” masih memiliki makna denotatif sedangkan puisinya versi tahun 2004 yang berjudul “Seperti Kematian” telah memiliki makna konotatif. Makna yang diungkap pengaran telah memiliki peningkatan sesuai jamannya.
Mungkin saja pilihan kata yang sesuai pada jaman 80-an adalah makna denotasi sedangkan makna pada tahun 2000-an adalah makna konotasi. Jadi terdapat peningkatan makna yang jelas pada tema yang berbeda dengan jaman yang berbeda oleh Isbedy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar