Rabu, 07 Juli 2010

SEMANGAT RATAPAN


Oleh Rudi Hartono Saragih



”… Anakku, sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan ladang kita
Tak mungkin menjualnya demi cita-citamu
Tenaga dan doa yang kuat dapat kuberikan padamu
Jika ada tangan-tangan suci meraih dan merangkulmu, ikutlah
Bersamalah engkau tetap pada cita-cita kecilmu dulu…,”
***

Lalang-ilalang menyondong ke jalan, batu-batu tak beraturan menghiasi jalanan. Semalam sandal jepit kesayanganku masih memijak aspal, kini dia hanya bisa bersentuhan dengan abu-abu, batu dan sedikit becek yang ada. Ya, kemarin ada hujan deras mengguyur jalanan ini. Mendung menyelimuti awan, mengiringi jejak kakiku yang bergetar, bergerak menepis jalanan. Diam, sepi, hanya gemerisik dedaunan di pinggir jalan yang diiringi suara burung. Aku tatap jauh ke depan, sambil terus melangkah, kadang aku hanya bisa berjalan dari pinggir, di tengah ada becek bagai kubangan kerbau.
Baru saja aku kembali dari ibukota Sumatera Utara, Medan. Kota menuju metropolitan. Dengan penuh harapan di sana aku mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri. Berharap masa depan lebih cerah, berharap aku dapat mengubah nasib keluarga.
Menurut informasi yang aku dapatkan, kuliah di perguruan tinggi negeri jauh lebih murah dibanding swasta. Pun, di perguruan tinggi negeri, banyak beasiswa terutama bagi keluarga yang kurang mampu seperti keluarga kami.
Sekali-kali aku teringat ratapan ayah, “… Anakku, sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan ladang kita, Tak mungkin menjualnya demi cita-citamu…,” membuat merasa lebih bertanggung jawab untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga. Apalagi aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ini adalah amanah. Ini tanggung jawab.
“Bang aku minta ikannya, nasiku belum habis…,”
“Udah habis, besok lagi ya, tadi kedai sudah tutup jadi tidak sempat beli ikan” Potong ayah menjawab pertanyaan adik yang belum mengerti kondisi keluarga.
Pagi ini, pukul 00:00 adalah pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru yang kuikuti. Gelisah menunggu jawaban, aku bingung. Di kampung ini tidak ada koran yang ada hanya radio dan TV hitam putih, itupun terbatas.
Sambil duduk, diam, aku berencana menanyakan esok hari kepada teman, kenalanku ketika ujian melalui telepon genggam pak kepling, satu-satunya telepon genggam di kampung ini.
“Bang, aku dengar di radio nanti ada pengumuman yang lulus seleksi” Kata adikku seraya mendekatiku.
“Radio apa?”
“Ntah”
Aku segera menuju radio yang digantung khusus di atas meja. Radio tidak boleh dibawa-bawa. Radio adalah barang berharga di kampung ini.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Segera aku dengar dengan seksama pengumuman yang disiarkan di RRI. Aku mendengar nomor ujian dan nama yang disebutkan, pesertanya cukup banyak. Pernah aku mendengar namaku, tapi nomornya berbeda, berarti itu bukan aku! Nomorku 013-205-05875. Tentunya sekarang bukan giliranku. Hingga aku tertidur setelah setengah jam mendengarkan pengumuman itu, maklum hari ini aku capek bekerja di ladang.
Aku merasa kurang percaya, karena semalam ketiduran. Tidak mendengar pengumuman secara keseluruhan.
Di desa, pedalaman yang jauh dari kota seperti ini, waktu berbelanja hanya satu kali satu minggu. Yakni ketika pekan tepatnya hari rabu. Di saat itulah aku berusaha mencari koran bekas hari sabtu. Ya, tentu saja karena pengumuman kemarin tepatnya hari sabtu.
***



Gemerisik ilalang dengan belaian angina tetap mengerling di telinga. Embun pagi hari masih bergantung di dedaunan segar. Alunan kicau burung mengiringi datangnya mentari di pegunungan ini.
Wushh…, Angin sepoi kembali menyapa, dingin. Badan gemetar dan gigi sepertinya bergeletar. Dingin menusuk ke tulang sum-sum. Tapi pagi ini cukup cerah, pagi adalah permulaan yang baik.
Aku langkahkan kakiku menuju ladang, kira-kira 6 kilo meter dari rumah. Ini jarak yang tidak jauh kalau perladangan di kampung. Aku tahankan dinginnya pagi ini. Apalagi embun pagi yang singgah di rumput telah membasahi lutut hingga jemari kaki.
Aku menyadari, tiada jalan yang kutempuh untuk keluarga selain rajin ke ladang. Aku telah gagal menjadi mahasiswa. Aku tahu jika kuliah di swasta, orangtuaku tidak akan sanggup. Pun, kalau kuliah di negeri aku hanya mengharapkan beasiswa dengan surat sakti yang ditandatangani kepala desa. Tapi inilah kehidupan, tidak mungkin aku putus asa. Mudah-mudahan tetap sadar bahwa aku adalah anak pertama.
“Mau jadi apa kelak adik-adikku jika aku tidak berusaha sedini mungkin” Gumamku seperti mengigau.
Aku pacu semangatku membuka lahan/ladang yang dipinjam ayah dari tetangga. Walau aku harus membayar sewa dengan bekerja di ladangnya, aku tetap memupuk semangat.
Tanaman padi dan cabai adalah jenis tanaman yang kami tanam. Aku tambahkan ubi di pinggir ladang untuk mengambil sayur dan buah ubi. Setiap pagi hingga sore, aku terus ke ladang. Untuk merawat padi dan cabai tanaman kami.
Selama tiga hari dalam seminggu, aku terpaksa bekerja di ladang orang untuk mencari gaji harian guna membeli makanan di rumah. Ibu tidak sanggup lagi bekerja di ladang orang. Pun, kalau dia bekerja hanya mencabut rumpur di ladang kami. Sedangkan ayah hanya bisa diam di rumah untuk memulihkan kakinya yang sakit akibat kerja mengangkut kayu dari hutan. Kemarin satu bulan lalu sebelum sakit dia masih bisa bekerja di ladang orang untuk menutupi kebutuhan kedua orang adikku yang sekolah di SMP dan SMA di ibukota kecamatan. Karena di desa ini yang ada hanya ada SD, itupun masih jauh dari rumah.
Ladangku kini sudah mulai subur, padi dan cabai terlihat gemuk. Satu bulan lagi padi kami bisa di panen, sedangkan cabainya bisa di panen selama tiga bulan lagi. Tapi panen tidak akan memuaskan jika tanaman ini tidak diberi pupuk. Untuk itu jugalah aku harus bekerja di ladang orang. Berharap dengan adanya pupuk, panen kami akan bertambah.
***

Terus aku gisgisi rumput di ladang ini. Teriknya hari adalah bunga-bunga, variasi para petani. Walau membuat lelah dan haus ini harus tetap disyukuri karena cuaca seperti ini harus tetap disyukuri. Cuaca seperti ini sangat cocok untuk tanaman. Walau tidak cocok untukku, tetapi sudah lebih baik jika itu cocok untuk tanaman.
Perawatan tanaman ini harus intensif seperti yang telah kupelajari di mata pelajaran muatan lokal, walaupun aku juga harus mendapat saran dari ibu. Ibu sangat berpengalaman. Tanaman ini terus aku bersihkan dan tidak lupa memupuk setiap bulan serta menyemprot walaupun dengan ala kadarnya.
Aku dikejutkan suara anak-anak yang menangis dari jalan ladang. Itu adikku.
“Hi…, hiks…, hiks…,” Sambil menangis dia hanya bisa berkata “Abang…, bang…, ayah…,” dan terus menangis. Entah kenapa.
“Sudahlah diam! Ada apa dengan ayah?” Aku hanya senym melihatnya, sepertinya dia dimarahi ayah gara-gara sesuatu.
Aku menjadi ragu, kata-kata itu diulang dan diulangi adikku sambil menarik bajuku menuju arah pulang. Tidak seperti biasanya, adikku sibungsu adalah bijak dan berani berbicara.
Jantungku semakin berdetak kencang saat mendengar ratapan tangis dari rumahku.
“Jeurrr…” Darahku mengalir dan langsung melemah. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Ayah telah kembali kepadaNya. Kembali aku teringat ratapan ayah,

“… Berharap aku, di kampung kita
Engkau mulai langkah-langkah tegar menuju ke sana
Dalam setiap ayunan cangkulku selalu bersama cita-citamu
….
Anakku, anakku
Andai angan harap dan pendengaranku tak dapat menyertaimu
Aku serahkan padaNya
Semoga ada yang melihat dan membawamu dari lumpur
Ke tingkat istana kebenaran itu…,”

Hari ini hari yang menyedihkan bagi keluarga kami. Sungguh aku tidak tega melihat ibuku dan adik-adikku menangis.
Sepeninggalmu ya ayah
Aku tanamkan tanggung jawab di dalam batinku
Aku nobatkan diriku untuk menafkahi ibu dan adik-adikku
Kan kuteruskan ladang kita di sana
Ayah, hanya doa yang bisa kaberikan untukmu
Semoga engkau diterima di sisinya.

Aku tidak tahan mendengar ibu dan adikku menangis tidak ingin menemui adikku putus sekolah. Hatiku tetap risau. Kacau balau. Keadaan semakin buruk, adik-adikku hendak pergi ke sekolah. Seperti biasanya dia meminta uang bulanan. Untung saja aku bisa bekerja di ladang orang dan sekarang uang itu cukup untuk membiayai adik-adikku dan makan keluargaku.
Aku semakin yakin, ayah pernah mengingatkan kalau Yang Maha Kuasa tidak akan memberikan cobaan untuk hambanya jika hambanya tidak sanggup menghadapinya. Kehidupan ini akan silih berganti dan akan berubah. Ada saat senang ada saat sedih. Ada hikmah dibalik kesedihan. Dan pasti ada peluang di balik krisis.
Hari-hari terus kami lalui tanpa ayah. Cukup berat rasanya memanen padi tanpa kehadiran ayah. Tapi apalah daya, takdir sudah berjalan, semua itu tidak bisa disalahkan. Namun, lumayan. Panen kali ini cukup banyak. Cukup untuk makan sampai panen berikutnya.
Sejak panen padi, aku dan ibu sudah bisa khusus mencari uang bulanan adik-adikku dan sedikit tabungan keluarga. Ibu juga selau bilang, kalau itu adalah uang belanja tak terduga.
Hasil cabai cukup melimpah, tidak hanya itu, harga cabai di pasaran juga memuncak hingga enam tahun terakhir. Empat bulan waktunya cabai terus panen setiap satu kali satu minggu. Berkat kerja keras selama ini, ibu punya tabungan juga yang cukup untuk menyekolahkan kami dan modal untuk tahun selanjutnya.
Aku kembali mengingat kata-kata ayah “Anakku, semua peristiwa itu ada hikmahnya, pasti ada peluang di balik tantangan, pasti adal kehidupan baru setelah kehidupan lama’.
Aku merenungi, menyadari seandainya dulu aku lulus menjadi mahasiswa pasti adik-adikku juga putus sekolah. Pasti tidak ada panen cabai yang melimpah seperti ini.
“Terimaksih ya Allah. Atas semua hikmah yang kau berikan. Ada firman di balik cobaanmu. Ayat-ayatmu memberi kekuatan, dzikirmu menenangkan jiwaku. Rahmat dan karuniamu melekat di keluargaku. Ya Allah terimalah ayahku di sisimu.”
Kini aku percaya kepada ibu untuk menafkahi kami sekeluarga. Modal untuk bertani sudah lebih dari cukup untuk beberapa tahun ke depan. Tetapi walaupun demikian aku akan tetap bekerja hendak sambil kuliah di hari esok.
Hari ini aku telah mendapat ijin untuk pergi dari ibu dan adik-adikku. Yang terhalang tahun lalu.
“Ibu, doakan aku menjadi mahasiswa yang baik berperestasi untuk mengejar cita-cita, menatap hari esok yan semakin cerah dan memperbaiki keluarga kita.” Ujarkuu seraya senyum dan menempatkan tangan ibuku di keningku.
Hari ini aku pergi ke kota untuk mengikuti seleksi penrimaan mahasiswa baru. Tidak lupa aku membawa surat sakti yang ditandatangani kepala desanya.

Kutipan puisi “Seorang Petani Menatap Kampus Kebenaran” karya Antilan Purba


Sidamanik
26 September 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar