Jumat, 13 November 2009

Esai

Konsistensi mendatangkan perubahan
Oleh Kimura Patar Tamba (KPT)*

Diakhir ceritanya sang sutradara menyampaikan pesannya melalui film ini.
“Apakah yang membuat manusia itu menjadi manusia sejati, apakah karna kemampuannya, kedudukannya, ataukah latar belakangnya? Yang membuat manusia itu menjadi manusia sejati adalah karena pilihannya.” Tentu kita sudah tahu bahwa ini adalah penggalan dialog dalam film HellBoy.
Saya rasa banyak benarnya, bahwa yang menentukan siapa kita adalah pilihan kita. Apakah kita memilih untuk memposisikan diri sesuai dengan posisi kita. Apakah kita memilih untuk sungguh-sungguh sekolah atau tidak, apakah kita sungguh-sungguh mengajar atau tidak itu semua tergantung pilihan kita. Bukan semata-mata karena kemampuan kita, karena ternyata banyak orang yang berkemampuan di atas rata-rata justru berada di bawah rata-rata.
Memang sulit untuk menjatuhkan pilihan, perlu komitmen. Karena suatu pilihan adalah komitmen, pilihan tanpa komitmen adalah membual. Berkomitmen untuk melakukan dan menghidupi pilihan itu, karena Tuhan pun mengijinkan kita dalam keadaan sekarang semua adalah untuk yang terbaik bagi hidup kita. Hanya saja apakah kita menghidupi pilihan itu atau memungkirinya. Sikap kita terhadap pilihan kitalah yang mempengaruhi keadaan kita sekarang, karena banyak yang mengeluh akan keadaannya, ingin melakukan perubahan tetapi malah tekungkung dalam keadaan yang semakin rumit.
Tidak perlu suatu kejadian untuk memulai suatu perubahan tetapi konsistensi untuk memegang komitmen dari waktu ke waktu akan memberi perubahan yang besar.
Terkadang kita menunggu-nunggu suatu kejadian untuk bisa merubah diri kita, bukan hanya itu sering kali kita mengharapkan perubahan itu datang menghampiri kita seperti sulap atau mujijat semacam itulah. Jika kita menunggu-nunggu ada suatu moment,memang baik bahkan perlu, tapi sampai kapan moment itu datang?
Konsistensi dalam memegang komitmen itulah yang akan membuat suatu perubahan, apakah kita konsisten untuk komitmen kita sebagai siswa, sebagai guru, sebagai mahasiswa, dll. Pilihan kita untuk menduduki posisi kita direpresentasikan dalam sebuah komitmen. Komitmen sebagai siswa tentu adalah belajar keras, komitmen sebagai guru adalah mengabdi, dll. Hanya saja banyak yang tidak menyadari komitmen dalam posisinya.
Tentulah komitmen dipresentasikan oleh suatu sikap, karena secara defenisi pun berkata demikian bahwa komitmen adalah kesesuaian perkataan dengan tindakan.
Setelah pilihan kita jatuhkan, biarkan waktu yang menjawab apa selanjutnya karena kualitas perubahan itu tidak hanya bicara prestasi tetapi juga proses pendewasaan. Mungkin saja perubahan itu mengarah kegagalan tetapi mari melihat bahwa kegagalan itu adalah keberhasilan juga.
Dan akhirnya, mari kita renungkan perkataan dari mantan Presiden Amerika ini :
“Dalam hidup ini,tugas kita adalah bekerja keras sisanya biarkan Tuhan yang mengerjakannya”
(Dwight David Eisenhower).

*Mahasiswa Jurusan Matematika Unimed’06

1 komentar:

  1. thank pak kim, sudah memberi tulisan ke blog saya. ayo tetap semangat membuat tulisan. saya tunggu esai
    pembelajaran matematika menyenangkan!

    BalasHapus