Sabtu, 24 September 2011

Jejak

Di bawah pohon mahoni kampus serambi,
di alun-alun terbuka sebuah ranah,
kala rindu menepi membangun dermaga,
pada jiwa yang tumbuh dari bumi,
dalam senyum merekah yang bisa dipetik dari ladang,
pada aroma satu jiwa yang telah hilang,
kuakui aku rindu padamu…

Teringat kisah bersama kalian, dulu membuihkan mulut mengeja tuk berlatih. Di bawah pohon rindang Unimed, ngumpul uang lima ribu lima ribu untuk membeli kemek-kemek. Dari sudut jalan terlihat tergesa-gesa Sri dkk. yang sudah terlambat, tetapi tetap ditunggu, karena kalau mereka tak datang, tak khusuk rasanya. Dan Sri pun berucap, “Maap ya baru siap kuliah juga.”
Per dua minggu, menggelar karpet di belakang UMSU, di bawah pohon belimbing, meneduhkan rindu pada pena. Sesekali menjajah sekretariat BEM FKIP UMSU menemu tawa. Di situ pula, aku sering terlambat, “Sori,aku terlambat lagi woi…,” selepas itu kusambung lagi, “hehheheheheeee.”
Sayum Sabah menjadi saksi menulis di tengah sungai pada atas batu, menulis puisi bersambung ketika basah oleh air hulu. Malam itu kita menimba cerita dengan beliau. Siapa yang tak menemu baru ketika membaca puisi di bawah pohon coklat. Eh, kala petang bermain diiringi musik. Dan pulang diguyur hujan. Oi, jadi terlambat nyampe di rumah. Dalam hati, “Mudah-mudahan aja adek-adek ni gak pada dimarahni setelah nyamper rumah.”
Berjalan masa pada alam, rindu beralih pada sudut taman budaya. Dari situ disulam jejak-jejak penemu tulis. Sempat aku berkilah, “Kita harus mengembangkan ‘sayap’, pelatihan di kampus masing-masing. Kita buat aja Kompak Unimed, Kompak UMSU, Kompak Nomensen,” Namun dengan teguh dijawab oleh Sri, “Tidak! Kita harus tetap satu! Kita pelatihan di sekretariat. Ya, di Taman Budaya ini.”

Rudi Saragih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar