Jumat, 13 Agustus 2010

Universitas yang Sesungguhnya


Rudi Hartono Saragih

“Nanti lama tamatnya.” Kata-kata itu yang selalu terucap dari mahasiswa yang tidak ingin mengecap organisasi di kampus. Cara pandang ini mengkambinghitamkan organisasi sebagai penyebab lamanya menyelesaikan studi. Tidakkah terpikir bahwa semua itu sangat erat kaitannya dengan manajemen pribadi dalam menjalankan tugas akademisi?

Momok ini memang terbentuk ketika mengetahui lama tamatnya para organisator yang sering disebut aktivis. Namun perlu dikaji ulang latar belakang penyebab masalah tersebut. Tidak hanya itu, ketakutan dipersulit dosen juga tidak terenyahkan oleh orang yang disebut agen perubahan ini.
Kenyataannya memang ada aktivis yang lama tamat, namun itu karena ada kesibukan di sela-sela kuliah. Paradigma ini memang tidak banyak diterima. Dalam hal ini, memaknai ’universitas yang sesungguhnya’ masih sangat beragam. Sebagai tempat mempersiapkan diri untuk terjun secara profesional ke lingkungan masyarakat, institusi ini memberikan pengetahuan dan pengalaman. Dalam ranah pengalaman inilah organisasi memberikan kontribusi yang paling besar. Wadah ini yang acap kali membentuk manajemen diri dan kelompok serta karakter dan berbagai pengalaman menarik.
Ketika di bangku kuliah kemampuan kognitif telah dipenuhi, maka secara umum kemampuan afektif dan psikomorik lebih diasah di organisasi. Dalam hal ini, kuliah dan organisasi saling terikat. Kuliah akan lebih sempurna ketika diikuti organisasi, serta sebaliknya.
Tentunya salah juga, ketika organisasi sampai menghambat kuliah sebagai aktivitas primer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar