Sebuah Kreativitas, Inisiatif dan Abdi terhadap bahasa dan Sastra Indonesia
Selasa, 10 Desember 2019
Berteduh dibawah sinar matahari
Karya: Erictranoven sihombing
Pada tanggal 22 juli kami menerima hasil akhir kerja kami, atau biasa disebut dengan rapot. Pada saat aku mendapat rangking 10 dari 36 orang, aku bangga dengan walaupun aku tidak mendapat kerjuaraan, setidaknya aku sudah belajar keras dan berusaha, karena aku mendapatkan ranking 10 aku mulai sombong karena hasil yang kudapat cukup memuaskan bagiku dan juga orang tuaku.
Aku pamer ke teman ku, sebab mereka tidak masuk kedalam 10 besar, aku berkata kepada mereka
Aku: hay guys..,
(Guys merupakan nama panggilan jika aku memanggil teman-temanku, temanku ada dua orang yang bernama ardi, ardi itu orang nya pemalas suka bermain game, tinggi kurus dan tidak pernah selesai pr, yang kedua namanya sandi dia itu orang nya gak pelit, punya segalanya dan lumayan pintar)
Sandi :hay juga, kenapa?
Ardi: tumben wajah kamu sangat ceria, ada apa?
Aku : lihat ini aku mendapat rangking 10 , kalau kalian dapat rangking berapa?
Ardi: hah... Begitu aja udah sombong
Sandi : wahhh.., kamu udah makin rajin belajar ya, kalo aku dapat ranking 18
Aku : wajib dong, untuk mencapai cita-cita ku, aku harus belajar keras, kamu iri ya di?
Ardi : gak kok, biasa aja
Aku : emang kamu dapat ranking berapa?
Ardi : aaaa...., aa..., aku dapat rangking 30
Sandi : kamu kok menurun?
Aku : Iya di.., kamu kebanyakan main game yaa?
Ardi : iya.., soalnya aki tidak bisa hidup tanpa game
Sandi : Ardi...Ardi...
(Setelah selesai berbincang, aku langsung pulang kerumah, keesokan harinya aku bersemangat untuk pergi keladang untuk membantu ayah dan ibuku)
Aku : Selamat pagi ayahhh, ibu
Ibu : Selamat pagi nak
Aku : hari ini kita kerja apa?
Ayah: kamu dan ibu memetik kopi saja, kalau ayah memupuk cabai
Aku : ooo, iya yah...
( untuk hari pertama aku sangat semangat untuk bekerja, hari kedua pun begitu, aku semangat bekerja sampai 15 hari)
Badan ku mulai terasa pegal dan lelah, aku meminta ijin kepada orang tuaku agar tidak ikut kerja keladang,ayah dan ibuku pun menyetujuinya, tetapi dengan satu syarat aku harus membereskan rumahku, serta menuci kain dan juga piring, aku menjawab "iya bu akan aku kerjakan". Sangking lelahnya aku tertidur sampai jam 2.09 siang,aku terbangun dan langsung makan, aku tidak mengingat janji ku kepada ibuku, setelah selesai makan aku langsung pergi ke warnet untuk bermain game, karena aku sangat menyukai game, aku bermain hingga jam 5.00 sore.
Ayah dan ibuku sudah pulang dari ladang, ayahku memanggil ku dari luar sebab rumah aku kunci, mereka sudah lama menunggu ku pada jam 5.25 aku pulang dan tiba dirumah ku aku terkejut melihat ayah dan ibuku sudah tiba lebih awal dariku. Aku merasa takut :
Ibu :kamu dari mana saja?
Aku :aku dari warnet, bermain game bersama teman-temanku.
Ibu :apakah pekerjaan mu sudah selesai?
Aku :haaa.....,(aku terkejut karna melupakan janjiku) aku belum sempat mengerjakan nya, aku tadi tertidur dan bangun aku langsung makan, setelah makan aku langsung pergi ke warnet.
Ibu :kamu ini bagaimana sihh.., tadi kamu kan udah janji buat mengerjakan pekerjaan rumah
Aku :aku tidak ingat sebab aku tidak melihat jam
Ayah : ya sudah begini saja, mulai besok kamu harus pergi ke ladang dan ayah akan menyiapkan apa yang harus kamu kerjakan
dan harus selesai
Aku : baik yah..,
Keesokan harinya, pagi mendung sepertinya akan turun hujan, aku berkata kepada ibuku :bu sepertinya hujan sudah mulai turun, karena langit mendung," tidak.. Tidak ada turun hujan, kita harus bekerja kita sudah terbiasa berteduh di bawah sinar matahari danberteduh dibawah di hujan deras, jika hari ini kita tidak bekerja kita mau makan apa? Kata ibuku
(Aku terdiam dan hanya mengikuti perintah kedua orang tuaku)
Sesampainya di ladang tiba-tiba langit sudah cerah, aku hanya dapat berteduh dibawah sinar matahari, aku duduk dan merenung, kenapa hidupku begini tidak seperti teman-teman ku yang lainnya, jika liburan ayah dan ibu mereka, mengajak anak anaknya untuk pergi liburan dan berbelanja banyak barang.
Mereka dapat berenang di kolam renang yang sangat indah dan ada juga di pantai yang luas dan menyejukkan, walaupun mereka tidak mendapat rangking, sementara aku? Aku mendapatkan 10 besar tetapi orangtuaku tidak mengajak ku berlibur, mengapa hala ini terjadi padaku? Kenapa aku tidak seperti teman-temanku yang lainnya.
Langit dan matahari sudah menunjukkan pukul 12.53 tak terasa aku merenung lama, ibuku memanggil waktunya makan siang. Tetapi aku berkata aku belum mengerjakan apa-apa bu, bagaimana aku makan? Ibuku menjawab: kenapa? Emang kamu ngapain aja? Aku menjawab : aku merenung kenapa hidup kita hanya begini-begini saja!, nak... Syukuri apa adanya, masih untung kita bisa tidur walaupun kasurnya keras, kita masih bisa makan walaupun lauknya hanya tahu dan tempe saja, kamu dapat bersekolah walaupun kamu pergi dengan berjalan kaki, diluar sana ada yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makan hanya sekali dua kali dalam sehari, seharusnya kamu sudah bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan" kata ibuku. Lalu kujawab baik bu, aku akan mulai bersyukur dan berterimakasih telah melahirkan dan menyatukan orang tua seperti kalian..
Pengemis Yang Menjadi Seorang Artis
Karya:Anggit Aprilya
Anak mana yang tidak menginginkan kebahagiaan,pasti semua anak ingin merasakan kebahagiaan,tetapi kali ini berbeda semenjak kedua orang tuanya meninggal ia merasa terpuruk,dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi ,hidupnya begitu menyakitkan.Mau tidak mau dia harus putus sekolah karena dia tidak sanggup untuk biaya sekolah mkan aja dia susah apalagi untuk sekolah.Hari demi hari dia lalui sendiri.lama kelamaan dia tidak punya pilihan lagi untuk bertahan hidup,melihat anak jalanan yang berkeliaran di jalanan meminta minta uanga(pengemis) dia pun memutuskan untuk bekerja seperti mereka karena mau tidak mau dia harus melakukannya demi hidupnya agar bisa makan dan bertahan hidup.
Hari demi hari,bulan demi bulan,tahun berganti tahun dia lalui di jalan untuk mencari uang untuk bertahan hidup,meskipun ia susah,dia juga tak lupa untuk memberi sedekah sedikit rezeki yang ia dapatkan,dia slalau berdoa kepada allah agar diberi kemudahan dalam pekerjaan maupun rezeki.
Suatu hari pada saat dia mengamen di lampu merah dan dia pun menjalani mobil satu persatu dia jalani sambil bernyanyi.Dengan semangat dia truss bernyanyi agar si pengacara mobil memberi dia uang,saat menjalani mobil itu satu persatu ada sebuah mobil yang terkejut mendengar suaranya anak tadi dan dia pun merasa kalau suaranya jelek lal dia berhenti bernyanyi sang pengendara mobil bertanya"kenapa berhenti",dia menjawab"aku pikir suara aku jelek jadi bapak terkejut mendengar suara aku".
Dan lampu merah pun berganti menjadi hijau karen asiknya mendengarkan si anak bernyanyi sipengemdara mobil tadi pun tak sempat memberinya uang.
Beberapa hari kemudian si pengen d ada mobil kemaren pergi ke tempat tinggal orang orang(anak anak jalanan)tersebut dan dia pyn mencari seorang anak yang kemaren bernyanyi dan dia tidak sempat memberinya uang.Berjam jam ia mencari anak tersebut dan menunggu,akhirnya anak tersebut pun ditemukannya dan diapun dibawa oleh sipenge dara mobil kemaren.Diapun ketakutan dan sipengendara tadi memberi kartu namanya dan ternyata si penge dara mobil itu seorang sutradara yang sedang mencari seorang penyanyi cilik yang memiliki suara yanv indah dan merdudan itu semuaa telah di dapatkan mereka di dalam diri anak tadi lalu anak tadi pun percaya.Lalu tibalah mereka si studio tersebut,suasana studio yang begitu ramai membuat dia ketakutan dan grodi,tetepai sutradara radi memberi semangat padanya.Bismillahirrahmanirrahim da pu mulai untuk mengeluarkan suara dan bernyangi.Orang orang yang tadinya yang berada di studio yang begitu sibuk nya langsung melihat sanga nak tadi karena suaranya yang begitu indah dan merdu itu.
Dan si anak tadi pun menjadi semangat tanpa ketakutan lagi,hatinya begitu gembira,wajahnya yang begitu senang,setelah selesai bernyanyi dia diwawancarai oleh banyak orang,dan ada sepasang suami istri yang sedang berada di studio itu,lalu mereka menghampirinya dan banyak bertanya tentang kehidupannya,merekapun mendengarkan anak tadi bercerita mereka pun sampai menangis mendengar cerita tentang hidup si anak tadi dan memperjuangakab dirinya untuk beiburtahan hidup.
Lalu sepasang suami istri yadi bertanya"apakah kamu mau menjadi anak angkat kami"dan si anak tdi pun merasa senang tetapi dia masih mempertinbangkan.ya,dia masih berpikirpanjang,lau ia bertanya kepada mereka"kenapa bapak dan ibu mau menganjat saya menjadi anak bapak dan ibu??" merka terlihat sedih.merka berkata"sudah lima tahun kami menikah tetapi kami belum di karuniai anak sampai sekarang"kami sangat ingin mempunyai anak,tetapi itu pun jika kamu tidak amu tidak masalah terserah kamu aja.
"Aku mau kok pak,bu karen aku juga tidak pernah merasakan perhatian dan kasih sayang dari ayahku,ayahku meninggal saat aku masi bayi dan hanya ibuku lah yang membesarkan aku hingga aku tumbuh seperti sekarang,dan sekarang ibuku pun sudah meninggal kan ku"."hmmm...... Insya allah kami akan memberimu kebahagiaan yang belum pernah kau dapat kan dari ayah mu.nak."
Dan akhirnya merekapun mengasuh anak tadi,hari demi hari mereka lalui bersama dengaN bahagia dan anak tadi pun tidak lepas dari panggilan untuk rekaman.sewaktu anak tadi ingin pergi ke studio ibu tirinya pun slalu menemani nya menunggu dia sampai slesai rekaman.
Dia merasa senang memiliki orang tua yang benar benar cinta dan menyayangimu seperti anak sendiri,lama kelamaan setelah album rekaman ya d luncurkan dan sudah banyak yang menyukainya diapun mulai terkenal.dan dua sudah mulai muncul sesekali di layar kaca ataupun itu di you tube.
Suatu hari ada seseorang yang menelpon orang tua anak tersebut untuk mengajak anak tersebut untuk shooting di suatu perusahaan yang begitu besar.dengan senang hati dia pun menerima tawaran tersebut dan lama kelamaan penggemarnya pun mulai meningkat karena suaramya yang begitu indah dan diapun mulai mendapatkan bayaran dari perudahaan perusahaan lain yang mengajak dia untuk bekerja sama di perusahaan mereka.
Sekaran anak tersebut sudah nisa menghasilkan uang sendiri walaupun ia sudah bisa di katakan menjadi seorang artis dia tidak kupa untuk bersedekah sesekali dia mengunjungi tempat dia kemaren tinggal dia sangat bersyukur yang tadinya dia hanyalah seorang pengemis yang berkeliaran di jalanan yang taunya hanya meminta minta sekrang dia adalah seorang penyanyi yang terkenal.yang banyak digemari orang bnyakbwalaupun sudah menjadi artis dia tidak pernah lupa dengan teman teman nta dia slalu memberi sedikit rezekinya kepada teman temannya.
Dan akhirnya setelah dia menjadi seorang penyanyi ya g begitu terkenal dan banyak digemari orang dia merasa bangga dan bahagia karena masih ada orang yang mau menerimanya dab menyuport dia untuk mengapa impiannya.dan sebaliknya b orang tua angkatnha tadi pun merasa senang dan bangga padanya sangat bangga karena kesabaran ya menghadapi hidup,dengan kerja keras dan hasilnya pun begitu memuaskan.
Bersabarlah dalam menjalankan apapun,karena selam yang kau kerjakan itu baik,maka hasil yang kau dapatkan pun pasti akan baik.
Penulis adalah siswa SMAN 1 PURBA
Malam Yang Panjang
Karya: Elisabeth rose galingging
Sepertinya kali ini mungkin akan menjadi malam yang panjang. suara jarum dinding pun sepertinya enggan untuk berpindah dari angka ke angka selanjutnya. sekarang tepat pada pukul 19 malam.
Ketika ku coba membuka HP ku. yang terlihat hanyalah warna hitam pekat. tidak ada tanda-tanda bahwa hp-ku memiliki baterai yang cukup untuk kupakai, sepertinya hp-ku benar-benar habis baterai, Ah.. mungkin gara-gara tadi kupakai di sekolah, dan karena tadi di sekolah aku memakainya untuk menonton video-video, yang mungkin karena juga di sekolahku sangat lancar.
tiba-tiba pintu kamarku terbuka, yang ku pikir ada hantu yang membuka pintu kamarku dan juga tiba-tiba lampu mati aku sangat ketakutan tapi ku paksakan diriku untuk melihat keluar kamar dan ternyata juga mati lampu. aku mulai ketakutan karena di rumah tidak ada orang dan hanyaaku yang ada di rumah, dalam benakku berkata "Tuhan Cobaan apalagi yang kau berikan padaku? Kenapa Hari ini aku sangat sia?l"
sekarang aku sangat ketakutan, Aku merasa seperti ada yang menatap natap aku dari kejauhan dan sekarang bulu-bulu tanganku berdiri Aku sangat merindukan sekali.
Sekarang aku akan beranjak ke kamarku lagi, aku berlari sekencang-kencangnya untuk bisa. sampai di kamarku saat itu hujan sangat deras dan menambah ketakutanku, aku merasa malam ini sangat lama sekali Sekarang aku ingin mengambil lilin ke gudang rumahku akan tetapi ketakutan masih menghantui ku.
tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat keras yang membuat jantungku berdebar sangat keras aku langsung berlari ke gudang dan mengambil lilin di gudang dan berusaha untuk meraihnya tiba-tiba aku mendengar suara barang yang jatuh aku langsung melihatnya ternyata tidak ada apa-apa, sekarang Aku langsung mengambil lilin aku kan tidak punya mancis, dalam benakku Bagaimana ini jika tidak punya mancis pakai apa aku menyalakan lilin in.i baik sekarang aku akan pergi ke dapur untuk menyalakan lilin mudah-mudahan gas masih banyak dan kompor masih bisa dinyalakan. aku berlari sekencang-kencangnya untuk sampai di dapur dan menyalakan lilin. Untunglah kompor gas nya bisa menyala dan sekarang aku tidak kegelapan lagi karena lilin sudah menyala
Sekarang waktunya aku untuk pergi ke kamar dan aku akan tidur dalam benakku, ternyata saat menuju ke kamar aku melihat bayangan dan belakangnya seperti yang ingin menerkamku dari belakang. Tuhan hidupkanlah lampu aku sangat ketakutan di rumah sendirian, aku tidak memiliki teman, ayah dan ibu pergi ke rumah nenek ku. aku sudah sangat tidak tahan dengan cobaan ini Tuhan, ucapku aku melanjutkan jalanku untuk sampai ke kamar aku berlari seperti ada orang yang mengejarku dari belakang.
Sampai di kamar aku seperti dihantui setan, aku mencoba berbaring di tempat tidur ku. akan tetapi aku melihat bantal guling yang kebanyakan seperti pocong, Bagaimana ini Tuhan? mau tidur saja aku sangat ketakutan Aku selalu membayangkan hal-hal aneh yang selalu menghantuiku sekarang aku merasa sangat ketakutan
aku bertekad untuk malam ini aku tidak akan tidur dan menunggu ayah dan ibuku pulang dari rumah nenek. Tuhan kenapa aku selalu berfikir yang aneh-aneh tentang yang ada di sekitarku, aku beranjak ke tempat tidur aku langsung menarik selimutku dan menutup kepala ku akan tetapi tidak berhasil.
Apakah memang malam ini akan menjadi malam yang panjang? aku selalu membayangkan ada hantu di dekatku, aku mengeluarkan kembali kepalaku dari dalam selimut aku menatap kearah asbes kamarku aku membayangkan seperti ada hantu yang menempel pada asbes kamarku, tapi tidak mungkin aku tidak bisa terus berpikir seperti itu Aku selalu menakut-nakuti diriku sendiri.
Sekarang aku tekat kan diriku untuk tidak takut dan aku berdoa, setelah aku berdoa aku merasa lebih lega biarpun masih ada rasa takut yang membayangiku.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu tuk.....tuk....tuk..... aku berlari sekencang-kencangnya untuk membuka pintu, ternyata ayah dan ibuku sudah pulang dari rumah nenekku .
"Ayah Ibu kenapa lama sekali pulang?" Ucapku
"Tidak kok ayah dan ibu hanya pergi 2 jam saja, kami pergi pukul 7 dan sampai di rumah pukul 9 malam ucap ibuku".
Iya kan mungkin karena aku tidak memiliki teman di rumah ucapku, kamu kan laki-laki, Apakah kamu ketakutan jika ditinggal sendiri dirumah ucap ayahku?
"Aku tidak takut Ayah hanya saja kan mati lampu makanya aku sangat ketakutan" ucapku.
" Sudahlah jangan bohong kamu memang ketakutan kan karena kami tinggal sendiri di rumah" ucap Ayahku sambil tersenyum menatap wajahku yang sudah mulai memerah.
"Heheheh Iya Ayah aku jujur memang tadi aku sangat ketakutan, apalagi kalian meninggalkanku waktu mati lampu, lagian tadi baterai hp-ku habis jadi aku tambah ketakutan , dan ayah dan ibu tahu sekarang Aku sangat takut jika aku ditinggal di rumah saat mati lampu ucapku sambil merengek".
" sudah-sudah lampu sudah hidup jangan berdebat lagi, Pergilah ke kamar dan segera tidur. apalagi kamu besok sekolah kamu harus tidur" ucap ibuku."
"Tidak Ibu aku tidak mau tidur sendiri, aku mau ditemani Ayah tidur untuk malam ini" ucapku.
" tidak boleh Doni kamu harus tidur sendiri Kamu kan laki-laki. tidak baik anak laki-laki tidur ditemani "ucap ayah." Tapi ayah, aku sangat ketakutan jika tidur sendiri aku"
" baik tapi hanya untuk malam ini saja, lain kali ayah tidak akan mau menemani kamu tidur" ucap ayahku."
" Terima Kasih Ayah, sekarang aku akan pergi ke kamar bersama Ayahku Kami pun tidur meskipun masih jam 9.30 malam"
"Ayo besok kamu juga kan mau sekolah,ayah juga mau pergi bekerja jadi kita harus bangun cepat"ucap ayahku.
Kami pun tidur dan aku tidak ketakutan lagi.
Lulus
Karya: Nisa Dearni Sinaga
Gerah sekali siang ini,saat panas matahari yang begitu terik memapar punggung para siswa dan siswi kelas IX B,smp bekasi yang sedang kebersihan siang itu. Demikian pula Lani yang tadinya memiliki semangat bekerja mencabut rerumputan di are sekitar bunga dan teman temannya Tesa dan Situ yang turut ikut dengannya.Mereka semua merasakan teriknya mentari sampai sampai mereka tidak tahan lagi meski pekerjaan itu tidak begitu berat.
Taman yang dulunya bersih dan dipenuhi oleh bunga bunga yang indah yang kini mulai bermekaran tetapi sudah hampir tertutup oleh rerumputan yang tumbuh subur diantaranya. Begitu juga dengan banyaknnya sampah yang berserakan di area taman,perbuatan dari orang orang yang tidak mengerti kebersihan, yang membuat mata tidak elok memandang.Guru guru semua sibuk di kantin,ada yang membahas pelajaran,ada yang bersantai,menggosip,dan tidur. Tetapi kebanyakan guru sedang mencari solusi kepada kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas siswa dan sekolah.Karena dari hari ke hari kebandalan siswa semakin merajalela,baik itu laki laki maupun semua sama saja.Para murid yang sedang membersihkan taman merasakan tariknya panas matahari,lama kelamaan mereka tidak tahan lagi dan banyak yang beranjak dari taman berhamburan entah kemana.Ada yang ke kelas, ke toilet juga ada ke kantin. Kegiatan bersih bersih ini biasa dilakukan sebelum ujian semester bagj kelas 7 dan 8 dan UN untuk kelas 9.Begitu juga Lani,Siti dan Tesa siswi kelas 9 yang akan mengikuti Ujian Nasional sekitar 2 bulanan lagi.
"Aduh... Kulitku terasa terbakar. Panas sekali." sahut Lani keluar dari taman.
"Iya... Aku juga gerah sekali, ayo kita ke kelas." kata Siti mengajak mereka.
"Kita seperti babu saja.Mereka tenang tenang di kantin,makan gorengan dan minum es teh." kata Tesa bersungut sungut.
"Ya begitu lah guru.Tidak ada yang mau mereka pikirkan,tugasnya hanya mengajar,menyuruh, dan memerintah" kata Lani menambahi.
Cukup lama mereka berbincang bincang di kelas itu, sampai sampai lupa untuk kebersihan.Seorang guru perempuan yanv memiliki postur tubuh tinggi,galak mengajar dalam bidang studi fisika datang ke kelas itu.
"Hei...Sedang apa kalian.Keluar.. Kalian itu disuruh bersih bersih bukan bersantai." bentak guru itu di dekat pintu.
Sambil terkejut,mereka menyimpan bontot tehnya masing masing
"Maaf buk. Tadi cuacanya sangat panas,kami hanya istitahat sebentar." kata Lani menuturkan
"Sudah lah.Jangan banya alasan lagi.Pergi...bersihkan taman itu." lanjut ibu itu.
Mereka kembali membersihkan area taman itu,ada yang mencabut rumput, memungut sampah, dan juga ada yang mengumpulkan sampah ke dalam tong sampah.
"Ah.. Ini tidak adil,kita kan kesekolah untuk belajar,sekarang kenapa terbalik.Kita malah disuruh bekerja." kata Tesa bersungut sungut.
"Sudah lah. Apa gunanya bersungut sungut begitu? Malah nambah beban pikiran saja kan. Lebih baik kerjakan saja, agar cepat selesai dan kita bisa ke kantin." sahut Siti.
Begitu lama mereka membersihkannya,setelah selesai mereka cepat cepat ke tempat yang teduh.Keringat mereka bercucuran,baju mereka basah akibat banyaknya keringat.
"Ahhh...panass..Tubuhku rasanya terbakar." kata Tesa terengah engah
"Terus bagaimana ini? Kita mau kemana? Aku juga tidak tahan lagi."sahut Lani
"Ehh.Dengar ni.Bagaimana kalau kita ke kantor guru saja,disanakan ada AC jadi kita bisa sejuk sejukan." tanya Tesa
"Ah.. Gak mau. Nanti kalau ketahuan bagaimana?" kata Lani khawatir
"Cuman sebentar saja kok.Ayolahh.." bujuk Tesa
"Iya ,lagian semua guru juga di kantin kan!" kata Siti menjelaskan
Sambil dibarengi rasa khawatir,diapun akhirnya luluh dan ikut saja.Sesampainya di ruang guru,rasa khawatir mereka hilang,tidak ada lagi yang mereka pikirkan.Badan mereka tiba tiba sejuk,adem dan tidak kepanasan lagi.Sangking enaknya,mereka terlalu lama lama di dalam ruangan itu dan pada saat itu pula,lewatlah satpam penjaga sekolah dan melihat mereka.
"Heii.. Sedang apa kalian? Mencuri ya?"tanya satpam itu
"Tidak pak.Kami hanya kepanasan,kan disini ada AC udaranya dingin." kata Lani terkejut
"Ah.. Itu cuman alasan kalian saja. Ayok ikut bapak ke ruangan BK." kata satpam itu.
"Yahh..jangan pak. Sumpah kami tidak ada berbuat apa apa." kata Siti jantungan
"Ah sudah lah..Nanti kalian jelaskam di ruangan BK" sahut si satpam
Setibanya sampai di ruangan BK guru BK sudah menanti dengan kaki bersilang.
"Apa yang kalian lakukan disana." tanya guru BK
"Sumpah buk.Kami tidak melakukan apa apa,kami hanya kepanasan." jawab Tesa gemetaran
"Baiklah.Tunggu sebentar.Saya akan periksa ke sana.Apakah ada sesuatu yang hilang." kata guru itu sambil bergegas pergi.
Setelah sekian lama menunggu,guru BK itupun datang.
"Memang tidak ada yang hilang,tetapi kalian tidak sopan masuk tanpa izin,kalian harus dihukum." kata guru BK itu tegas
"Yah..Baiklah.Kalau tidak mau. Nanti saya kasih surat panggialan saja." lanjut ibu itu tadi
"Jangan buk.Iya kami mau kok dihukum." kata Tesa terkejut
"Yasudah lah. Silahkan bersihkan semua kamar mandi yang ada di sekolah ini sampai semuanya bersih." kata ibu itu menjelaskan.
"Aduh.Apa tidak ada hukuman lain?" tanya Siti
"Mau apa tidak?"tanya guru itu lantang
"Iya iya buk.Kalau begitu kami permisi." sahut mereka sambil pergi.
Mereka berjalan sambil menuju kamar mandi dekat kantor guru.
"Baru saja capek,sudah kerja lagi. Nasib.. Nasib..." kata Tesa
"Itukan ide kamu" sahut Siti
"Eh..sudah sudahh... Ayo cepat siapkan." kata Lani memotong pembicaraan mereka
"Kring.. Bel pulang berbunyi.. Mereka pulang ke rumah masing masing.
"Ni.. Nanti kami ke rumahmu ya. Kita belajar bareng." sahut Tesa
"Oke.. Hubungi saya nanti kalau mau datang" kata Lani
Walaupun nakal,mereka juga termasuk murid yang mau belajar. Apalagi ini menjelang Ujian Nasional.
Hari ke hari,mereka tetap seperti biasa,sering kena hukum, bahkan hukumannya lebih berat.setiap hari mereka selalu belajar, membahas bahas soal ujian yang telah berlalu. Semakin hari kesibukannya mereka semakin banyak,bermain bersamapun mereka sudah jarang.
Satu hari terakhir belajar seperti biasa,mereka kembali dihukum,gara gara kelakuan mereka.Mereka disuruh menghormat bendera satu harian. Matahari begitu terik,menembus celah benang benang baju mereka.
"Aku ingin cepat cepat lulus,aku sudah muak dengan masa smp ini"kata Tesa merengik
"Iya. Aku juga." sahut Lani dan Siti
"Nanti setelah lulus,aku tidak akan pernah kesini lagi."kata Siti
Hingga tibalah waktunya untuk ujian,merekapun mengikuti ujian bersama. Dan akhirnya mereka lulus dengan hasil dan nilai yang memuaskan.
Mereka lalu masuk ke SMA yang mereka inginkan masing masing,mereka terpisah di masa SMA. Masing masing mulai mejalani hidup masing masing dengan keadaan sekolah dan teman yang baru. Hingga pada suatu hari,SMP mereka mengumumkan untuk mengambil ijazah smp yang sudah selesai dibuat.Mereka lalu berjanji untuk mengambilnya bersama sama dan bertemu di sekolah mereka dulu itu.Saat berjumpa,mereka saling berpelukan,begitulah karena sudah rindu tak lama bertemu.Sambil menyusuri komplek sekolah lamanya,mereka berbincang bincang.
"Tidak terasa ya.Kita sudah lulus dari smp ini."sahut Tesa sambil berjalan
"Eh.kamu ingat gak,kita kemarin dihukum menghormat bendera disini seharian."tanya Siti sambil terseyum.
"Hahaha...Ternyata kalok diingat ingat seru juga ya." kata Lani menyambung
"Aku menyesal kemarin bilangnya mau cepat cepat pergi dari sekolah ini.Ternyata tidak seenak yang aku bayangkan dulu."kata Tesa
"Aku hanya ingin semua itu kembali."kata Lani sambil memeluk sahabatnya.
Penulis adalah siswa SMAN 1 PURBA
Mimpi Jadi Sang Juara
Karya: Yoan Saragih
Di suatu desa namanya desa suka-suka, seorang ayah sedang mencari anaknya karena sudah pukul 5 sore sang anak bungsu yang bernama Aldo belum pulang ke rumah. Biasanya jam 4 sore Aldo sudah sampai di rumah. Sam ayahnya sangat khawatir karena hujan sudah mau turun. Sambil menunggu Aldo, Sam pergi ke warung kopi dekat rumah mereka.
“Mau minum apa Sam?” Kata pemilik warung kopi.
“Mm... Ada kopi susu?” Tanya Sam.
“Ia ada lah, namanya juga warung kopi!” Jawab sang pemilik warung kopi.
“Kopi susu aja satu” Jawab Sam.
Ketika Sam minum kopi dia merasa sangat cemas memikirkan anaknya yang belum pulang ke rumah. Sambil memikirkan anaknya, Sam pun mulai meminum kopinya.
“Aduh aduh... Panas panas!” Kata Sam.
“Hahaha... Airnya baru mendidih Sam” Jawab pemilik warung.
“O... Aku lupa” kata Sam.
Tak lama kemudian Aldo anaknya datang diam-diam dari belakang Sam dengan tujuan mengejutkan sang ayah supaya tidak kena marah oleh ayahnya.
“Duarrrrrrr...” Kata Aldo.
“Aduh... siapa itu, kamu ternyata Aldo” Jawab Sam ayahnya, sambil merasa terkejut.
“kamu dari mana saja, ini sudah jam lima kamu baru pulang, hey nak kamu bukan orang dewasa, ayah cemas memikirkan mu, ayah mau kamu tidak mengulangi hal yang sama” Kata sang ayah dengan rasa marah.
“Tadi kami kerja kelompok yah, makanya lama pulang”
Jawab Aldo dengan rasa takut.
“Lain kali kalo kerja kelompok pamit dulu biar ayah tidak cemas” Kata Sam.
“Tadi belajar apa nak?” tanya Sam.
“Belajar tentang tehnik-tehnik berlari yah” Jawab Aldo.
Setelah permasalahan mereka selesai mereka pun kembali pulang ke rumah mereka. Ketika mereka sampai di rumah, ternyata ibu Aldo yang bernama Eva telah menunggu mereka di depan pintu rumah mereka. Ibu Aldo pun berkata:
“Kalian dari mana?” Tanya Eva kepada Sam dan Aldo.
“Dari warung kopi sebalah” Jawab Sam.
“Sudahlah, buka pintu aku sudah lelah” Kata Eva.
Masuklah mereka kedalam rumah mereka itu. Istirahatlah ibu Aldo yang bernama Eva itu.Mereka pun sama-sama beristirahat sambil menonton TV. Karena hari mulai malam, Sam pun menyuruh Aldo belajar.
“Aldo, Belajar nak supaya kelak bisa menjadi sang juara yang bisa membanggakan Nagara termasuk ayah dan ibu mu”. Perintah sang ayah.
“Ia yah”.Jawab Aldo.
Setelah Aldo selesai belajar Sam pun menyuruh si Aldo tidur. Tak lama kemudian Aldo pun bermimpi menjadi sang juara. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Aldo tidur lebih awal dari semua para anak-anak di desa itu. Entah mungkin terlalu lelah sehabis beraktivitas di siang hari tadi. Tidur lebih awal bangun terlambat itulah aku.
Hari ini sebuah kontes akan di lakukan di sebuah aspal hitam yang terletak di antara dua pekarangan yang cukup indah entah kota apa namanya dan disini lah tempat lomba lari maraton itu di selenggarakan. Terlihat orang-orang penghuni dari sebuah kota yang menjadi peserta lomba hari ini. Seorang ayah pun tak mau ketinggalan menyaksikan perjuangan anaknya dalam memperebutkan gelar sebagai” Sang Juara”
Beberapa saat kemudian sampailah kita di tempat perlombaan maraton itu. Seperti dalam perlombaan dalam dunia nyata, sebagaimana bisa terlihat wasit sebagai pemimpin lomba dan menjelaskan jenis lomba hari ini dengan aturan mainnya. Yang saya ingat wasit menjelaskan dengan suara tegas seperti ini:
“Hadirin semua...Selamat datang dalam lomba maraton!! Yang diselenggarakan rutin setiap akhir bulan di seluruh penjuru dunia ini!!” kata sang wasit muda.
Perlombaan pun dimulai, lambain pemimpin pertandingan sebagai tanda peserta segera bersiap siap. Jadi peserta hanya konsentrasi dalam mendengar suara sempritan maka peserta harus segera mulai berlari sampai nanti mencapai garis finis. PRITTTTT... Pertandingan dimulai saya dan semua lawan saya mulai berlari di jalan yang sudah di tentukan. Berlari untuk menjadi sang juara adalah usaha yang sangat berat dan harus di laksanakan.
Ditengah perjalanan Aldo merasa sangat lelah dan Aldo pun tetap bersemangat dan mempertahankan kecepatannya karena ia berada di posisi pertama. Tak lama kemudian ayahnya Sam datang membawa motor untuk memberi semangat kepada Aldo.
“Ayo nak kamu pasti bisa” kata sang ayah.
Aldo pun kembali bersemangat dan garis finis pun semakin dekat. Kemudian Aldo mendengar suara gonggongan tidak lain adalah seekor anjing yang bersiap-siap untuk mengajar Aldo. Aldo pun berteriak sambil ketakutan. Ketakutan Aldo membuat kecepatannya semakin bertambah karena di kejar anjing jalanan itu. Di sela-sela ketakutannya ada sisi baik untuk dirinya dia semakin dekat ke garis finis. Lama kelamaan anjing itu tidak mengejar Aldo lagi dan para lawannya tertinggal jauh di belakanganya. Karena di kejar anjing jalanan itu Aldo pun sudah mengeluarkan semua tenaganya untuk mengelakkan anjing itu. Aldo pun kembali merasa lelah dan sangat lelah dari sebelumnya, Aldo pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil berjalan dan dia mendengar suara hempasan kaki seperti orang yang sedang berlari di belakangnya. Karena mereka berdua pun sudah sangat lelah mereka pun memutuskan untuk berjalan bersama.
Di posisi tubuh yang lelah terdengar suara penonton dan pendukung dari para berlomba. mereka pun refleks untuk berlari dengan secepat mungkin untuk menjadi juara pada lomba ini.
“Huuuuahhhhhh” dengan semangat mereka mengatakannya dan hampir bersamaan.
“Aldo aldo aldo aldo” teriak sang pendukung dan adapun dengan semangatnya memenangkan pertandingan.
“Yeahhhhh” teriak aldo sang juara.
Anakku hebat aduh menangkal utang juara teriakan itu pun terdengar nyaring yang datang dari barisan penonton itu suara dari ayah sayang telpon dengan senang hati membalasnya sambil mengangkat kedua tangan. Wasit pun mengagumkan dengan pengeras suaranya hasil pertandingan hari ini meskipun peserta yang lain belum mencapai garis finish mungkin mereka sedang berusaha untuk sampai finish. hadirin semua pemenang lomba marathon hari ini adalah aldo kata sang juri karena telah berhasil mencapai garis finish saya bangga dan naruto rasanya menjadi pemenang dari perlombaan kali ini mencari juara memang sesuatu yang membanggakan dan tidak semua orang pernah merasakannya. Tampak penonton mulai membubarkan diri dalam perjalanan ke rumah mereka bercerita sambil mengulas kembali hasil pertandingan hari ini. karena terlintas kata ibu pada mimpi itu ternyata muda sang ibu sedang membangun aldo dari tempat tidurnya. Dan mimpi menjadi tank juara pun berakhir.” ayo nak bangun kamu hari ini masuk sekolah” kata ibu.
Itu sampai di sekolah halo pun menceritakan mimpinya itu kepada teman-temannya dengan rasa bahagia.
Bermimpi lah setinggi langit jika engkau dan mimpimu jatuh bergantung diantara bintang bintang.
“TAMAT”
Penulis adalah siswa SMAN 1 PURBA
Kelas Ku
Karya: Risdame Purba
Pagi ini terasa sangat dingin sekali, tangan dan kaki terasa dingin sekali seperti es yang membeku, bibir pun sudah mulai membiru, badan terasa menggigil padahal sudah memakai kaus kaki tebal dan sudah pakai jaket tetap saja terasa dingin.
Sewaktu aku ingin berangkat ke sekolah aku meminta ijin kepada orangtua ku dan menyalam-nya dan mamaku pun mengingatkan supaya rajin belajar, dengan begitu ada semangat untuk selalu hadir ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, matahari pun sudah memancarkan sinar-nya yang begitu indah, berwarna ke orange-orange-an. Aku menikmati keindahan mentari itu sejenak sebelum memasuki kelasku. Setelah badanku mulai terasa hangat dengan bantuan sinar matahari, aku sangat bergembira dan menambah semangat ku untuk memasuki kelas.
Waktu itu adalah awal dimana aku memasuki kelas baru ku. Awalnya gugup dan takut bagaimana nanti-nya aku di kelas ku, tetapi banyak teman SMP ku dulu yang sekelas dengan ku . Dengan cepat aku mengambil kursi bagian depan. Namun, biarpun teman SMP aku masih merasa takut.
Dan tak lama kemudian ada seorang perempuan bermana yang Yuliani yang berbadan gemuk dan tinggi. Namun dia menjadi teman satu meja ku .Wajah nya sedikit seram dan sifat nya agak sedikit galak. Pada pukul 07:15 bel sekolah pun berbunyi dan menyuruh kami berbaris ke lapangan ,aku melihat di sekitarku banyak wajah wajah wajah yang tidak aku kenali,aku semakin gugup untuk melihat ke arah mereka tapi terasa mereka semua menoleh ke arah ku, dan aku hanya terdiam saja 😁
Setelah semua sudah rapi berbaris pak guru pun langsung memberi arahan dan amanat untuk kami. Dia juga bercerita banyak tentang sekolah itu.
Kemudian kami masuk ke ruangan ,kami saling bercerita tentang pengalaman selama libur semester dan tak lama kemudian datang lah guru keruangan kelas kami dan dan dia memperkenalkan dirinya sebagai guru. Kemudian Dia menyuruh kami untuk saling memperkenalkan diri ke teman-teman kami diawali dari saya.
Pada pukul 09:50 bel pun berbunyi yang menandakan sudah waktunya istirahat. Kami menikmati waktu istirahat.seiring berjalannya waktu saya sudah mengenal lebih banyak teman di sekolah ku dan guru di sekolahku. Di kelasku sangat menyenangkan jika salah satu teman sedang sedih maka teman yang lainnya akan menghibur teman yang lagi sedih. Teman di kelas ku memiliki watak yang baik hati .
Yuliana adalah teman semeja ku, awalnya dia sedikit cuek, sombong dan dia tidak peduli denganku. Namun seiring berjalannya waktu aku mulai mengenal lebih dekat dengan dia ternyata dia adalah seorang perempuan yang lucu,baik, pintar dan penolong, walaupun ada sedikit keras kepala heheh 😁😁. Banyak kisah yang ku ceritakan pada nya, bahkan aku sering curhat tentang kehidupanku kepadanya.
Aku sangat senang mengenal dia, disaat aku sedang susah dia akan mencari cara untuk membuat aku kembali lagi tersenyum dan melakukan hal-hal konyol dengan dia.Tepat pukul 14:00 bel pun berbunyi dan menandakan sudah waktunya pulang tetapi sebelum itu kami harus bersih-bersih kelas dulu sebelum pulang dan setelah ruangan bersih kami pun disuruh untuk menutup ruangan kami dan kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya kami pun kembali ke sekolah untuk melakukan proses mengajar kami seperti biasanya dan begitulah seterusnya. Aku sangat senang melalui hariku di sekolah walaupun kadang banyak hal-hal yang membuat aku sedih dan selalu membuat aku kepikiran tentang hal itu tapi di sekolah banyak kutemukan teman yang bisa menerima aku apa adanya seperti Yuliana yang sering kusebut dengan sebutan dinpeng.
Banyak hal yang kuceritakan pada dinpeng mulai dari kisah di rumah di tempat-tempat umum di gereja dan bahkan kadang aku menceritakan tentang kisah ku kepadanya. Dikelas kami selalu tertawa dan kadang kami berantem dan kemudian kami musuhan dan kemudian kami lagi dan tertawa melihat tingkah kami yang kadang konyol.
Kadang kami serius untuk belajar kami, kadang bermain-main untuk belajar semisalnya di saat aku sedang rajin belajar dan serius untuk belarjar dia akan mengganggu aku dan aku pun begitu ketika dia rajin dan serius belajar aku akan mengganggu dia dan mengajak dia untuk bermain-main hal-hal yang lucu dan melakukan hal-hal yang konyol bersama seperti orang gila, namun itu wajar saja karena kami sudah menganggap seperti saudara, kami saling melengkapi kami tidak malu dengan apa yang kami kerjakan setiap harinya karena itu hal itu kami anggap sudah biasa dilakukan oleh kakak dan adik. Namun di balik tingkah kami yang gila kami memiliki rasa persahabatan yang kuat dan kami saling berpengaruh satu sama lain misalnya saja dinpeng menyukai pelajaran fisika karena saling bergaul dan sering bersamanya saya juga menjadi suka fisika entah kenapa saya dan dinpeng menjadi jatuh cinta kepada pelajaran fisika.
Namun dibalik tingkahnya yang aneh dan gila bintang yang juga memiliki sifat yang dapat dikatakan dapat dicontoh misalnya saja, Dinpeng sering memotivasi, dia sering memotivasi orang orang dengan rumus-rumus fisika misalnya saja hukum pertama Newton pada hukum pertama Newton itu adalah gaya sama dengan nol Jadi jika suatu benda yang bergerak lurus tidak akan berpengaruh jika tidak dipengaruhi oleh gaya seperti dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidak akan terpengaruh kepada hal-hal buruk tanpa ada gaya-gaya atau pengaruh pengaruh buruk dari luar yang mempengaruhi orang tersebut begitulah menurut pendapatmu dan itu juga dapat masuk akal.
Di dalam kelasku terdiri dari 34 siswa yang di mana kami ada 8 bersahabat yang di mana kami memang kerap bersama melakukan hal-hal konyol bersama dan belajar bersama dan kami sudah menganggap kami berdelapan itu kakak beradik yang dihubungkan dalam satu hubungan darah walaupun tidak semuanya seperti yang diharapkan Namun kami beranggapan bahwa kami itu dapat saling melengkapi untuk melangkah lebih maju karena kami sudah saling dekat satu sama lain setiap orang memiliki nama panggilan yang bisa dikatakan konyol misalnya saja Destri dipanggil destrong , lenny dipanggil lenong Delvina dipanggil delde, Vita dipanggil vitong, tioma dipanggil tayomee dan Elizabeth dipanggil subet.
Namun lain dari persahabatan dan kekeluargaan kami seperti remaja biasanya saya juga mengalami yang namanya jatuh cinta. Dia memiliki paras yang tampan memiliki kulit yang hitam manis tinggi tidak terlalu gemuk dan memiliki gingsul satu lagi lesung pipit bagaimana tidak jatuh cinta dia merupakan sosok yang aku idam-idamkan ditambah lagi dia pintar bermain gitar menurutku itu adalah laki-laki yang perfect untukku namanya dear.
Saya mencintai dia sejak kami duduk di bangku kelas 10 dia dulunya tidak menyukai saya entah kenapa dia tidak menyukai saya. Mungkin dia tidak suka dengan kekonyolan saya berlebihan dan dulu saya juga sering beradu akting di dalam kelas mungkin karena hal itu dia tidak suka kepada saya. namun yang tidak disangka di waktu saya sudah mulai untuk move on dari dia ternyata tidak tahu kenapa tumbuh rasa saling cinta di hatinya, memang saya berusaha untuk move on dari dia, namun move on itu tidak mudah seperti membalikan telapak tangan.
Saya menceritakan hal tersebut kepada teman saya seluruh teman saya yaitu yang 8 tadi lalu tanpa disangka dear jatuh cinta kepada saya tepatnya pada tanggal 23 tepatnya di bulan September pada jam terakhir di kelas kami. Dia menembak saya itu mengapa saya sangat mencintai kelas saya karena di kelas saya, saya mengalami berbagai hal mulai dari sedih suka juga kami lalui bersama yang telah menjadi saksinya.
Karena saya sering bucin atau yang disebut dengan budak cinta saya disebut dengan julukan “nyonya bucin”. Dulu sempat terjadi perselisihan diantara kami yang bersahabat karena saya berubah saya juga tidak tahu saya berubah di bidang mana namun hal tersebut dapat diselesaikan karena dia seperti tadi kami saling melengkapi dan saling mengisi, hal tersebut tidak memecahkan persahabatan di antara kami justru masalah-masalah yang muncul diantara persahabatan kami justru lebih memperkuat kami untuk menjalin hubungan yang lebih baik dan lebih dekat lagi agar tidak terjadi suatu selisih paham yang dapat menghancurkan persahabatan yang sudah kami bangun sejak lama hal itu dapat merugikan jika terjadi pada persahabatan kami.
Diantara kami yang berlapan dulunya hanya satu yang memiliki pasangan yaitu Tioma dan kami bertujuh jomblo dan itu waktu kelas 10 entah kenapa pada kelas 11 yang tidak disangka kami memiliki pasangan walaupun kadang diantara kami yang bersahabat memiliki rasa malu untuk memberitahu satu sama lain contohnya saja dinpeng ternyata dia sudah memiliki pasangan sejak Dia kelas 10 dan kami tidak mengetahuinya dia tidak berubah dia sama seperti yang biasanya konyol dan gila walaupun sudah memiliki pasangan dia tidak malu untuk berbuat hal-hal yang gila di depan kami sahabat-sahabatnya Dia sudah menjalin hubungan 3 bulan lamanya tanpa kami ketahui dia sering menyebutnya dengan backstreet.
Tidak lama setelah itu terkuaklah satu persatu rahasia yang terjadi antara kami berdelapan yaitu bahwa satu sama lain sudah memiliki pasangan dan sama seperti dinpeng, mereka juga menjalin hubungan di belakang atau back street tanpa memberitahu satu sama lain karena malu untuk memberitahu satu sama lain.
Begitulah kisah kasih kami di sekolah banyak semangat banyak motivasi banyak rasa kesal banyak duka banyak suka yang menghampiri kami Namun kami tahu bahwa itu adalah bunga-bunga kehidupan
Itulah kisah kami di kelas sehingga kami takut untuk berpisah tidak pernah terlintas di benak kami untuk berpisah namun suatu saat ketika saya berpikir bagaimana jika pertengkaran dapat memecahkan persahabatan di antara kami mungkin hal itu dapat membuat kami satu sama lain menjadi down. Dan untungnya karena rasa rasa saling percaya hingga saat ini persahabatan di antara kami masih terjalin dengan baik justru makin dekat karena kami sudah mengetahui sifatnya lebih dalam bagaimana dia karakter dia sifat dia dan bagaimana sikap dia kepada orang-orang dan ketahuilah bahwa sahabat akan selalu ada disamping kita saat kita mengalami kesusahan senang maupun duka itulah makna sahabat yang ungkapkan saya juga memiliki impian, untuk kami masih tetap bersama dan tepatnya di kelas yang sama di kelas 12 nanti dan tidak lain dari itu kelas juga lah yang akan menjadi saksi dari persahabatan kami.
Penulis adalah siswa SMAN 1 PURBA
Keadilan yang Tidak Mau Berpihak Pada Ku
Karya: Grace Landong Olyvia Panjaitan
Udara di sekitar sangat merasuki pori-pori ku yang kecil. Sehingga membuat bulu tanganku yang lembut dan tipis menjadi terasa, seperti jarum yang berdiri tajam. Angin malam menusuk hingga kedalam tubuhku. Aku bagaikan tidur di dalam kulkas yang hidup semalaman. Tubuhku kaku. Aku seperti es batu, yang susah untuk digerakkan. Kukenakan selimut yang berlapis-lapis hingga tujuh lapis, namun aku merasa seperti memakai selimut setipis tisu. Bibirku mulai membiru.
Dan gigiku pun gemetaran bagaikan mesin jahit yang tak mau berhenti. Aku bagaikan terdampar di Kutub Utara. Kupandangi langit-langit yang sudah mulai tak terlihat, oleh karena lintasan laba-laba yang amat banyak. Tembok kusam tanpa lapisan cat yang menempel. Begitulah keadaannya. Amat sederhana.
Kupejamkan mata untuk pergi ke dunia lain. Yang pasti aku senang di sana. Jikalau aku pergi ke dunia itu bagaikan hidup di surga. Dunia yang Siapa saja boleh menikmatinya. Tanpa terkecuali. Keluar masuk tanpa dipungut biaya. Cukup pejamkan matamu dan biarkan pikiran, atau imajinasimu, membawamu pergi ke dunia itu. Pergi dan nikmati dunia itu, selagi imajinasimu masih terus berjalan. Rasanya tidak ingin keluar dari dunia imajinasi tersebut.
Namun itu hanyalah imajinasi. Berbeda dengan dunia yang harus kujalani. Dunia yang begitu kejam, begitu pahit, begitu penuh sandiwara dunia nyata yang hanya memikirkan harta dan jabatan tanpa memikirkan nasib orang-orang di sekitarnya.
Aku masih merasakan angin malam yang masuk melalui pori-pori kulitku, yang kecil. Kelopak mataku yang terasa berat, rasanya seperti menahan beban 1 ton beratnya. Aku mulai membukakan mata, yang masih rabun untuk melihat dunia nyata, yang amat pahit, seperti minum empedu ikan. Namun itulah dunia yang wajib kujalani.
Aku merasa kehilangan sesuatu, kehilangan satu hal yang sangat ku butuhkan di setiap pagi ku. Aku mulai melangkah menuju jendela kecil ku, menghirup udara segar, udara tanpa noda. Terlihat embun pagi yang masih melekat pada dedaunan pohon, rumput, dan bunga. Aku merasakan udara dingin bersih masuk ke dalam tubuhku, melalui lubang hidungku yang kecil.
Seketika, aku melihat matahari tak muncul pagi ini. Mungkin dia tertutup oleh awan pagi yang gelap dan tebal. Mungkin sebentar lagi, bumi akan dijatuhi oleh ribuan titik-titik air. Dan tak lama kemudian, benar, bumi telah diserang oleh ribuan titik-titik air. Dengan membalikkan badan, tak sengaja aku melihat jam dinding tua yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Oh... Tidak... Aku akan terlambat" teriaku.
Tanpa berpikir panjang, seketika aku mulai berlari secepat kilat menuju kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Sialan.. Mengapa tidak ada yang membangunkanku" ucapku kesal.
Dengan segera, setelah aku selesai memakai pakaian seragam, aku menuju ruang belajar dan segera menghadang tasku, dan pergi menuju ruang tamu untuk pamit kepada kedua orang tua.
"Mengapa ibu tidak membangunkanku" ucapku kesal.
"Apakah kamu tidak tahu hari ini hari apa nak? " tanya ibu.
"Hari ini kan hari senin bu... Yah aku harus berangkat ke sekolah" jawabku.
"Coba kamu lihat kalender" balas ibu menyuruhku.
Dengan segera aku pergi ke kamar untuk melihat kalender dan seketika aku merasa tertipu ternyata hari ini adalah hari Minggu. Aku pun pergi menemui ibu di ruang tamu dengan rasa malu
"Mengapa ibu tidak memberitahu kepadaku kalau hari ini adalah hari minggu? " tanyaku pada ibu.
"Lah, ibu mengira kamu tahu kalau hari ini adalah hari minggu maka dari itu, ibu tidak membangunkanmu" balas ibu.
"Untung saja aku tidak sampai pergi keluar untuk berangkat kesekolah, bisa-bisa aku ditertawakan oleh warga satu kampung disini" ucapku kesal.
"Makanya lain kali kamu harus teliti, harus terlebih dahulu memperhatikan hal-hal yang akan di kerjakan, bukannya asal pergi-pergi aja" nasehat ibu.
"Iya, iya bu, janji aku enggak bakal ngulangin hal itu lagi. Janji" ucapku.
"Kalau begitu sekarang kamu ganti baju sana" suruh ibu.
"Aku ganti baju dulu yah bu" jawabku.
Dengan perasaan yang masih kesal, aku pergi ke kamar dan mulai mengganti seragamku
Hari ini terlihat mendung. Sampai sekarang matahari tak mau muncul. Seperti biasa aku mulai melakukan segala pekerjaan rumah, yang telah menjadi tanggung jawab ku setiap hari. Mulai dari memasa, menyapu ruma, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Rasaku seperti budak saja. Aku selalu mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan di dalam rumah. Namun berbeda dengan saudara-saudariku yang lain, mereka hanya duduk dan memerintah saja.
Namun bagiku itu sudah bias, karena setiap saat aku memang selalu di bedakan. Aku selalu mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang berat, namun saudara-saudariku tida. Begitulah kenyataannya.
Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah setiap pagi, dengan seorang sahabat yang selalu menunggu ku. Agar pergi bersama setiap pagi ke sekolah. Dia terlihat gemuk dan pendek. Dengan bulu-bulu tangannya yang lebat dan panjang. Dia terlihat anggun. Namun dia tak sebaik yang terlihat, dia diam-diam menyukai pacarku. Ya betul. Aku mempunyai seorang teman lelaki. Dia putih. Tidak terlalu tinggi dan baik hati.
Aku tak bisa berkata apa-apa jika dia selalu dekat dengan pacarku. Karena, aku dan dia sangatlah berbeda. Dia cantik namun aku sebaliknya. Bagaikan langit dan bumi. Aku hanya bisa terdiam. Disaat melihat mereka tertawa bersama, meski rasanya sakit, namun apa boleh buat. Hidupku memang sangat tidak adil, aku selalu tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Udara di sekitar sangat merasuki pori-pori ku yang kecil. Sehingga membuat bulu tanganku yang lembut dan tipis menjadi terasa, seperti jarum yang berdiri tajam. Angin malam menusuk hingga kedalam tubuhku. Aku bagaikan tidur di dalam kulkas yang hidup semalaman. Tubuhku kaku. Aku seperti es batu, yang susah untuk digerakkan. Kukenakan selimut yang berlapis-lapis hingga tujuh lapis, namun aku merasa seperti memakai selimut setipis tisu. Bibirku mulai membiru.
Dan gigiku pun gemetaran bagaikan mesin jahit yang tak mau berhenti. Aku bagaikan terdampar di Kutub Utara. Kupandangi langit-langit yang sudah mulai tak terlihat, oleh karena lintasan laba-laba yang amat banyak. Tembok kusam tanpa lapisan cat yang menempel. Begitulah keadaannya. Amat sederhana.
Kupejamkan mata untuk pergi ke dunia lain. Yang pasti aku senang di sana. Jikalau aku pergi ke dunia itu bagaikan hidup di surga. Dunia yang Siapa saja boleh menikmatinya. Tanpa terkecuali. Keluar masuk tanpa dipungut biaya. Cukup pejamkan matamu dan biarkan pikiran, atau imajinasimu, membawamu pergi ke dunia itu. Pergi dan nikmati dunia itu, selagi imajinasimu masih terus berjalan. Rasanya tidak ingin keluar dari dunia imajinasi tersebut.
Namun itu hanyalah imajinasi. Berbeda dengan dunia yang harus kujalani. Dunia yang begitu kejam, begitu pahit, begitu penuh sandiwara dunia nyata yang hanya memikirkan harta dan jabatan tanpa memikirkan nasib orang-orang di sekitarnya.
Aku masih merasakan angin malam yang masuk melalui pori-pori kulitku, yang kecil. Kelopak mataku yang terasa berat, rasanya seperti menahan beban 1 ton beratnya. Aku mulai membukakan mata, yang masih rabun untuk melihat dunia nyata, yang amat pahit, seperti minum empedu ikan. Namun itulah dunia yang wajib kujalani.
Aku merasa kehilangan sesuatu, kehilangan satu hal yang sangat ku butuhkan di setiap pagi ku. Aku mulai melangkah menuju jendela kecil ku, menghirup udara segar, udara tanpa noda. Terlihat embun pagi yang masih melekat pada dedaunan pohon, rumput, dan bunga. Aku merasakan udara dingin bersih masuk ke dalam tubuhku, melalui lubang hidungku yang kecil.
Seketika, aku melihat matahari tak muncul pagi ini. Mungkin dia tertutup oleh awan pagi yang gelap dan tebal. Mungkin sebentar lagi, bumi akan dijatuhi oleh ribuan titik-titik air. Dan tak lama kemudian, benar, bumi telah diserang oleh ribuan titik-titik air. Dengan membalikkan badan, tak sengaja aku melihat jam dinding tua yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Oh... Tidak... Aku akan terlambat" teriaku.
Tanpa berpikir panjang, seketika aku mulai berlari secepat kilat menuju kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Sialan.. Mengapa tidak ada yang membangunkanku" ucapku kesal.
Dengan segera, setelah aku selesai memakai pakaian seragam, aku menuju ruang belajar dan segera menghadang tasku, dan pergi menuju ruang tamu untuk pamit kepada kedua orang tua.
"Mengapa ibu tidak membangunkanku" ucapku kesal.
"Apakah kamu tidak tahu hari ini hari apa nak? " tanya ibu.
"Hari ini kan hari senin bu... Yah aku harus berangkat ke sekolah" jawabku.
"Coba kamu lihat kalender" balas ibu menyuruhku.
Dengan segera aku pergi ke kamar untuk melihat kalender dan seketika aku merasa tertipu ternyata hari ini adalah hari Minggu. Aku pun pergi menemui ibu di ruang tamu dengan rasa malu
"Mengapa ibu tidak memberitahu kepadaku kalau hari ini adalah hari minggu? " tanyaku pada ibu.
"Lah, ibu mengira kamu tahu kalau hari ini adalah hari minggu maka dari itu, ibu tidak membangunkanmu" balas ibu.
"Untung saja aku tidak sampai pergi keluar untuk berangkat kesekolah, bisa-bisa aku ditertawakan oleh warga satu kampung disini" ucapku kesal.
"Makanya lain kali kamu harus teliti, harus terlebih dahulu memperhatikan hal-hal yang akan di kerjakan, bukannya asal pergi-pergi aja" nasehat ibu.
"Iya, iya bu, janji aku enggak bakal ngulangin hal itu lagi. Janji" ucapku.
"Kalau begitu sekarang kamu ganti baju sana" suruh ibu.
"Aku ganti baju dulu yah bu" jawabku.
Dengan perasaan yang masih kesal, aku pergi ke kamar dan mulai mengganti seragamku
Hari ini terlihat mendung. Sampai sekarang matahari tak mau muncul. Seperti biasa aku mulai melakukan segala pekerjaan rumah, yang telah menjadi tanggung jawab ku setiap hari. Mulai dari memasa, menyapu ruma, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Rasaku seperti budak saja. Aku selalu mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan di dalam rumah. Namun berbeda dengan saudara-saudariku yang lain, mereka hanya duduk dan memerintah saja.
Namun bagiku itu sudah bias, karena setiap saat aku memang selalu di bedakan. Aku selalu mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang berat, namun saudara-saudariku tida. Begitulah kenyataannya.
Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah setiap pagi, dengan seorang sahabat yang selalu menunggu ku. Agar pergi bersama setiap pagi ke sekolah. Dia terlihat gemuk dan pendek. Dengan bulu-bulu tangannya yang lebat dan panjang. Dia terlihat anggun. Namun dia tak sebaik yang terlihat, dia diam-diam menyukai pacarku. Ya betul. Aku mempunyai seorang teman lelaki. Dia putih. Tidak terlalu tinggi dan baik hati.
Aku tak bisa berkata apa-apa jika dia selalu dekat dengan pacarku. Karena, aku dan dia sangatlah berbeda. Dia cantik namun aku sebaliknya. Bagaikan langit dan bumi. Aku hanya bisa terdiam. Disaat melihat mereka tertawa bersama, meski rasanya sakit, namun apa boleh buat. Hidupku memang sangat tidak adil, aku selalu tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Penulis adalah siswa SMAN 1 PURBA
Udara di sekitar sangat merasuki pori-pori ku yang kecil. Sehingga membuat bulu tanganku yang lembut dan tipis menjadi terasa, seperti jarum yang berdiri tajam. Angin malam menusuk hingga kedalam tubuhku. Aku bagaikan tidur di dalam kulkas yang hidup semalaman. Tubuhku kaku. Aku seperti es batu, yang susah untuk digerakkan. Kukenakan selimut yang berlapis-lapis hingga tujuh lapis, namun aku merasa seperti memakai selimut setipis tisu. Bibirku mulai membiru.
Dan gigiku pun gemetaran bagaikan mesin jahit yang tak mau berhenti. Aku bagaikan terdampar di Kutub Utara. Kupandangi langit-langit yang sudah mulai tak terlihat, oleh karena lintasan laba-laba yang amat banyak. Tembok kusam tanpa lapisan cat yang menempel. Begitulah keadaannya. Amat sederhana.
Kupejamkan mata untuk pergi ke dunia lain. Yang pasti aku senang di sana. Jikalau aku pergi ke dunia itu bagaikan hidup di surga. Dunia yang Siapa saja boleh menikmatinya. Tanpa terkecuali. Keluar masuk tanpa dipungut biaya. Cukup pejamkan matamu dan biarkan pikiran, atau imajinasimu, membawamu pergi ke dunia itu. Pergi dan nikmati dunia itu, selagi imajinasimu masih terus berjalan. Rasanya tidak ingin keluar dari dunia imajinasi tersebut.
Namun itu hanyalah imajinasi. Berbeda dengan dunia yang harus kujalani. Dunia yang begitu kejam, begitu pahit, begitu penuh sandiwara dunia nyata yang hanya memikirkan harta dan jabatan tanpa memikirkan nasib orang-orang di sekitarnya.
Aku masih merasakan angin malam yang masuk melalui pori-pori kulitku, yang kecil. Kelopak mataku yang terasa berat, rasanya seperti menahan beban 1 ton beratnya. Aku mulai membukakan mata, yang masih rabun untuk melihat dunia nyata, yang amat pahit, seperti minum empedu ikan. Namun itulah dunia yang wajib kujalani.
Aku merasa kehilangan sesuatu, kehilangan satu hal yang sangat ku butuhkan di setiap pagi ku. Aku mulai melangkah menuju jendela kecil ku, menghirup udara segar, udara tanpa noda. Terlihat embun pagi yang masih melekat pada dedaunan pohon, rumput, dan bunga. Aku merasakan udara dingin bersih masuk ke dalam tubuhku, melalui lubang hidungku yang kecil.
Seketika, aku melihat matahari tak muncul pagi ini. Mungkin dia tertutup oleh awan pagi yang gelap dan tebal. Mungkin sebentar lagi, bumi akan dijatuhi oleh ribuan titik-titik air. Dan tak lama kemudian, benar, bumi telah diserang oleh ribuan titik-titik air. Dengan membalikkan badan, tak sengaja aku melihat jam dinding tua yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Oh... Tidak... Aku akan terlambat" teriaku.
Tanpa berpikir panjang, seketika aku mulai berlari secepat kilat menuju kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Sialan.. Mengapa tidak ada yang membangunkanku" ucapku kesal.
Dengan segera, setelah aku selesai memakai pakaian seragam, aku menuju ruang belajar dan segera menghadang tasku, dan pergi menuju ruang tamu untuk pamit kepada kedua orang tua.
"Mengapa ibu tidak membangunkanku" ucapku kesal.
"Apakah kamu tidak tahu hari ini hari apa nak? " tanya ibu.
"Hari ini kan hari senin bu... Yah aku harus berangkat ke sekolah" jawabku.
"Coba kamu lihat kalender" balas ibu menyuruhku.
Dengan segera aku pergi ke kamar untuk melihat kalender dan seketika aku merasa tertipu ternyata hari ini adalah hari Minggu. Aku pun pergi menemui ibu di ruang tamu dengan rasa malu
"Mengapa ibu tidak memberitahu kepadaku kalau hari ini adalah hari minggu? " tanyaku pada ibu.
"Lah, ibu mengira kamu tahu kalau hari ini adalah hari minggu maka dari itu, ibu tidak membangunkanmu" balas ibu.
"Untung saja aku tidak sampai pergi keluar untuk berangkat kesekolah, bisa-bisa aku ditertawakan oleh warga satu kampung disini" ucapku kesal.
"Makanya lain kali kamu harus teliti, harus terlebih dahulu memperhatikan hal-hal yang akan di kerjakan, bukannya asal pergi-pergi aja" nasehat ibu.
"Iya, iya bu, janji aku enggak bakal ngulangin hal itu lagi. Janji" ucapku.
"Kalau begitu sekarang kamu ganti baju sana" suruh ibu.
"Aku ganti baju dulu yah bu" jawabku.
Dengan perasaan yang masih kesal, aku pergi ke kamar dan mulai mengganti seragamku
Hari ini terlihat mendung. Sampai sekarang matahari tak mau muncul. Seperti biasa aku mulai melakukan segala pekerjaan rumah, yang telah menjadi tanggung jawab ku setiap hari. Mulai dari memasa, menyapu ruma, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Rasaku seperti budak saja. Aku selalu mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan di dalam rumah. Namun berbeda dengan saudara-saudariku yang lain, mereka hanya duduk dan memerintah saja.
Namun bagiku itu sudah bias, karena setiap saat aku memang selalu di bedakan. Aku selalu mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang berat, namun saudara-saudariku tida. Begitulah kenyataannya.
Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah setiap pagi, dengan seorang sahabat yang selalu menunggu ku. Agar pergi bersama setiap pagi ke sekolah. Dia terlihat gemuk dan pendek. Dengan bulu-bulu tangannya yang lebat dan panjang. Dia terlihat anggun. Namun dia tak sebaik yang terlihat, dia diam-diam menyukai pacarku. Ya betul. Aku mempunyai seorang teman lelaki. Dia putih. Tidak terlalu tinggi dan baik hati.
Aku tak bisa berkata apa-apa jika dia selalu dekat dengan pacarku. Karena, aku dan dia sangatlah berbeda. Dia cantik namun aku sebaliknya. Bagaikan langit dan bumi. Aku hanya bisa terdiam. Disaat melihat mereka tertawa bersama, meski rasanya sakit, namun apa boleh buat. Hidupku memang sangat tidak adil, aku selalu tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Udara di sekitar sangat merasuki pori-pori ku yang kecil. Sehingga membuat bulu tanganku yang lembut dan tipis menjadi terasa, seperti jarum yang berdiri tajam. Angin malam menusuk hingga kedalam tubuhku. Aku bagaikan tidur di dalam kulkas yang hidup semalaman. Tubuhku kaku. Aku seperti es batu, yang susah untuk digerakkan. Kukenakan selimut yang berlapis-lapis hingga tujuh lapis, namun aku merasa seperti memakai selimut setipis tisu. Bibirku mulai membiru.
Dan gigiku pun gemetaran bagaikan mesin jahit yang tak mau berhenti. Aku bagaikan terdampar di Kutub Utara. Kupandangi langit-langit yang sudah mulai tak terlihat, oleh karena lintasan laba-laba yang amat banyak. Tembok kusam tanpa lapisan cat yang menempel. Begitulah keadaannya. Amat sederhana.
Kupejamkan mata untuk pergi ke dunia lain. Yang pasti aku senang di sana. Jikalau aku pergi ke dunia itu bagaikan hidup di surga. Dunia yang Siapa saja boleh menikmatinya. Tanpa terkecuali. Keluar masuk tanpa dipungut biaya. Cukup pejamkan matamu dan biarkan pikiran, atau imajinasimu, membawamu pergi ke dunia itu. Pergi dan nikmati dunia itu, selagi imajinasimu masih terus berjalan. Rasanya tidak ingin keluar dari dunia imajinasi tersebut.
Namun itu hanyalah imajinasi. Berbeda dengan dunia yang harus kujalani. Dunia yang begitu kejam, begitu pahit, begitu penuh sandiwara dunia nyata yang hanya memikirkan harta dan jabatan tanpa memikirkan nasib orang-orang di sekitarnya.
Aku masih merasakan angin malam yang masuk melalui pori-pori kulitku, yang kecil. Kelopak mataku yang terasa berat, rasanya seperti menahan beban 1 ton beratnya. Aku mulai membukakan mata, yang masih rabun untuk melihat dunia nyata, yang amat pahit, seperti minum empedu ikan. Namun itulah dunia yang wajib kujalani.
Aku merasa kehilangan sesuatu, kehilangan satu hal yang sangat ku butuhkan di setiap pagi ku. Aku mulai melangkah menuju jendela kecil ku, menghirup udara segar, udara tanpa noda. Terlihat embun pagi yang masih melekat pada dedaunan pohon, rumput, dan bunga. Aku merasakan udara dingin bersih masuk ke dalam tubuhku, melalui lubang hidungku yang kecil.
Seketika, aku melihat matahari tak muncul pagi ini. Mungkin dia tertutup oleh awan pagi yang gelap dan tebal. Mungkin sebentar lagi, bumi akan dijatuhi oleh ribuan titik-titik air. Dan tak lama kemudian, benar, bumi telah diserang oleh ribuan titik-titik air. Dengan membalikkan badan, tak sengaja aku melihat jam dinding tua yang menunjukkan pukul 6 pagi.
"Oh... Tidak... Aku akan terlambat" teriaku.
Tanpa berpikir panjang, seketika aku mulai berlari secepat kilat menuju kamar mandi dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
"Sialan.. Mengapa tidak ada yang membangunkanku" ucapku kesal.
Dengan segera, setelah aku selesai memakai pakaian seragam, aku menuju ruang belajar dan segera menghadang tasku, dan pergi menuju ruang tamu untuk pamit kepada kedua orang tua.
"Mengapa ibu tidak membangunkanku" ucapku kesal.
"Apakah kamu tidak tahu hari ini hari apa nak? " tanya ibu.
"Hari ini kan hari senin bu... Yah aku harus berangkat ke sekolah" jawabku.
"Coba kamu lihat kalender" balas ibu menyuruhku.
Dengan segera aku pergi ke kamar untuk melihat kalender dan seketika aku merasa tertipu ternyata hari ini adalah hari Minggu. Aku pun pergi menemui ibu di ruang tamu dengan rasa malu
"Mengapa ibu tidak memberitahu kepadaku kalau hari ini adalah hari minggu? " tanyaku pada ibu.
"Lah, ibu mengira kamu tahu kalau hari ini adalah hari minggu maka dari itu, ibu tidak membangunkanmu" balas ibu.
"Untung saja aku tidak sampai pergi keluar untuk berangkat kesekolah, bisa-bisa aku ditertawakan oleh warga satu kampung disini" ucapku kesal.
"Makanya lain kali kamu harus teliti, harus terlebih dahulu memperhatikan hal-hal yang akan di kerjakan, bukannya asal pergi-pergi aja" nasehat ibu.
"Iya, iya bu, janji aku enggak bakal ngulangin hal itu lagi. Janji" ucapku.
"Kalau begitu sekarang kamu ganti baju sana" suruh ibu.
"Aku ganti baju dulu yah bu" jawabku.
Dengan perasaan yang masih kesal, aku pergi ke kamar dan mulai mengganti seragamku
Hari ini terlihat mendung. Sampai sekarang matahari tak mau muncul. Seperti biasa aku mulai melakukan segala pekerjaan rumah, yang telah menjadi tanggung jawab ku setiap hari. Mulai dari memasa, menyapu ruma, mencuci piring, dan mencuci pakaian. Rasaku seperti budak saja. Aku selalu mengerjakan segala sesuatu yang harus dikerjakan di dalam rumah. Namun berbeda dengan saudara-saudariku yang lain, mereka hanya duduk dan memerintah saja.
Namun bagiku itu sudah bias, karena setiap saat aku memang selalu di bedakan. Aku selalu mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang berat, namun saudara-saudariku tida. Begitulah kenyataannya.
Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah setiap pagi, dengan seorang sahabat yang selalu menunggu ku. Agar pergi bersama setiap pagi ke sekolah. Dia terlihat gemuk dan pendek. Dengan bulu-bulu tangannya yang lebat dan panjang. Dia terlihat anggun. Namun dia tak sebaik yang terlihat, dia diam-diam menyukai pacarku. Ya betul. Aku mempunyai seorang teman lelaki. Dia putih. Tidak terlalu tinggi dan baik hati.
Aku tak bisa berkata apa-apa jika dia selalu dekat dengan pacarku. Karena, aku dan dia sangatlah berbeda. Dia cantik namun aku sebaliknya. Bagaikan langit dan bumi. Aku hanya bisa terdiam. Disaat melihat mereka tertawa bersama, meski rasanya sakit, namun apa boleh buat. Hidupku memang sangat tidak adil, aku selalu tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.
Penulis adalah siswa SMAN 1 PURBA
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Taubat Oleh Sadam* Hidup bagaikan durjana Tercebur ke dalam nista Membuatku jadi gila Hidupku berlumur dosa Merasa paling sempurna Terhentak...
-
Oleh: silvi e sipayug Indahnya pagi membuat aku menjadi semangat untuk melakukan aktivitas yang di lakukan setiap harinya yait...





