Beberapa karya Rudi Hartono yang telah dibukukan hingga tahun 2010
1. cerpen
Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Artefak”
Judul Cerpen : Sehelai sirih
Halaman : 114-120
Penerbit : Laboritorium Sastra Medan (Labsas) tahun 2008
ISBN : 978-979-16205-6-7
2. cerpen
Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Para Penanti”
Judul Cerpen : Badai di Pinggir Jalan Bulan di Tepi Jurang
Halaman : 83-87
Penerbit : Mentiko Publisher tahun 2008
ISBN : 978-602-95059-01
3. cerpen
Judul Buku : Kumpulan Cerpen “Cermin”
Judul Cerpen : Semangat Ratapan
Halaman : 133-140
Penerbit : Laboritorium Sastra Medan (Labsas) tahun 2009
ISBN : 978-979-16205-8-1
4. feature
Judul Buku : Kumpulan Feature Human Interest “Pencari”
Judul Cerpen : Bukan Pekerjaan Pokok Bukan Pekerjaan Sampingan
Halaman : 109-112
Penerbit : Pers Mahasiswa Kreatif Universitas Negeri Medan tahun 2010
ISBN : 978-602-96992-0-3
5. puisi
Judul Buku : Kumpulan Puisi “Suara Peri dan Mimpi”
Judul Puisi : - Murka
- Pengabdian
Halaman : 79-80
Penerbit : Laboritorium Sastra Medan (Labsas) tahun 2009
ISBN : 978-979-16205-7-4
Daftar 10 piagam dan sertifikat pilihan (terbaik)
1. Piagam penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dalam menulis karya tulis ilmiah pemuda tingkat nasional tahun 2007
2. Piagam penghargaan dari Rektor Universitas Negeri Medan sebagai mahasiswa berprestasi Unimed tahun 2009
3. Piagam penghargaan sebagai penulis dalam buku “PENCARI” Kumpulan Feature Human Interest tahun 2010
4. Piagam penghargaan sebagai juara harapan I pada Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) FBS Unimed tahun 2008
5. Piagam penghargaan sebagai juara II Sayembara Penulisan Esai Tingkat Mahasiswa se-Sumatera Utara oleh Balai Bahasa Medan tahun 2009
6. Sertifikat sebagai juara II Penulisan Artikel pada acara Bulan Bahasa di FBS Unimed tahun 2008
7. Sertifikat sebagai peserta terbaik peringkat I pada pemilihan Mahasiswa berprestasi Universitas Negeri Medan tahun 2009
8. Sertifikat Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa tahun 2008
9. Sertifikat peserta pendidikan dan pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut Se-Sumatera di Pekanbaru tahun 2010
10. Sertifikat peserta Pendidikan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional tahun 2008 di Palembang.
Daftar Riwayat Hidup
Nama : Rudi Hartono Saragih
T.T.L : Sipolin, 26 Desember 1986
Alamat : Jln. Sukaria no. 100 Pancing, Medan 20222
Agama : Islam
Jenjang Pendidikan Terakhir:
Jenjang studi Strata 1 (S-1)
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FBS Universitas Negeri Medan
Semester VIII (telah menyelesaikan mata kuliah 144 SKS)
IPK 3,19
No.HP : 0812 6098 0286
e-mail : rudisaragih@ymail.com
blog : cintabahasadansastraindonesia.blogspot.com,
Pendidikan
Jenjang Pendidikan Tempat Tahun
SD SD Negeri Sipolin, Kec.Purba, Simalungun 1993 – 1999
SMP SMP Negeri 1 Sidamanik 1999 – 2002
SMA SMA negeri 1 P.Siantar 2002 – 2005
PT Universitas Negeri Medan 2006 – sekarang
Prestasi yang pernah diraih pada masa kuliah:
1. Membina dan menginovasi majalah ‘INISIATIF’ Taman Madya Taman Siswa Tebing Tinggi ketika Praktik Pengalaman Lapangan Tahun 2009
2. Menjadi Mahasiswa berprestasi Universitas Negeri Medan tahun 2009
3. Juara harapan I pada Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) FBS Unimed tahun 2008
4. Juara II Sayembara Penulisan Esai Tingkat Mahasiswa se-Sumatera Utara oleh Balai Bahasa Medan tahun 2009
5. Juara II Penulisan Artikel pada acara Bulan Bahasa di FBS Unimed tahun 2008
6. Beberapa karya seperti cerpen, puisi dan feature telah dibukukan, dll.
Sebuah Kreativitas, Inisiatif dan Abdi terhadap bahasa dan Sastra Indonesia
Tampilkan postingan dengan label KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS (KOMPAK) REKRUT ANGGOTA BARU GUNA MELAHIRKAN PENULIS MUDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS (KOMPAK) REKRUT ANGGOTA BARU GUNA MELAHIRKAN PENULIS MUDA. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 Juli 2010
Kamis, 10 Juni 2010
FEATURE NEWS
Bukan Sampingan Bukan Pokok
Oleh: Rudi Hartono Saragih
Malam semakin larut, jalanan mulai sepi. sekali-kali kendaraan memacu abu beterbangan, walau malam, jalanan masih penuh dengan debu. Tampak sebuah gerobak sorong yang diterangi lampu neon. Satu buah kursi panjang tersedia untuk duduk sesaat bagi para pengujung. Gerobak sorong seakan-akan memberikan harapan. Beragam jamu tersusun rapi, telur ayam kampung, telur bebek terletak di sebelah bawah bersama gelas dan berbagai manisan. Berbagai profesi yang dilakukan untuk bertahan hidup. Dari aktivitas subuh hingga malam gelap. Itu semua dilakukan untuk keluarga.
Sebatang rokok dihisap dan dihembuskannya setengah tengadah. Tampaknya walau malam-malam dia tidak berhenti untuk mengais rupiah. Fahmi (35), itulah namanya. Dia Seorang penjual jamu setiap malam di jalan Tembung Deli Serdang, Sumatera Utara. Walau terlihat sedikit mengantuk tetapi dia selalu senyum menyajikan jamu kepada pelanggannya. Bahasa tubuhnya yang ramah, tersirat sebagai penarik para konsumen untuk minum jamu yang dibawa-bawa gerobaknya.
Menjual jamu saat kebanyakan orang sudah terlelap telah dijalaninya selama 5 tahun. Dengan penghasilan yang tidak tentu, lelaki yang telah mempunyai anak 3 ini mengaku meyakini setiap usahanya dalam menjalani kehidupan. "Mana ada cerita sampingan dalam hidup ini. Karena kalau dagang kan itu tergantung kemauan," tuturnya ketika ditanya apakah menjual jamu itu sebagai sampingan (14/4). Dengan percaya diri, lelaki yang bertubuh kekar ini menyatakan senang sekali menjadi penjual jamu. Tidak dikatakannya sebuah pekerjaan itu sampingan, semua itu adalah usaha untuk menghidupi diri dan keluarga. Sebenarnya, sehari-harinya dia adalah seorang penjual pakaian di pasar tembung. "Dari pada gak ada kerjaan di malam hari, bagus jualan jamu sambil duduk-duduk," tukasnya. Tidak terlihat ketidakpercayadirian dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Kekukuhan yang terlihat pada dirinya sangat menunjukkan bahwa jika yang kita kerjakan adalah hal yang halal maka tidak perlu malu atau bahkan tidak percaya diri.
Lalu lalang orang dijalan semakin sedikit, wajar saja, malam semakin larut. Tetapi semakin larut malam para pembeli jamu semakin banyak. Hingga pukul 12. Lokasi ini cukup strategis, jalan yang menghubungkan kota Medan dengan Kabupaten Deli Serdang. Orang yang telah selesai bekerja di Medan biasanya singgah untuk menambah stamina tubuh dengan minum jamu Bang Fahmi.
Ternyata, untuk menjadi penjual jamu seperti ini, juga membutuhkan dana lebih kurang 10 juta rupiah. Fahmi menambahkan, bahwa untuk gerobaknya saja sudah mencapai 6 juta, sedangkan jamu dan perlengkapan lainnya mencapai 4 juta rupiah. Gerobak yang dipenuhi perlengkapan dan peralatan seperti dispenser, termos, alat pengaduk jamu bahkan ada TV di sudut atas gerobak sebagai sumber hiburan bagi pengunjung.
Menjadi tukang jamu itu bukan sampingan, bukan juga pekerjaan pokok. Itu identik dengan sebuah perjuangan hidup yang bertanggung jawab kepada kehidupan. Itu pula lah yang dinyatakan Suwito, seorang penjual jamu di jalan Letda Sudjono. Sudah 18 tahun menjual jamu. Sambil mendengar radio dengan tape rekordernya yang mini dia menjual jamunya seusai magrib hingga pukul 12. Tak ubahnya dengan fahmi, lelaki tua yang sudah berumur 58 tahun ini mengaku bahwa pendapatannya akhir-akhir ini sudah mulai menurun. Kalau dahulu masih bisa menghabiskan 50 gelas tiap malamnya, sekarang sudah berangsur berkurang.
Tidak jauh berbeda dengan penjual jamu yang lainnya. Pak Suwito, menjual jamu dengan kisaran harga Lima Ribu Rupiah hingga Lima Belas Ribu Rupiah. Harga itu tidak terlalu mahal karena sudah dicampur dengan telur ayam kampung atau telur bebek. Satu malamnya dia bisa mendapat penghasilan bersih dari 40 ribu hingga 150 ribu rupiah. Kadang pengahasilan menurun dan kadang meninggi karena hujan, hari libur dan alasan lain. Ketika orang malas keluar karena hujan, maka pendapatan akan menurun. Ketika hari baik dan hari kerja, pendapatan bisa meninggi.
Dengan menjual jamu, pak Suwito bisa menghidupi diri dan keluarganya setiap harinya. Istrinya juga sebagai penjual jamu di pasar saat dia bekerja pada siang hari menjadi kuli bangunan. Kadang-kadang dia menjadi kuli pembuatan perabot. Terlihat ketegarannya berprofesi sebagai tukang jamu. Kata-kata yang diucapkannya terucap secara gamblang tanpa ada rasa malu. Dia betul-betul menikmati pekerjaan itu. Dulunya dia tamat sekolah rakyat (SR), dengan mengikuti jejak orangtuanya dia senang menjual jamu. Menjual jamu sudah seperti keturunan di keluarga mereka, kenapa tidak, satu orang dari tiga anaknya juga menjadi penjual jamu di Pasar Mandala, Medan. "Aku memang sengaja tidak membuat mesin gerobak ini, dengan mengayuh sepeda ini bisa mengeluarkan keringat dan menjadi olah raga bagi seusia kami." ulasnya. Dia memang selalu membanggakan pekerjaan ini, menggunakan gerobak ini bukan karena kurang mampu beli, tetapi sekaligus untuk menjaga kesehatan.
Sekali-kali acapkali datang pembeli saat ngobrol asik dengannya. “Aku sering kali minum jamu di tempat uwak ini, hampir tiap malam pun,” kilah Yogi, seorang pengunjung yang sehari-harinya bekerja di sebuah Pergudangan. Minum jamu malam hari lebih bagus karena setelah itu bisa langsung istirahat dan badan bisa segar kembali untuk bekerja esok hari, Tambahnya. Pengunjung yang satu ini terlihat kompak dengan Pak Suwito. Tertawa lepas dari mereka berdua membuat senyum para tamu yang lainnya.
Bekerja malam-malam bukanlah hal yang asing bagi mereka. Ancaman-ancaman juga hampir tidak pernah mereka alami. Mencari sesuap nasi, itulah selalu yang didengungkan saat mencari mata pencaharian. "Kalau kita baik, pasti orang akan baik sama kita. Jadi kalau masalah gangguan dari PS (pemuda setempat-red) atau ormas (organisasi masyarakat-red) itu tergantung kepada kita," tutur Fahmi yang setiap malamnya berjualan sampai jam 1. “Tidak perlu khawatir, jualan jamu adalah jualan yang halal. Bahkan para penjual jamu menolong orang-orang untuk menjaga kesehatannya. Berpahala lagi,” tambahnya sambil tertawa.
Kebanyakan para pekerja malam seperti menjual jamu memiliki pekerjaan di siang hari. Dengan berbagai keinginan dalam kehidupan, mereka terus berusaha semampu apa yang mereka bisa. Tidak penting waktu matahari memancarkan cahaya atau bahkan hanya bulan yang memancarkan cahaya. "Aku sehari-harinya menjual tilam, dan jangan sampai dapur gak berasap." Kata-kata itulah yang diucapkan Darhan (42) – penjual jamu di jalan Pancing. Malam-malam dia setia menunggu pelanggan.
Berjualan jamu sudah menjadi bagian dari dirinya. walau istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga, dia selalu setia berusaha menghidupi keluarganya. Dia dikaruniai 3 orang anak dan sekarang si sulung sudah ada di SMP. Walau bekerja setiap hari dan malamnya, dia selalu mengganggap pekerjaannya itu bukan tambahan tetapi sesuatu tanggung jawab sebagai kepala keluarga. "Sekarang ini jamu sudah mulai kurang digemari orang. para pelanggan sudah berkurang, tapi tidak apa-apa, yang penting waktu malam juga bisa dipergunakan untuk mencari duit." tuturnya dengan senyum.
perwatakannya yang kurus tinggi itu sepertinya memperlihatkan kerja kerasnya setiap malam. Menunggu pengunjung dan berharap rezeky dari Yang Maha Kuasa. Keprofesionalannya mengocok jamu membuat pengunjung tidak terlalu lama menunggu. Gesit, tanggannya bergerak. Sebentar saja dia bisa menyuguhkan beberapa gelas jamu.
Berbeda dengan Suwito, Darhan adalah orang pertam yang bekerja sebagai penjual jamu di malam hari dari keluarganya. Dia mengetahui dan menekuni pekerjaan ini dari binaan para temannya yang berjualan jamu di jalan lain. Walau tidak pernah ada keluarganya yang menjual jamu, dia tidak pernah merasa malu. “Kalau gengsi nggak makan lah, betul kan,” tuturnya.
Oleh: Rudi Hartono Saragih
Malam semakin larut, jalanan mulai sepi. sekali-kali kendaraan memacu abu beterbangan, walau malam, jalanan masih penuh dengan debu. Tampak sebuah gerobak sorong yang diterangi lampu neon. Satu buah kursi panjang tersedia untuk duduk sesaat bagi para pengujung. Gerobak sorong seakan-akan memberikan harapan. Beragam jamu tersusun rapi, telur ayam kampung, telur bebek terletak di sebelah bawah bersama gelas dan berbagai manisan. Berbagai profesi yang dilakukan untuk bertahan hidup. Dari aktivitas subuh hingga malam gelap. Itu semua dilakukan untuk keluarga.
Sebatang rokok dihisap dan dihembuskannya setengah tengadah. Tampaknya walau malam-malam dia tidak berhenti untuk mengais rupiah. Fahmi (35), itulah namanya. Dia Seorang penjual jamu setiap malam di jalan Tembung Deli Serdang, Sumatera Utara. Walau terlihat sedikit mengantuk tetapi dia selalu senyum menyajikan jamu kepada pelanggannya. Bahasa tubuhnya yang ramah, tersirat sebagai penarik para konsumen untuk minum jamu yang dibawa-bawa gerobaknya.
Menjual jamu saat kebanyakan orang sudah terlelap telah dijalaninya selama 5 tahun. Dengan penghasilan yang tidak tentu, lelaki yang telah mempunyai anak 3 ini mengaku meyakini setiap usahanya dalam menjalani kehidupan. "Mana ada cerita sampingan dalam hidup ini. Karena kalau dagang kan itu tergantung kemauan," tuturnya ketika ditanya apakah menjual jamu itu sebagai sampingan (14/4). Dengan percaya diri, lelaki yang bertubuh kekar ini menyatakan senang sekali menjadi penjual jamu. Tidak dikatakannya sebuah pekerjaan itu sampingan, semua itu adalah usaha untuk menghidupi diri dan keluarga. Sebenarnya, sehari-harinya dia adalah seorang penjual pakaian di pasar tembung. "Dari pada gak ada kerjaan di malam hari, bagus jualan jamu sambil duduk-duduk," tukasnya. Tidak terlihat ketidakpercayadirian dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Kekukuhan yang terlihat pada dirinya sangat menunjukkan bahwa jika yang kita kerjakan adalah hal yang halal maka tidak perlu malu atau bahkan tidak percaya diri.
Lalu lalang orang dijalan semakin sedikit, wajar saja, malam semakin larut. Tetapi semakin larut malam para pembeli jamu semakin banyak. Hingga pukul 12. Lokasi ini cukup strategis, jalan yang menghubungkan kota Medan dengan Kabupaten Deli Serdang. Orang yang telah selesai bekerja di Medan biasanya singgah untuk menambah stamina tubuh dengan minum jamu Bang Fahmi.
Ternyata, untuk menjadi penjual jamu seperti ini, juga membutuhkan dana lebih kurang 10 juta rupiah. Fahmi menambahkan, bahwa untuk gerobaknya saja sudah mencapai 6 juta, sedangkan jamu dan perlengkapan lainnya mencapai 4 juta rupiah. Gerobak yang dipenuhi perlengkapan dan peralatan seperti dispenser, termos, alat pengaduk jamu bahkan ada TV di sudut atas gerobak sebagai sumber hiburan bagi pengunjung.
Menjadi tukang jamu itu bukan sampingan, bukan juga pekerjaan pokok. Itu identik dengan sebuah perjuangan hidup yang bertanggung jawab kepada kehidupan. Itu pula lah yang dinyatakan Suwito, seorang penjual jamu di jalan Letda Sudjono. Sudah 18 tahun menjual jamu. Sambil mendengar radio dengan tape rekordernya yang mini dia menjual jamunya seusai magrib hingga pukul 12. Tak ubahnya dengan fahmi, lelaki tua yang sudah berumur 58 tahun ini mengaku bahwa pendapatannya akhir-akhir ini sudah mulai menurun. Kalau dahulu masih bisa menghabiskan 50 gelas tiap malamnya, sekarang sudah berangsur berkurang.
Tidak jauh berbeda dengan penjual jamu yang lainnya. Pak Suwito, menjual jamu dengan kisaran harga Lima Ribu Rupiah hingga Lima Belas Ribu Rupiah. Harga itu tidak terlalu mahal karena sudah dicampur dengan telur ayam kampung atau telur bebek. Satu malamnya dia bisa mendapat penghasilan bersih dari 40 ribu hingga 150 ribu rupiah. Kadang pengahasilan menurun dan kadang meninggi karena hujan, hari libur dan alasan lain. Ketika orang malas keluar karena hujan, maka pendapatan akan menurun. Ketika hari baik dan hari kerja, pendapatan bisa meninggi.
Dengan menjual jamu, pak Suwito bisa menghidupi diri dan keluarganya setiap harinya. Istrinya juga sebagai penjual jamu di pasar saat dia bekerja pada siang hari menjadi kuli bangunan. Kadang-kadang dia menjadi kuli pembuatan perabot. Terlihat ketegarannya berprofesi sebagai tukang jamu. Kata-kata yang diucapkannya terucap secara gamblang tanpa ada rasa malu. Dia betul-betul menikmati pekerjaan itu. Dulunya dia tamat sekolah rakyat (SR), dengan mengikuti jejak orangtuanya dia senang menjual jamu. Menjual jamu sudah seperti keturunan di keluarga mereka, kenapa tidak, satu orang dari tiga anaknya juga menjadi penjual jamu di Pasar Mandala, Medan. "Aku memang sengaja tidak membuat mesin gerobak ini, dengan mengayuh sepeda ini bisa mengeluarkan keringat dan menjadi olah raga bagi seusia kami." ulasnya. Dia memang selalu membanggakan pekerjaan ini, menggunakan gerobak ini bukan karena kurang mampu beli, tetapi sekaligus untuk menjaga kesehatan.
Sekali-kali acapkali datang pembeli saat ngobrol asik dengannya. “Aku sering kali minum jamu di tempat uwak ini, hampir tiap malam pun,” kilah Yogi, seorang pengunjung yang sehari-harinya bekerja di sebuah Pergudangan. Minum jamu malam hari lebih bagus karena setelah itu bisa langsung istirahat dan badan bisa segar kembali untuk bekerja esok hari, Tambahnya. Pengunjung yang satu ini terlihat kompak dengan Pak Suwito. Tertawa lepas dari mereka berdua membuat senyum para tamu yang lainnya.
Bekerja malam-malam bukanlah hal yang asing bagi mereka. Ancaman-ancaman juga hampir tidak pernah mereka alami. Mencari sesuap nasi, itulah selalu yang didengungkan saat mencari mata pencaharian. "Kalau kita baik, pasti orang akan baik sama kita. Jadi kalau masalah gangguan dari PS (pemuda setempat-red) atau ormas (organisasi masyarakat-red) itu tergantung kepada kita," tutur Fahmi yang setiap malamnya berjualan sampai jam 1. “Tidak perlu khawatir, jualan jamu adalah jualan yang halal. Bahkan para penjual jamu menolong orang-orang untuk menjaga kesehatannya. Berpahala lagi,” tambahnya sambil tertawa.
Kebanyakan para pekerja malam seperti menjual jamu memiliki pekerjaan di siang hari. Dengan berbagai keinginan dalam kehidupan, mereka terus berusaha semampu apa yang mereka bisa. Tidak penting waktu matahari memancarkan cahaya atau bahkan hanya bulan yang memancarkan cahaya. "Aku sehari-harinya menjual tilam, dan jangan sampai dapur gak berasap." Kata-kata itulah yang diucapkan Darhan (42) – penjual jamu di jalan Pancing. Malam-malam dia setia menunggu pelanggan.
Berjualan jamu sudah menjadi bagian dari dirinya. walau istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga, dia selalu setia berusaha menghidupi keluarganya. Dia dikaruniai 3 orang anak dan sekarang si sulung sudah ada di SMP. Walau bekerja setiap hari dan malamnya, dia selalu mengganggap pekerjaannya itu bukan tambahan tetapi sesuatu tanggung jawab sebagai kepala keluarga. "Sekarang ini jamu sudah mulai kurang digemari orang. para pelanggan sudah berkurang, tapi tidak apa-apa, yang penting waktu malam juga bisa dipergunakan untuk mencari duit." tuturnya dengan senyum.
perwatakannya yang kurus tinggi itu sepertinya memperlihatkan kerja kerasnya setiap malam. Menunggu pengunjung dan berharap rezeky dari Yang Maha Kuasa. Keprofesionalannya mengocok jamu membuat pengunjung tidak terlalu lama menunggu. Gesit, tanggannya bergerak. Sebentar saja dia bisa menyuguhkan beberapa gelas jamu.
Berbeda dengan Suwito, Darhan adalah orang pertam yang bekerja sebagai penjual jamu di malam hari dari keluarganya. Dia mengetahui dan menekuni pekerjaan ini dari binaan para temannya yang berjualan jamu di jalan lain. Walau tidak pernah ada keluarganya yang menjual jamu, dia tidak pernah merasa malu. “Kalau gengsi nggak makan lah, betul kan,” tuturnya.
Selasa, 22 Desember 2009
KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS
Serambi KOMPAK
SEKILAS TENTANG KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS (KOMPAK) A. Sejarah Singkat Kelahiran KOMPAK Pada awalnya salah seorang aktivis lembaga kampus yaitu Dani Sukma Agus Setiawan (mahasiswa UNIMED) mempunyai gagasan untuk membentuk sebuah wadah intrakampus yang berkonsentrasi penuh pada ranah kepenulisan. Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat dari Rudi Hartono Saragih (mahasiswa Universitas Negeri Medan), Sri Rizki Handayani dan Budianto (mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Karena wadah ini merupakan kumpulan dari beberapa kampus, maka keempat pemrakarsa sepakat memberikan nama KOMPAK (Komunitas Penulis Anak Kampus) pada wadah tersebut. Keempat pemrakarsa juga sepakat member nama pada tim mereka dengan sebutan Catur Karya. Kata “catur” berarti empat, sedangkan “karya” merupakan mencipta atau menghasilkan sesuatu. Jadi catur karya bermankna empat orang yang mencipta atau menghasilkan sesuatu. Catur karya bekerja sama dan sama-sama bekerja menyatukan gagasan-gagasan selektifitas. Setelah melalui musyawarah panjang berdasarkan pemikiran-pemikiran dari catur karya, maka Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) dideklarasikan atau resmi dibentuk pada tanggal 23 Desember 2008 bertepatan tanggal di gedung Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Kronologis Kelahiran KOMPAK Dilihat dari segi kronologis sejarah kelahiran KOMPAK, tidak terlepas dari tuntutan menumbuhkembangkan aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menumbuhkembangkan budaya menulis merupakan aspek yang seharusnya melekat dalam diri mahasiswa. Namun dilematisnya sering sekali budaya menulis hanya sebagai rutinitas memburu gelar akademik semata. Dengan kata lain wabah menulis yang menjangkiti paradigma berpikir seorang mahasiswa hanya demam S.Pd (sarjana Pendidikan) yang begitu kronis untuk diobati. Bukan bermaksud menaifkan gelar, tetapi alangkah baiknya jika gelar itu ditunjang dengan keterampilan menulis. Untuk mampu menulis mahasiswa harus sering menyimak informasi, membaca beberapa referensi dan bertukar fikiran dengan orang lain. Artinya dengan menulis seorang mahasiswa akan berpengetahuan luas dan wajib bagi mahasiswa untuk meningkatkan wawasannya. Oleh karena itulah catur karya termotivasi untuk membentuk wadah kepenulisan guna menumbuhkembangkan budaya menulis. Jadi sebagai mahasiswa kita harus mencatat sejarah. Karena, sejarah tidak akan pernah mencatat dirinya sendiri jika kita tidak pernah mencatatnya. B. Azas, Sifat, dan Tujuan Umum a. Azas Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) berasaskan Pancasila b. Sifat KOMPAK adalah organisasi kemahasiswaan yang bersifat independen, ilmiah serta professional yang berorientasi pada kemajuan, keahlian dan peningkatan potensi penulisan. c. Tujuan KOMPAK bertujuan untuk melahirkan profesionalitas dan karakter penulis yang handal, memiliki dedikasi yang tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dari aspek kepenulisan serta untuk memasyarakatkan karya melalui media massa. C. Visi dan Misi KOMPAK a. Visi Pengembangan sastra Indonesia dalam pembangunan bangsa. b. Misi 1. Mempercepat silaturrahmi antar pelaku seni 2. Mengoptimalkan pola berpikir, berperilaku dan berbudaya sastra melalui pelatihan 3. Memaksimalkan pengiriman karya ke media massa secara lebih aktif 4. Mengaplikasikan karya dalam bentuk seni pertunjukan 5. Menerbitkan buku sastra D. Kepemimpinan dan Keanggotaan KOMPAK a. Kepemimpinan 1. Diangkat melalui forum permusyawaratan resmi untuk masa jabatan tertentu 2. Bersifat demokratis dan religious serta memiliki loyalitas dan dedikasi atas tugas dan tanggung jawab b. Keanggotaan 1. Terdiri dari mahasiswa yang memiliki visi dan misi yang sama dengan KOMPAK 2. Diatur dengan system administrasi tertentu 3. Masa aktif keanggotaan 2 tahun setelah selesai studi 4. Pelatihan dan pengembangan anggota merupakan sasaran dan prioritas utama aktivitas KOMPAK E. Pengambilan Keputusan 1. Keputusan hanya dapat dilakukan melalui musyawarah resmi 2. Keputusan yang menyangkut teknis operasional dan hal-hal yang insidentil dapat diambil oleh unsure pimpinan tertentu. F. Struktur Organisasi KOMPAK Struktur organisasi KOMPAK terdiri atas Penasehat, Pembina, Ketua Umum, wakil Ketua, Sekretaris Umum, Wakil Sekretaris, Bendahara dan beberapa Koordinator.
SEKILAS TENTANG KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS (KOMPAK) A. Sejarah Singkat Kelahiran KOMPAK Pada awalnya salah seorang aktivis lembaga kampus yaitu Dani Sukma Agus Setiawan (mahasiswa UNIMED) mempunyai gagasan untuk membentuk sebuah wadah intrakampus yang berkonsentrasi penuh pada ranah kepenulisan. Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat dari Rudi Hartono Saragih (mahasiswa Universitas Negeri Medan), Sri Rizki Handayani dan Budianto (mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Karena wadah ini merupakan kumpulan dari beberapa kampus, maka keempat pemrakarsa sepakat memberikan nama KOMPAK (Komunitas Penulis Anak Kampus) pada wadah tersebut. Keempat pemrakarsa juga sepakat member nama pada tim mereka dengan sebutan Catur Karya. Kata “catur” berarti empat, sedangkan “karya” merupakan mencipta atau menghasilkan sesuatu. Jadi catur karya bermankna empat orang yang mencipta atau menghasilkan sesuatu. Catur karya bekerja sama dan sama-sama bekerja menyatukan gagasan-gagasan selektifitas. Setelah melalui musyawarah panjang berdasarkan pemikiran-pemikiran dari catur karya, maka Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) dideklarasikan atau resmi dibentuk pada tanggal 23 Desember 2008 bertepatan tanggal di gedung Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Kronologis Kelahiran KOMPAK Dilihat dari segi kronologis sejarah kelahiran KOMPAK, tidak terlepas dari tuntutan menumbuhkembangkan aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menumbuhkembangkan budaya menulis merupakan aspek yang seharusnya melekat dalam diri mahasiswa. Namun dilematisnya sering sekali budaya menulis hanya sebagai rutinitas memburu gelar akademik semata. Dengan kata lain wabah menulis yang menjangkiti paradigma berpikir seorang mahasiswa hanya demam S.Pd (sarjana Pendidikan) yang begitu kronis untuk diobati. Bukan bermaksud menaifkan gelar, tetapi alangkah baiknya jika gelar itu ditunjang dengan keterampilan menulis. Untuk mampu menulis mahasiswa harus sering menyimak informasi, membaca beberapa referensi dan bertukar fikiran dengan orang lain. Artinya dengan menulis seorang mahasiswa akan berpengetahuan luas dan wajib bagi mahasiswa untuk meningkatkan wawasannya. Oleh karena itulah catur karya termotivasi untuk membentuk wadah kepenulisan guna menumbuhkembangkan budaya menulis. Jadi sebagai mahasiswa kita harus mencatat sejarah. Karena, sejarah tidak akan pernah mencatat dirinya sendiri jika kita tidak pernah mencatatnya. B. Azas, Sifat, dan Tujuan Umum a. Azas Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) berasaskan Pancasila b. Sifat KOMPAK adalah organisasi kemahasiswaan yang bersifat independen, ilmiah serta professional yang berorientasi pada kemajuan, keahlian dan peningkatan potensi penulisan. c. Tujuan KOMPAK bertujuan untuk melahirkan profesionalitas dan karakter penulis yang handal, memiliki dedikasi yang tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dari aspek kepenulisan serta untuk memasyarakatkan karya melalui media massa. C. Visi dan Misi KOMPAK a. Visi Pengembangan sastra Indonesia dalam pembangunan bangsa. b. Misi 1. Mempercepat silaturrahmi antar pelaku seni 2. Mengoptimalkan pola berpikir, berperilaku dan berbudaya sastra melalui pelatihan 3. Memaksimalkan pengiriman karya ke media massa secara lebih aktif 4. Mengaplikasikan karya dalam bentuk seni pertunjukan 5. Menerbitkan buku sastra D. Kepemimpinan dan Keanggotaan KOMPAK a. Kepemimpinan 1. Diangkat melalui forum permusyawaratan resmi untuk masa jabatan tertentu 2. Bersifat demokratis dan religious serta memiliki loyalitas dan dedikasi atas tugas dan tanggung jawab b. Keanggotaan 1. Terdiri dari mahasiswa yang memiliki visi dan misi yang sama dengan KOMPAK 2. Diatur dengan system administrasi tertentu 3. Masa aktif keanggotaan 2 tahun setelah selesai studi 4. Pelatihan dan pengembangan anggota merupakan sasaran dan prioritas utama aktivitas KOMPAK E. Pengambilan Keputusan 1. Keputusan hanya dapat dilakukan melalui musyawarah resmi 2. Keputusan yang menyangkut teknis operasional dan hal-hal yang insidentil dapat diambil oleh unsure pimpinan tertentu. F. Struktur Organisasi KOMPAK Struktur organisasi KOMPAK terdiri atas Penasehat, Pembina, Ketua Umum, wakil Ketua, Sekretaris Umum, Wakil Sekretaris, Bendahara dan beberapa Koordinator.
Minggu, 11 Oktober 2009
KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS (KOMPAK) REKRUT ANGGOTA BARU GUNA MELAHIRKAN PENULIS MUDA
Regenerasi anggota komunitas penulis anak kampus (KOMPAK) yang pertama kalinya telah dilaksanakan di Universitas Negeri Medan, Minggu 10 Oktober 2009. KOMPAK sebagai organisasi kepenulisan antar kampus, seperti yang tertuang dalam anggaran dasarnya merupakan organisasi kepenulisan yang membentuk insan-insan penulis dari kalangan kampus. Dalam hal ini organisasi berkonsentrasi membina mahasiswa yang memiliki minat dan bakat dalam bidang kepenulisan guna melahirkan penulis-penulis muda.
Seleksi yang dilaksanakan akan berlanjut hingga disahkan menjadi anggota komunitas. Untuk seleksi tahap awal (wawancara), KOMPAK meluluskan 28 anggota dari total yang mendaftar sebanyak 48 orang. “Sebenarnya cukup banyak dan tinggi potensi menulis yang tersimpan pada diri mahasiswa di Medan namun karena itu tidak didongkrak, potensi itu akhirnya tertanam begitu saja sehingga banyak lulusan dari perguruan tinggi terutama lulusan program kependidikan munafik. Artinya, mengajarkan menulis terhadap peserta didik, tetapi dia sendiri tidak pernah menulis. Tentunya menulis dalam hal ini adalah proses penciptaan karya dalam bentuk tulisan.” Tutur ketua KOMPAK, Sri Rizky Handayani, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Setelah seleksi tahap awal akan diadakan kemah menulis (writing camp) dalam waktu dua minggu kedepan yakni 23 Oktober mendatang. Setelah itu akan dilakukan pelatihan rutin dalam bidang kepenulisan. “Ini konsisten, sekarang anggota KOMPAK sudah berasal dari lima universitas di Medan. Unimed, UMSU, Nomensen, Micro Skill dan IAINSU. Di sinilah kita menumbuhkan kemampuan menulis dan berusaha bersama untuk berkarya!” Lanjutnya.
Hingga sekarang ini, berbagai prestasi telah diukir para anggota KOMPAK. Beberapa karya mereka telah masuk dalam antologi cerpen, terpublikasi di media massa (Koran) lokal serta ada juga yang langsung terpublikasi di blog KOMPAK yakni serambikompak.blogspot.com dan cintabahasadansastraindonesia.blogspot.com . Selain Anggota komunitas ini juga menjuarai beberapa perlombaan di Medan.
Ketika ditanya tentang program selanjutnya, ketua kedua setelah Dani Sukma ini mengatakan bahwa akan diadakannya penerbitan antologi karya komunitas selain diadakannya kemah menulis, pelatihan ruti, dan aktivitas teater. “Lihat saja gebrakan KOMPAK kedepan…,” tuturnya mengakhiri pembicaraan. (Rudi || cintabahasadansastraindonesia.blogspot.com)
Seleksi yang dilaksanakan akan berlanjut hingga disahkan menjadi anggota komunitas. Untuk seleksi tahap awal (wawancara), KOMPAK meluluskan 28 anggota dari total yang mendaftar sebanyak 48 orang. “Sebenarnya cukup banyak dan tinggi potensi menulis yang tersimpan pada diri mahasiswa di Medan namun karena itu tidak didongkrak, potensi itu akhirnya tertanam begitu saja sehingga banyak lulusan dari perguruan tinggi terutama lulusan program kependidikan munafik. Artinya, mengajarkan menulis terhadap peserta didik, tetapi dia sendiri tidak pernah menulis. Tentunya menulis dalam hal ini adalah proses penciptaan karya dalam bentuk tulisan.” Tutur ketua KOMPAK, Sri Rizky Handayani, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Setelah seleksi tahap awal akan diadakan kemah menulis (writing camp) dalam waktu dua minggu kedepan yakni 23 Oktober mendatang. Setelah itu akan dilakukan pelatihan rutin dalam bidang kepenulisan. “Ini konsisten, sekarang anggota KOMPAK sudah berasal dari lima universitas di Medan. Unimed, UMSU, Nomensen, Micro Skill dan IAINSU. Di sinilah kita menumbuhkan kemampuan menulis dan berusaha bersama untuk berkarya!” Lanjutnya.
Hingga sekarang ini, berbagai prestasi telah diukir para anggota KOMPAK. Beberapa karya mereka telah masuk dalam antologi cerpen, terpublikasi di media massa (Koran) lokal serta ada juga yang langsung terpublikasi di blog KOMPAK yakni serambikompak.blogspot.com dan cintabahasadansastraindonesia.blogspot.com . Selain Anggota komunitas ini juga menjuarai beberapa perlombaan di Medan.
Ketika ditanya tentang program selanjutnya, ketua kedua setelah Dani Sukma ini mengatakan bahwa akan diadakannya penerbitan antologi karya komunitas selain diadakannya kemah menulis, pelatihan ruti, dan aktivitas teater. “Lihat saja gebrakan KOMPAK kedepan…,” tuturnya mengakhiri pembicaraan. (Rudi || cintabahasadansastraindonesia.blogspot.com)
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Taubat Oleh Sadam* Hidup bagaikan durjana Tercebur ke dalam nista Membuatku jadi gila Hidupku berlumur dosa Merasa paling sempurna Terhentak...
-
Oleh: silvi e sipayug Indahnya pagi membuat aku menjadi semangat untuk melakukan aktivitas yang di lakukan setiap harinya yait...