Sebuah Kreativitas, Inisiatif dan Abdi terhadap bahasa dan Sastra Indonesia
Tampilkan postingan dengan label GEMAR MEMBACA SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GEMAR MEMBACA SASTRA. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Juli 2010
SEMANGAT RATAPAN
Oleh Rudi Hartono Saragih
”… Anakku, sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan ladang kita
Tak mungkin menjualnya demi cita-citamu
Tenaga dan doa yang kuat dapat kuberikan padamu
Jika ada tangan-tangan suci meraih dan merangkulmu, ikutlah
Bersamalah engkau tetap pada cita-cita kecilmu dulu…,”
***
Lalang-ilalang menyondong ke jalan, batu-batu tak beraturan menghiasi jalanan. Semalam sandal jepit kesayanganku masih memijak aspal, kini dia hanya bisa bersentuhan dengan abu-abu, batu dan sedikit becek yang ada. Ya, kemarin ada hujan deras mengguyur jalanan ini. Mendung menyelimuti awan, mengiringi jejak kakiku yang bergetar, bergerak menepis jalanan. Diam, sepi, hanya gemerisik dedaunan di pinggir jalan yang diiringi suara burung. Aku tatap jauh ke depan, sambil terus melangkah, kadang aku hanya bisa berjalan dari pinggir, di tengah ada becek bagai kubangan kerbau.
Baru saja aku kembali dari ibukota Sumatera Utara, Medan. Kota menuju metropolitan. Dengan penuh harapan di sana aku mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri. Berharap masa depan lebih cerah, berharap aku dapat mengubah nasib keluarga.
Menurut informasi yang aku dapatkan, kuliah di perguruan tinggi negeri jauh lebih murah dibanding swasta. Pun, di perguruan tinggi negeri, banyak beasiswa terutama bagi keluarga yang kurang mampu seperti keluarga kami.
Sekali-kali aku teringat ratapan ayah, “… Anakku, sawah kita bukan milik kita. Ladang kita bukan ladang kita, Tak mungkin menjualnya demi cita-citamu…,” membuat merasa lebih bertanggung jawab untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga. Apalagi aku adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ini adalah amanah. Ini tanggung jawab.
“Bang aku minta ikannya, nasiku belum habis…,”
“Udah habis, besok lagi ya, tadi kedai sudah tutup jadi tidak sempat beli ikan” Potong ayah menjawab pertanyaan adik yang belum mengerti kondisi keluarga.
Pagi ini, pukul 00:00 adalah pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru yang kuikuti. Gelisah menunggu jawaban, aku bingung. Di kampung ini tidak ada koran yang ada hanya radio dan TV hitam putih, itupun terbatas.
Sambil duduk, diam, aku berencana menanyakan esok hari kepada teman, kenalanku ketika ujian melalui telepon genggam pak kepling, satu-satunya telepon genggam di kampung ini.
“Bang, aku dengar di radio nanti ada pengumuman yang lulus seleksi” Kata adikku seraya mendekatiku.
“Radio apa?”
“Ntah”
Aku segera menuju radio yang digantung khusus di atas meja. Radio tidak boleh dibawa-bawa. Radio adalah barang berharga di kampung ini.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Segera aku dengar dengan seksama pengumuman yang disiarkan di RRI. Aku mendengar nomor ujian dan nama yang disebutkan, pesertanya cukup banyak. Pernah aku mendengar namaku, tapi nomornya berbeda, berarti itu bukan aku! Nomorku 013-205-05875. Tentunya sekarang bukan giliranku. Hingga aku tertidur setelah setengah jam mendengarkan pengumuman itu, maklum hari ini aku capek bekerja di ladang.
Aku merasa kurang percaya, karena semalam ketiduran. Tidak mendengar pengumuman secara keseluruhan.
Di desa, pedalaman yang jauh dari kota seperti ini, waktu berbelanja hanya satu kali satu minggu. Yakni ketika pekan tepatnya hari rabu. Di saat itulah aku berusaha mencari koran bekas hari sabtu. Ya, tentu saja karena pengumuman kemarin tepatnya hari sabtu.
***
Gemerisik ilalang dengan belaian angina tetap mengerling di telinga. Embun pagi hari masih bergantung di dedaunan segar. Alunan kicau burung mengiringi datangnya mentari di pegunungan ini.
Wushh…, Angin sepoi kembali menyapa, dingin. Badan gemetar dan gigi sepertinya bergeletar. Dingin menusuk ke tulang sum-sum. Tapi pagi ini cukup cerah, pagi adalah permulaan yang baik.
Aku langkahkan kakiku menuju ladang, kira-kira 6 kilo meter dari rumah. Ini jarak yang tidak jauh kalau perladangan di kampung. Aku tahankan dinginnya pagi ini. Apalagi embun pagi yang singgah di rumput telah membasahi lutut hingga jemari kaki.
Aku menyadari, tiada jalan yang kutempuh untuk keluarga selain rajin ke ladang. Aku telah gagal menjadi mahasiswa. Aku tahu jika kuliah di swasta, orangtuaku tidak akan sanggup. Pun, kalau kuliah di negeri aku hanya mengharapkan beasiswa dengan surat sakti yang ditandatangani kepala desa. Tapi inilah kehidupan, tidak mungkin aku putus asa. Mudah-mudahan tetap sadar bahwa aku adalah anak pertama.
“Mau jadi apa kelak adik-adikku jika aku tidak berusaha sedini mungkin” Gumamku seperti mengigau.
Aku pacu semangatku membuka lahan/ladang yang dipinjam ayah dari tetangga. Walau aku harus membayar sewa dengan bekerja di ladangnya, aku tetap memupuk semangat.
Tanaman padi dan cabai adalah jenis tanaman yang kami tanam. Aku tambahkan ubi di pinggir ladang untuk mengambil sayur dan buah ubi. Setiap pagi hingga sore, aku terus ke ladang. Untuk merawat padi dan cabai tanaman kami.
Selama tiga hari dalam seminggu, aku terpaksa bekerja di ladang orang untuk mencari gaji harian guna membeli makanan di rumah. Ibu tidak sanggup lagi bekerja di ladang orang. Pun, kalau dia bekerja hanya mencabut rumpur di ladang kami. Sedangkan ayah hanya bisa diam di rumah untuk memulihkan kakinya yang sakit akibat kerja mengangkut kayu dari hutan. Kemarin satu bulan lalu sebelum sakit dia masih bisa bekerja di ladang orang untuk menutupi kebutuhan kedua orang adikku yang sekolah di SMP dan SMA di ibukota kecamatan. Karena di desa ini yang ada hanya ada SD, itupun masih jauh dari rumah.
Ladangku kini sudah mulai subur, padi dan cabai terlihat gemuk. Satu bulan lagi padi kami bisa di panen, sedangkan cabainya bisa di panen selama tiga bulan lagi. Tapi panen tidak akan memuaskan jika tanaman ini tidak diberi pupuk. Untuk itu jugalah aku harus bekerja di ladang orang. Berharap dengan adanya pupuk, panen kami akan bertambah.
***
Terus aku gisgisi rumput di ladang ini. Teriknya hari adalah bunga-bunga, variasi para petani. Walau membuat lelah dan haus ini harus tetap disyukuri karena cuaca seperti ini harus tetap disyukuri. Cuaca seperti ini sangat cocok untuk tanaman. Walau tidak cocok untukku, tetapi sudah lebih baik jika itu cocok untuk tanaman.
Perawatan tanaman ini harus intensif seperti yang telah kupelajari di mata pelajaran muatan lokal, walaupun aku juga harus mendapat saran dari ibu. Ibu sangat berpengalaman. Tanaman ini terus aku bersihkan dan tidak lupa memupuk setiap bulan serta menyemprot walaupun dengan ala kadarnya.
Aku dikejutkan suara anak-anak yang menangis dari jalan ladang. Itu adikku.
“Hi…, hiks…, hiks…,” Sambil menangis dia hanya bisa berkata “Abang…, bang…, ayah…,” dan terus menangis. Entah kenapa.
“Sudahlah diam! Ada apa dengan ayah?” Aku hanya senym melihatnya, sepertinya dia dimarahi ayah gara-gara sesuatu.
Aku menjadi ragu, kata-kata itu diulang dan diulangi adikku sambil menarik bajuku menuju arah pulang. Tidak seperti biasanya, adikku sibungsu adalah bijak dan berani berbicara.
Jantungku semakin berdetak kencang saat mendengar ratapan tangis dari rumahku.
“Jeurrr…” Darahku mengalir dan langsung melemah. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Ayah telah kembali kepadaNya. Kembali aku teringat ratapan ayah,
“… Berharap aku, di kampung kita
Engkau mulai langkah-langkah tegar menuju ke sana
Dalam setiap ayunan cangkulku selalu bersama cita-citamu
….
Anakku, anakku
Andai angan harap dan pendengaranku tak dapat menyertaimu
Aku serahkan padaNya
Semoga ada yang melihat dan membawamu dari lumpur
Ke tingkat istana kebenaran itu…,”
Hari ini hari yang menyedihkan bagi keluarga kami. Sungguh aku tidak tega melihat ibuku dan adik-adikku menangis.
Sepeninggalmu ya ayah
Aku tanamkan tanggung jawab di dalam batinku
Aku nobatkan diriku untuk menafkahi ibu dan adik-adikku
Kan kuteruskan ladang kita di sana
Ayah, hanya doa yang bisa kaberikan untukmu
Semoga engkau diterima di sisinya.
Aku tidak tahan mendengar ibu dan adikku menangis tidak ingin menemui adikku putus sekolah. Hatiku tetap risau. Kacau balau. Keadaan semakin buruk, adik-adikku hendak pergi ke sekolah. Seperti biasanya dia meminta uang bulanan. Untung saja aku bisa bekerja di ladang orang dan sekarang uang itu cukup untuk membiayai adik-adikku dan makan keluargaku.
Aku semakin yakin, ayah pernah mengingatkan kalau Yang Maha Kuasa tidak akan memberikan cobaan untuk hambanya jika hambanya tidak sanggup menghadapinya. Kehidupan ini akan silih berganti dan akan berubah. Ada saat senang ada saat sedih. Ada hikmah dibalik kesedihan. Dan pasti ada peluang di balik krisis.
Hari-hari terus kami lalui tanpa ayah. Cukup berat rasanya memanen padi tanpa kehadiran ayah. Tapi apalah daya, takdir sudah berjalan, semua itu tidak bisa disalahkan. Namun, lumayan. Panen kali ini cukup banyak. Cukup untuk makan sampai panen berikutnya.
Sejak panen padi, aku dan ibu sudah bisa khusus mencari uang bulanan adik-adikku dan sedikit tabungan keluarga. Ibu juga selau bilang, kalau itu adalah uang belanja tak terduga.
Hasil cabai cukup melimpah, tidak hanya itu, harga cabai di pasaran juga memuncak hingga enam tahun terakhir. Empat bulan waktunya cabai terus panen setiap satu kali satu minggu. Berkat kerja keras selama ini, ibu punya tabungan juga yang cukup untuk menyekolahkan kami dan modal untuk tahun selanjutnya.
Aku kembali mengingat kata-kata ayah “Anakku, semua peristiwa itu ada hikmahnya, pasti ada peluang di balik tantangan, pasti adal kehidupan baru setelah kehidupan lama’.
Aku merenungi, menyadari seandainya dulu aku lulus menjadi mahasiswa pasti adik-adikku juga putus sekolah. Pasti tidak ada panen cabai yang melimpah seperti ini.
“Terimaksih ya Allah. Atas semua hikmah yang kau berikan. Ada firman di balik cobaanmu. Ayat-ayatmu memberi kekuatan, dzikirmu menenangkan jiwaku. Rahmat dan karuniamu melekat di keluargaku. Ya Allah terimalah ayahku di sisimu.”
Kini aku percaya kepada ibu untuk menafkahi kami sekeluarga. Modal untuk bertani sudah lebih dari cukup untuk beberapa tahun ke depan. Tetapi walaupun demikian aku akan tetap bekerja hendak sambil kuliah di hari esok.
Hari ini aku telah mendapat ijin untuk pergi dari ibu dan adik-adikku. Yang terhalang tahun lalu.
“Ibu, doakan aku menjadi mahasiswa yang baik berperestasi untuk mengejar cita-cita, menatap hari esok yan semakin cerah dan memperbaiki keluarga kita.” Ujarkuu seraya senyum dan menempatkan tangan ibuku di keningku.
Hari ini aku pergi ke kota untuk mengikuti seleksi penrimaan mahasiswa baru. Tidak lupa aku membawa surat sakti yang ditandatangani kepala desanya.
Kutipan puisi “Seorang Petani Menatap Kampus Kebenaran” karya Antilan Purba
Sidamanik
26 September 2009
Selasa, 20 Oktober 2009
TIPS, "BERSASTRA ITU ASIK"
GEMAR MEMBACA SASTRA
I. Pendahuluan
Kini saatnya bersenang-senang. Penuhi hari-hari Anda dengan kenikmatan membaca karya sastra. Reguplah kenikmatan itu, pengetahuan dan wawasan Anda akan semakin luas. Seluas samudra. Biar yakin, baca dulu materi ini!
II. Materi
2.1 Nilai Sasta / Manfaat Sastra
Penjelasan tentang pengertian dan hakikat sastra di atas, menyatakan bahwa karya sastra merupakan suatu hasil kreativitas dengan tujuan yang sangat mulia. Suatu ciptaan yang mengandung nilai tertentu. Pernyataan yang paling awal dikemukakan tentang nilai sastra adalah formula yang dikemukakan oleh Horace, yakni dulce et utile
( bermanfaat dan menghibur). Makna yang terkandung pada kata ‘bermanfaat’ adalah
bahwasannya membaca karya sastra merupakan kegiatan yang tidak membuang- buang waktu, tidak merupakan kegiatan iseng, kegiatan yang perlu mendapat perhatian khusus.Pada kata ‘menghibur’ tersirat makna bahwa menikmati sastra tidak akan menimbulkan rasa bosan, bukan kewajiban, dan memberikan kesenanagan
( Wellek & Warren, 1989:24-27)
Dalam polemik kebudayaan yang terjadi pada tahun 1930 antara Sutan Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane terdapat dua pendapat. Satu pihak berpendapat ‘seni untuk seni’ dan pihak yang lain berpendirian bahwa sastra untuk memberikan pelajaran tentang kehidupan. Pihak pertama lebih menekankan unsure seni atau keindahan yang terdapat dalam karya sastra, sedang pihak kedua berpandangan bahwa suatu karya sastra haruslah mengandung pelajaran yang bermanfaat bagi pembacanya. Masing-masing pendapat tentu ada pengikutnya. Diantara kedua pendapat tersebut tentu tidak perlu dicari yang mana benar dan yang mana salah. Yang jelas dari peristiwa itu tersirat makna bahwa sastra dianggap sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia.
Dalam bukunya Penulisan Kreatif Prof.H.Saleh mengutarakan beberapa tugas sastra, sebagai berikut:
(a) Sebagai alat penting pemikir-pemikir untuk menggerakkan pembaca kepada kenyataan dan menolongnya mengambil suatu keputusan apabila ia menhhadapi masalah;
(b) Karya sastra yang baik selalu menjadi tempat nilai-nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sewajarnya;
(c) Karya sastra berperan sebagai alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti yang positif ( dalam Semi, 1988:20-21).
Dalam suatu wawancara antara wartawan Horison dengan Mochtar Lubis terungkap bahwa “sastra berperan sebagai kritik bangsa”. Pokok-pokok pikiran yang diungkapkan Mochtar Lubis itu dapat dirinci sebagai berikut:
1) Sastra dapat mengangkat harkat manusia;
2) Sastra dapat mengembalikan kemanusiaan agar tidak terperangkap nafsu kebinatangan;
3) Sastra dapat membuat perubahan sosial (bonus sastra);
4) Sastra dapat sebagai loncatan jembatan tranformasi budaya selekas-lekasnya dengan memberikan peneladanan;
5) Walau sangat tipis hasilnya, sastra dapat berfungsi sebagai reformasi nilai aktualisasi kesadaran bangsa;
6) Sastra dapat sebagai penggugat penyelewengan hukum, social, politik, ekonomi, dan lain-lain ( 1983:77-81).
Menurut Abdul Hadi W.M. “Sastra berperan dalam pembakuan bahasa”. Beberapa pokok
pikiran yang termuat dalam ungkapannya itu dapar dirinci sebagai berikut:
a) Dalam sastra kemungkinan-kemungkinan bahasa digali semaksimal mungkin dan dimanfaatkan untuk memberikan lebih banyak makna.
b) Sastra dapat menjalankan peranan sebagai pembakuan bahasa, dalam arti sebagai penstabilan alat kominikasi yang lincah.
c) Gaya bahasa seorang pengarang; cara menyusun kalimat atau membuat uraian yang tepat dan lincah, efisien, dan mempesona bisa dijadikan model pemakaian bahasa yang baik dan benar.
d) Tak jarang penyair mampu menampilkan kata-kata lama yang hampir tak terpakai dan hilang dalam pemakaian sehari-hari menjadi kata-kata baru dan segar, contohnya kata santer (1980:225-233).
2.2 Strategi Memupuk Minat baca Sastra
M inat tehadap suatu objek sikap hendaknya ditumbuhkan dalam diri seseorang. Di lembaga pendidikan, usaha menumbuhkan dan memupuk minat baca ini hendaknya terintegrasi dalam pembelajaran. Agar dapat berhasil secara optimal ada beberapa strategi yang dapat digunakan. I.G. Wardani ( 1981 ) menawarkan seperangkat strategi, yaitu : 1) Pemberian contoh, 2) Saran, 3) Penguatan, dan 4) Perlengkapan. Selain itu, seorang guru pengajar sastra, Sri Kitonawangsih melakukan terobosan untuk meningkatkan minat baca sastra siswanya dengan cara: 1) Meyakinkan siswa, 2) Menceritakan, 3) Menggunakan tayangan TV sebagai bahan pembelajaran.
2.3 Membuat Kliping
Karya sastra yang dapat dinikmati tidak hanya berupa karya yang dipublikasikan dalam bentuk buku, tetapi banyak pula karya yang dipublikasikan melalui media massa, baik media massa cetak atau elektronik. Untuk karya sastra dalam bentuk buku, setelah dibaca atau dinikmati ditulis sinopsisnya atau ringkasannya, sedangkan karya yang dipublikasikan secara lepas di media massa dikliping. Maksud mengliping karya sastra di sini adalah menempel karya sastra yang telah dibaca dan melakukan analisis terhadapnya.
Kegiatan mengliping karya sastra menurut Suroto ( 1990 ) dapat mendatangkan tiga manfaat. Sebagaimana dijelaskannya, manfaat mengliping karya sastra tersebut adalah: 1) Kita dapat mengikuti karya-karya yang baru, 2) Melakukan pekerjaan mengliping dapat membina ketekunan bekerja, dan 3) Seseorang yang senantiasa melakukan kegiatan mengliping yang membaca atau menikmati karya tersebut terlebih dahulu akan terbina pada dirinya rasa cinta pada sastra.
Kliping yang dibuat sesuai dengan pengertian yang di atas, berarti kliping itu merupakan kliping bertipe kompleks. Kliping tipe ini tidak hanya sebatas menempelkan karya yang telah dibaca di sebidang kertas saja, tetapi dilengkapi dengan identitas sumber tempat kliping itu dipublikasikan dan disampaikan pula analisis atau tanggapan terhadapnya. Adapun identitas sumber dimaksud adalah: judul karya, nama pengarang, nama Koran, majalah, atau tabloid, waktu publikasi ( hari, tanggal, dan tahun ). Kedalam kliping yang bertipe kompleks ini termasuk juga pengertian bahwa kliping itu dikerjakan dengan menerapkan prinsip-prinsip penciptaan karya seni. Membuat kliping termasuk kegiatan kreatif. Oleh sebab itu, sangatlah perlu memperhatikan kerapian, penataan bidang tempel, pewarnaan, dan pemakaian besar dan bentuk huruf yang variatif.
Aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan kliping di atas sekaligus menjadi aspek penilaian sebuah kliping. Pembobotan yang dapat dikenakan pada aspek-aspek penilaain tersebut, adalah: 1) kelengkapan bahan 30%, 2) Identitas sumber 20%, 3) intensitas tanggapan atau analisis 30%, dan 4) penataan 20%.
Adapun berkenaan dengan teknik atau prosedur pengerjaan kliping tersebut, dirasa Anda telah memahaminya, karena kegiatan ini telah Anda lakukan pada jenjang pendidikan sebelumnya.
2.4 Sinopsis dan Tanggapan
Sinopsis dan tanggapan adalah dua kegiatan yang biasa dilakukan setelah menikmati suatu karya sastra. Kegiatan ini dapat terlaksana apabila pembaca melaku-
kan identifikasi terhadap unsur-unsur pembangun karya baik secara fisik maupun secara mental. Identifikasi ini akan lahir dalam bentuk analisis atau penguraian karya atas unsur-unsur yang membangunnya.
Pada dasarnya sinopsis adalah penyampaian kembali secara ringkas karya sastra yang telah dibaca seseorang kepada pihak lain atau orang lain. Panuti Sudjiman ( 1986:63) mengatakannya sebagai ikhtisar sebuah karya yang memberikan gambaran umum tentangnya. Hal-hal yang perlu disampaikan dalam sebuah sinopsis adalah identitas karya dan unsur-unsur intrinsik karya tersebut. Kedalam identitas karya mencakup: Judul, pengarang, tahun terbit, jumlah halaman, kota dan nama penerbit, dan identitas lain yang ada dan perlu diungkapkan. Unsur-unsur intrinsic yang dikemukakan tentu tergantung pula pada jenis karya yang disinopsis. Unsur intrinsik puisi tentu berbeda dengan unsur sinopsis novel atau naskah drama.
Tanggapan adalah sambutan pembaca atau penikmat terhadap sebuah karya sastra sesuai dengan apa yang diterimanya baik secara indrawi atau bayangan di dalam angan-angan. Tanggapan dapat disampaikan dalam bentuk kritik atau komentar ( KBBI, 2001 ). Perihal suatu kritik atau komentar ia termasuk ke dalam bentuk hasil kajian atau telaah sastra. Sebuah telaah sastra mengandung tiga aspek pokok, yaitu analisis, interpretasi, dan penilaian. Jadi, tiga hal inilah yang perlu disampaikan dalam sebuah tanggapan. Tentu penyampaiannya tidak berurutan secara kaku seperti itu, tetapi ketiganya dapat terintegrasi, disampaikan dalam urutan yang bervariasi. Adapun yang perlu ditanggapi itu tak lain dan tak bukan adalah unsur-unsur pembangun karya tersebut. Misalnya pada novel, disampaikan tanggapan terhadap tema cerita, alur cerita, penokohan atau perwatakan, pemakaian bahasa, dan sebahgainya.
2.5 Penilaian Minat Baca
Penilaian terhadap minat baca dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan mengadakan ujian lisan, dengan pengamatan, melalui penyelesaian suatu proyek, atau dengan self report (laporan diri sendiri), atau self evaluation ( penilai
an diri ).
Penilaian dengan pengamatan terhadap sikap positif pembelajar ( siswa / mahasiswa) memang sulit dilakukan. Akan tetapi, pada ivent-ivent tertentu pengamatan itu bisa dilakukan, misalnya ketika ada kegiatan lomba di sekolah atau dikampus. Pengajar dapat mengamati pembelajar yang mengikuti atau berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Tiga strategi penilaian yang lainnya sangat mudah dilakukan. Dosen atau guru menyiapkan rubrik-rubrik penilaian yang dipahami dan dapat diisi dengan mudah oleh mahasiswa. Namun harus diingat, prosedur pengerjaan tugas dan kriteria penilaian yang akan diterapkan harus diinformasikan kepada pembelajar.
III. Petunjuk Pembelajaran
1. Bacalah materi dengan judul gemar membaca sastra di atas dengan seksama.
2. Tandailah pokok-pokok pikiran, rinciannya, dan konsep-konsep atau istilah yang
ada pada uraian di atas kemudian pahamilah maksudnya!
1. Buatlah ringkasan materi di atas dalam bentuk peta konsep.
IV. Tugas
Mulai minggu ini Anda membiasakan diri menikmati karya sastra setiap minggu. Jangan lewatkan satu minggu pun. Rekaman kegiatan membaca karya sastra itu Anda buat dalam catatan berbentuk catatan harian yang lengkap. Untuk kepentingan penilaian aktivitas belajar ini akan dinilai pada minggu ke-14. Jadi, penilaian dilakukan terhadap aktivitas membaca karya sastra yang Anda lakukan selama sepuluh minggu. Adapun aspek aktivitas membaca karya sastra ini terbagi ke dalam empat bagian, yaitu : 1) aktivitas menikmati karya sastra selama sepuluh minggu. Penghitungan dimulai dari minggu ketiga Oktober sampai minggu terakhir Desember 2007. 2) Menulis sinopsis karya sastra yang telah dibaca, yakni berupa satu novel, satu buku naskah drama, satu buku kumpulan puisi, dan satu novelet. 3) Mempersiapakan diri mempresentasikan salah satu sinopsis yang telah ditulis yang paling Anda kuasai di depan teman-teman Anda, dan 4) Membuat kliping karya sastra yang telah Anda nikmati. Adapun penjelasan lebih lanjut, tertera pada rubrik tugas dalam naskah Kontrak Perkuliahan.
I. Pendahuluan
Kini saatnya bersenang-senang. Penuhi hari-hari Anda dengan kenikmatan membaca karya sastra. Reguplah kenikmatan itu, pengetahuan dan wawasan Anda akan semakin luas. Seluas samudra. Biar yakin, baca dulu materi ini!
II. Materi
2.1 Nilai Sasta / Manfaat Sastra
Penjelasan tentang pengertian dan hakikat sastra di atas, menyatakan bahwa karya sastra merupakan suatu hasil kreativitas dengan tujuan yang sangat mulia. Suatu ciptaan yang mengandung nilai tertentu. Pernyataan yang paling awal dikemukakan tentang nilai sastra adalah formula yang dikemukakan oleh Horace, yakni dulce et utile
( bermanfaat dan menghibur). Makna yang terkandung pada kata ‘bermanfaat’ adalah
bahwasannya membaca karya sastra merupakan kegiatan yang tidak membuang- buang waktu, tidak merupakan kegiatan iseng, kegiatan yang perlu mendapat perhatian khusus.Pada kata ‘menghibur’ tersirat makna bahwa menikmati sastra tidak akan menimbulkan rasa bosan, bukan kewajiban, dan memberikan kesenanagan
( Wellek & Warren, 1989:24-27)
Dalam polemik kebudayaan yang terjadi pada tahun 1930 antara Sutan Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane terdapat dua pendapat. Satu pihak berpendapat ‘seni untuk seni’ dan pihak yang lain berpendirian bahwa sastra untuk memberikan pelajaran tentang kehidupan. Pihak pertama lebih menekankan unsure seni atau keindahan yang terdapat dalam karya sastra, sedang pihak kedua berpandangan bahwa suatu karya sastra haruslah mengandung pelajaran yang bermanfaat bagi pembacanya. Masing-masing pendapat tentu ada pengikutnya. Diantara kedua pendapat tersebut tentu tidak perlu dicari yang mana benar dan yang mana salah. Yang jelas dari peristiwa itu tersirat makna bahwa sastra dianggap sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia.
Dalam bukunya Penulisan Kreatif Prof.H.Saleh mengutarakan beberapa tugas sastra, sebagai berikut:
(a) Sebagai alat penting pemikir-pemikir untuk menggerakkan pembaca kepada kenyataan dan menolongnya mengambil suatu keputusan apabila ia menhhadapi masalah;
(b) Karya sastra yang baik selalu menjadi tempat nilai-nilai kemanusiaan mendapat tempat yang sewajarnya;
(c) Karya sastra berperan sebagai alat untuk meneruskan tradisi suatu bangsa dalam arti yang positif ( dalam Semi, 1988:20-21).
Dalam suatu wawancara antara wartawan Horison dengan Mochtar Lubis terungkap bahwa “sastra berperan sebagai kritik bangsa”. Pokok-pokok pikiran yang diungkapkan Mochtar Lubis itu dapat dirinci sebagai berikut:
1) Sastra dapat mengangkat harkat manusia;
2) Sastra dapat mengembalikan kemanusiaan agar tidak terperangkap nafsu kebinatangan;
3) Sastra dapat membuat perubahan sosial (bonus sastra);
4) Sastra dapat sebagai loncatan jembatan tranformasi budaya selekas-lekasnya dengan memberikan peneladanan;
5) Walau sangat tipis hasilnya, sastra dapat berfungsi sebagai reformasi nilai aktualisasi kesadaran bangsa;
6) Sastra dapat sebagai penggugat penyelewengan hukum, social, politik, ekonomi, dan lain-lain ( 1983:77-81).
Menurut Abdul Hadi W.M. “Sastra berperan dalam pembakuan bahasa”. Beberapa pokok
pikiran yang termuat dalam ungkapannya itu dapar dirinci sebagai berikut:
a) Dalam sastra kemungkinan-kemungkinan bahasa digali semaksimal mungkin dan dimanfaatkan untuk memberikan lebih banyak makna.
b) Sastra dapat menjalankan peranan sebagai pembakuan bahasa, dalam arti sebagai penstabilan alat kominikasi yang lincah.
c) Gaya bahasa seorang pengarang; cara menyusun kalimat atau membuat uraian yang tepat dan lincah, efisien, dan mempesona bisa dijadikan model pemakaian bahasa yang baik dan benar.
d) Tak jarang penyair mampu menampilkan kata-kata lama yang hampir tak terpakai dan hilang dalam pemakaian sehari-hari menjadi kata-kata baru dan segar, contohnya kata santer (1980:225-233).
2.2 Strategi Memupuk Minat baca Sastra
M inat tehadap suatu objek sikap hendaknya ditumbuhkan dalam diri seseorang. Di lembaga pendidikan, usaha menumbuhkan dan memupuk minat baca ini hendaknya terintegrasi dalam pembelajaran. Agar dapat berhasil secara optimal ada beberapa strategi yang dapat digunakan. I.G. Wardani ( 1981 ) menawarkan seperangkat strategi, yaitu : 1) Pemberian contoh, 2) Saran, 3) Penguatan, dan 4) Perlengkapan. Selain itu, seorang guru pengajar sastra, Sri Kitonawangsih melakukan terobosan untuk meningkatkan minat baca sastra siswanya dengan cara: 1) Meyakinkan siswa, 2) Menceritakan, 3) Menggunakan tayangan TV sebagai bahan pembelajaran.
2.3 Membuat Kliping
Karya sastra yang dapat dinikmati tidak hanya berupa karya yang dipublikasikan dalam bentuk buku, tetapi banyak pula karya yang dipublikasikan melalui media massa, baik media massa cetak atau elektronik. Untuk karya sastra dalam bentuk buku, setelah dibaca atau dinikmati ditulis sinopsisnya atau ringkasannya, sedangkan karya yang dipublikasikan secara lepas di media massa dikliping. Maksud mengliping karya sastra di sini adalah menempel karya sastra yang telah dibaca dan melakukan analisis terhadapnya.
Kegiatan mengliping karya sastra menurut Suroto ( 1990 ) dapat mendatangkan tiga manfaat. Sebagaimana dijelaskannya, manfaat mengliping karya sastra tersebut adalah: 1) Kita dapat mengikuti karya-karya yang baru, 2) Melakukan pekerjaan mengliping dapat membina ketekunan bekerja, dan 3) Seseorang yang senantiasa melakukan kegiatan mengliping yang membaca atau menikmati karya tersebut terlebih dahulu akan terbina pada dirinya rasa cinta pada sastra.
Kliping yang dibuat sesuai dengan pengertian yang di atas, berarti kliping itu merupakan kliping bertipe kompleks. Kliping tipe ini tidak hanya sebatas menempelkan karya yang telah dibaca di sebidang kertas saja, tetapi dilengkapi dengan identitas sumber tempat kliping itu dipublikasikan dan disampaikan pula analisis atau tanggapan terhadapnya. Adapun identitas sumber dimaksud adalah: judul karya, nama pengarang, nama Koran, majalah, atau tabloid, waktu publikasi ( hari, tanggal, dan tahun ). Kedalam kliping yang bertipe kompleks ini termasuk juga pengertian bahwa kliping itu dikerjakan dengan menerapkan prinsip-prinsip penciptaan karya seni. Membuat kliping termasuk kegiatan kreatif. Oleh sebab itu, sangatlah perlu memperhatikan kerapian, penataan bidang tempel, pewarnaan, dan pemakaian besar dan bentuk huruf yang variatif.
Aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan kliping di atas sekaligus menjadi aspek penilaian sebuah kliping. Pembobotan yang dapat dikenakan pada aspek-aspek penilaain tersebut, adalah: 1) kelengkapan bahan 30%, 2) Identitas sumber 20%, 3) intensitas tanggapan atau analisis 30%, dan 4) penataan 20%.
Adapun berkenaan dengan teknik atau prosedur pengerjaan kliping tersebut, dirasa Anda telah memahaminya, karena kegiatan ini telah Anda lakukan pada jenjang pendidikan sebelumnya.
2.4 Sinopsis dan Tanggapan
Sinopsis dan tanggapan adalah dua kegiatan yang biasa dilakukan setelah menikmati suatu karya sastra. Kegiatan ini dapat terlaksana apabila pembaca melaku-
kan identifikasi terhadap unsur-unsur pembangun karya baik secara fisik maupun secara mental. Identifikasi ini akan lahir dalam bentuk analisis atau penguraian karya atas unsur-unsur yang membangunnya.
Pada dasarnya sinopsis adalah penyampaian kembali secara ringkas karya sastra yang telah dibaca seseorang kepada pihak lain atau orang lain. Panuti Sudjiman ( 1986:63) mengatakannya sebagai ikhtisar sebuah karya yang memberikan gambaran umum tentangnya. Hal-hal yang perlu disampaikan dalam sebuah sinopsis adalah identitas karya dan unsur-unsur intrinsik karya tersebut. Kedalam identitas karya mencakup: Judul, pengarang, tahun terbit, jumlah halaman, kota dan nama penerbit, dan identitas lain yang ada dan perlu diungkapkan. Unsur-unsur intrinsic yang dikemukakan tentu tergantung pula pada jenis karya yang disinopsis. Unsur intrinsik puisi tentu berbeda dengan unsur sinopsis novel atau naskah drama.
Tanggapan adalah sambutan pembaca atau penikmat terhadap sebuah karya sastra sesuai dengan apa yang diterimanya baik secara indrawi atau bayangan di dalam angan-angan. Tanggapan dapat disampaikan dalam bentuk kritik atau komentar ( KBBI, 2001 ). Perihal suatu kritik atau komentar ia termasuk ke dalam bentuk hasil kajian atau telaah sastra. Sebuah telaah sastra mengandung tiga aspek pokok, yaitu analisis, interpretasi, dan penilaian. Jadi, tiga hal inilah yang perlu disampaikan dalam sebuah tanggapan. Tentu penyampaiannya tidak berurutan secara kaku seperti itu, tetapi ketiganya dapat terintegrasi, disampaikan dalam urutan yang bervariasi. Adapun yang perlu ditanggapi itu tak lain dan tak bukan adalah unsur-unsur pembangun karya tersebut. Misalnya pada novel, disampaikan tanggapan terhadap tema cerita, alur cerita, penokohan atau perwatakan, pemakaian bahasa, dan sebahgainya.
2.5 Penilaian Minat Baca
Penilaian terhadap minat baca dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan mengadakan ujian lisan, dengan pengamatan, melalui penyelesaian suatu proyek, atau dengan self report (laporan diri sendiri), atau self evaluation ( penilai
an diri ).
Penilaian dengan pengamatan terhadap sikap positif pembelajar ( siswa / mahasiswa) memang sulit dilakukan. Akan tetapi, pada ivent-ivent tertentu pengamatan itu bisa dilakukan, misalnya ketika ada kegiatan lomba di sekolah atau dikampus. Pengajar dapat mengamati pembelajar yang mengikuti atau berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Tiga strategi penilaian yang lainnya sangat mudah dilakukan. Dosen atau guru menyiapkan rubrik-rubrik penilaian yang dipahami dan dapat diisi dengan mudah oleh mahasiswa. Namun harus diingat, prosedur pengerjaan tugas dan kriteria penilaian yang akan diterapkan harus diinformasikan kepada pembelajar.
III. Petunjuk Pembelajaran
1. Bacalah materi dengan judul gemar membaca sastra di atas dengan seksama.
2. Tandailah pokok-pokok pikiran, rinciannya, dan konsep-konsep atau istilah yang
ada pada uraian di atas kemudian pahamilah maksudnya!
1. Buatlah ringkasan materi di atas dalam bentuk peta konsep.
IV. Tugas
Mulai minggu ini Anda membiasakan diri menikmati karya sastra setiap minggu. Jangan lewatkan satu minggu pun. Rekaman kegiatan membaca karya sastra itu Anda buat dalam catatan berbentuk catatan harian yang lengkap. Untuk kepentingan penilaian aktivitas belajar ini akan dinilai pada minggu ke-14. Jadi, penilaian dilakukan terhadap aktivitas membaca karya sastra yang Anda lakukan selama sepuluh minggu. Adapun aspek aktivitas membaca karya sastra ini terbagi ke dalam empat bagian, yaitu : 1) aktivitas menikmati karya sastra selama sepuluh minggu. Penghitungan dimulai dari minggu ketiga Oktober sampai minggu terakhir Desember 2007. 2) Menulis sinopsis karya sastra yang telah dibaca, yakni berupa satu novel, satu buku naskah drama, satu buku kumpulan puisi, dan satu novelet. 3) Mempersiapakan diri mempresentasikan salah satu sinopsis yang telah ditulis yang paling Anda kuasai di depan teman-teman Anda, dan 4) Membuat kliping karya sastra yang telah Anda nikmati. Adapun penjelasan lebih lanjut, tertera pada rubrik tugas dalam naskah Kontrak Perkuliahan.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Taubat Oleh Sadam* Hidup bagaikan durjana Tercebur ke dalam nista Membuatku jadi gila Hidupku berlumur dosa Merasa paling sempurna Terhentak...
-
Oleh: silvi e sipayug Indahnya pagi membuat aku menjadi semangat untuk melakukan aktivitas yang di lakukan setiap harinya yait...