Sebuah Kreativitas, Inisiatif dan Abdi terhadap bahasa dan Sastra Indonesia
Senin, 09 Desember 2019
sahabat yg berkhianat setelah bertemu orang baru
"Sahabat yang berhianat setelah bertemu orang baru"
Karya:nia marlina purba
Saat Pagi yang cerah matahari yang begitu hangat yang memberi sinar pada diriku. pada saat itu pun aku sangat berpikir Entah kenapa hari-hariku begitu tidak ada semangat. tetapi aku selalu mencoba untuk berusaha tersenyum agar teman-temanku tidak mengkhawatirkan ku. pada saat itupun Aku berangkat ke sekolah seperti biasanya dengan suatu keyakinan yaitu aku harus terlihat bahagia agar teman-temanku tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan ku saat ini .Namun pada saat-saat seperti inilah aku berpikir berdiam diri berdiam diri dalam ruang kelas yang begitu sangat ramai dengan penuh canda tawa kebahagiaan yang sangat-sangat menyenangkan . Sementara aku yang selalu larut dalam kesedihan untuk hari ini .Nia kamu kenapa? tanya seorang sahabat kepadaku tetapi tanyaan dan suara itu sudah tidak asing didengar tiap harinya .tetapi aku selalu mencoba untuk selalu tersenyum tersenyum agar mereka tidak mengkhawatirkan keadaanku.
" Nia Ayolah Apakah kau ada masalah kelihatan Mukamu sangat berkerut seperti orang yang lagi banyak mengalami masalah yang begitu berat".
" aku berkata kepadanya " aku tidak kenapa-kenapa Kesya Aku sedang sedikit kecewa saja. Aku mengerti perasaanmu Bukankah aku sudah merasakannya bukan hanya 1 atau 2 kali tapi aku sudah pernah merasakan lebih dari nia.
Sudahlah lupakan semua itu jangan terlalu dipikirkan, dan Jangan Menangis Lagi. ucapnya. Waktu itu juga aku menahan Bendungan air mataku yang ingin terjatuh.
Untuk saat ini aku tidak tahu harus bagaimana lagi yang bisa kulakukan sekarang adalah hanyalah menangis menangis dan Menangis mungkin dengan menangis perasaanku lebih baik dan lega. Saat itu pun kesya berkata pada ku, " Nia Jangan Menangis Lagi , Kumohon". Saat itu Ia memang terlihat begitu khawatir Ketika aku mulai menangis dan menangis .
Tetapi Aku sangat bingung bahkan aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh teman-temanku padaku. Air mata ini sudah lama ku bendung mulau dari pagi tadi dan sekarang aku sudah tidak sanggup untuk menahan nya. Andai saja aku bisa berteriak Pastinya aku akan berteriak sekencang-kencangnya .agar aku lebih puas untuk meluapkan semua yang kurasakan dan yang kualami.
Tak lama beberapa kemudian bel pun telah berbunyi waktunya untuk masuk kelas dan kami pun untuk mempersiapkan diri untuk memulai pelajaran yang diberi oleh bapak ibu guru kepada kami. Pada saat itupun aku mulai mencoba untuk konsentrasi mendengarkan suatu materi yang disampaikan oleh guru tersebut kepada kami walaupun dengan keadaan yang tidak sanggup untuk mendengarkan dengan baik tetapi aku selalu berusaha untuk memperhatikan apa yang dikatakan oleh guru apa yang disampaikan oleh guru tentang materi pelajaran kami pada pagi hari itu. Setelah berlangsungnya pelajaran an-nur pun dan teman-teman sekelasku mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah masing-masing dan setelah keluar dari ruang kelas temanku Kesya menghampiriku. Aku berpikir bahwa iya begitu penasaran tentang masalahku Karena aku tahu bagaimana sifat Kesya yang sebetulnya.
Setelah menghampiriku, Iya bertanya pula kepadaku ,"Nia Ayolah Coba katakan padaku apa sebenarnya masalahmu dengan begitu kamu kan tidak akan merasa terbebani lagi". mungkin setelah kamu menceritakan nya padaku aku aku bisa bantu .
" itu tidak mungkin aku tidak akan mungkin menceritakannya ,maaf ".ucapku. " Ya udah, tapi kamu jangan menangis lagi ya?" " Baiklah", kataku sambil tersenyum.
Sebenarnya aku tak mungkin menceritakannya kepada Kesya bahwa aku telah dikhianati sahabat terbaikku karena dia telah menemukan orang baru yang lebih sempurna dariku. Iya begitu tega meninggalkanku menyendiri di kelas yang begitu sangat ramai Bahkan dia bersenang-senang dengan teman barunya nya. Bahkan ia tak memikirkan Bagaimana perasaanku padanya.
Sebenarnya Bukankah didalam persahabatan tidak mengenal kata penghianatan yang fatal?. Tapi entah kenapa pada saat ini aku telah menemukan takdir dalam persahabatanku. Tapi sebenarnya aku tidak membencinya hanya saja Aku sedikit kecewa kepadanya. mengapa ia begitu tega melihat menghianati persahabatan kami Bukankah ia tahu kami sudah bersahabat lebih dari satu setengah tahun Kan. mungkinkah dia melakukan seperti itu padaku aku memang begitu sangat sangat kecewa kepadanya.
Tetapi teman-temanku selalu berkata kepada aku, Nia Janganlah hatimu ditutupi oleh amarah , egois , dengki dan keras kepalamu. mungkin di antara kalian berdua hanya saja kesalahpahaman. Pasti Suatu Saat Nanti kalian akan tahu yang mana yang baik dan mana yang tidak. Dari perkataan teman-temanku tadi aku masih terus berpikir mungkin mereka ada benarnya juga.
Teman-temanku selalu berkata kepadaku, "Nia Bukankah cinta kasih akan mengalahkan kebencian "bukan?. Tapi aku berpikir lagi mungkin pada saat itu amarahku tidak dapat ku kendalikan. entahlah yang pasti untuk saat ini aku benar-benar menyesal dengan persahabatan kami.
Keesokan hari nya tiba pada pagi hari yang seperti biasanya matahari yang sangat cerah yang memberi hangat kepada seluruh tubuh. Dengan suatu keyakinan dan harapan yaitu agar sahabat ku yang dulu meminta maaf kepada aku atas apa yang telah dia perbuat.
Setelah sampai di sekolah dia pun menyapaku, "nia",sapa nya. Aku tersenyum tepis dan dia segera menghampiri ku. "Iyh ,ada apa?"tanyaku.
" sebenarnya aku hanya ingin meminta maaf kepadamu .kemarin-kemarin aku sudah menjauhimu, Bahkan aku meninggalkanmu sendirian , aku benar benar minta maaf ".ucapku sangat tulus kepadamu.
Sebenarnya kata-kata inilah yang paling aku tunggu-tunggu darimu. aku juga salah Tidak seharusnya aku mendengarkan perasaanku yang salah ini ,bukan?". Terima kasih sahabatku dia Kamu Memang Yang Terbaik bagiku ".Tetapi dalam hati kecilku masih ada tersimpan dalam percobaan dan kata sedih tetapi itu semua tidak apa-apa dan akhirnya air mata pun yang terbuang tidak akan pernah terbuang lagi.
Setelah semuanya sudah selesai kami pun memasuki kelas dan segera bersiap-siap untuk segera belajar menerima materi pelajaran untuk hari ini. Mulai saat ini tidak ada lagi yang mengkhawatirkan ku. tidak ada lagi kesalahpahaman Hari ini aku benar-benar sangat bahagia semua beban yang kurasakan telah lenyap seketika. bahkan semangatku pun telah kembali senyum di wajahku pun sudah kembali lagi. Tetapi jika seorang sahabat tidak ada aku tidak tahu bagaimana jadinya diriku .kamu pasti akan merasa kehilangan dan saat itulah kau sadar Apa arti sahabat yang sesungguhnya.
catatan balas dendam
“CATATAN BALAS DENDAM”
BY: CLAUDIA FRANSISKA SITINJAK
Pada suatu hari hiduplah sebuah keluarga yang sederhana yang terletak di sebuah kota.Keluarga ini terdiri dari ayah,ibu,dan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Billy.Billy adalah seorang anak lelaki yang baik hati,dia sedang melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi negri dengan jurusan yang telah ditentukan olehnya yaitu jurusan bahasa inggris. Billy memiliki seorang adik perempuan yang bernana Nelly. Nelly sedang duduk di bangku kelas satu SMA dia adalah orang yang sangat cantik dan baik hati. Orang tua mereka mempunyai usaha rumah makan yang sering di datangi pengunjung oleh karena itu usaha rumah makan yang mereka buka selau ramai. Tetapi meskipun begitu mereka sering makan dengan lauk ikan asin karena lauk ayam yang mereka jual selalu habis.
Billy adalah abang dari Nelly, tetapi Nelly selalu iri melihat abangnya itu karena ibunya selalu memperhatikan abangnya dengan baik hati sehingga Nelly pun iri padanya. Pada saat Billy kecil dia memiliki sahabat karib dengan salah seorang teman sekelas SMA nya, dia bernama Dody. Dody memiliki perasaan kepada Nelly,adik dari Billy tetapi tidak ada yang mengetahuinya termasuk Billy. Dan sekarang Dody telah mengembangkan bakat yaitu menjadi actor yang paling terpopuler di negaranya, banyak orang yang membeli, bertarung untuk mendapatkan tiket agar bisa berfoto dengan Dody.karena Dody actor terpopuler. Dan sampai saat ini Dody masih sering bermain ke rumah Billy.
Pada hari pertama kali Nelly memasuki sekolah SMA favoritenya dia sangat malu karena dia ketinggalan tiket di bus yakni tiket bus yang dinaikinya dan diapun malu sehingga pada saat itu ada seorang pria yang membayar dua tiket dan sambil melihat Nelly sehingga Nelly pun senang tetapi ternyata pria itu membayar tiket temannya yang berada di belakang nya dan pada akhirnya Nelly meminjam tiket kepada pria tersebut dan pria tersebut berkata tidak boleh Nelly terdiam dan berkata “tolonglah aku kali ini saja!” dan pria pun memberinya sambil tersenyum manis. Dan tibalah di sekolah dia merasa aneh dan ternyata salah satu kakak kelas memanggil dia dan berkata “ mengapa ada anak SMP datang ke sekolah SMA ini?” sambil melihat Nelly dia tertawa terbahak- bahak. Dan tiba tiba datanglah seorang kakak kelas lelaki yang melihat Nelly dia langsung menolong Nelly yang imut itu dengan cara menyuru Nelly untuk pergi ke ruang tata usaha karna masih sisa seragam sekolah yang tersisa. Dan dia pun masuk ke dalam kelas yang telah di tentukan oleh guru dan ternyata dia berjumpa dengan seorang gadis yang mungil berkacamata yang sedang duduk di belakangnya. Gadis itu sedang sibuk dengan kartu- kartu milik actor yang terpopuler itu, dia salah satu penggemar berat Dody, Nelly bertanya padanya
”apakah kamu penggemar Dody ?”
dan dia pun menjawab “ya!!!”
apakah kamu juga begitu? Nelly menjawab ya saya juga dengan hati yang senang
Nelly memperkenalkan dirinya kepada gadis mungil itu dan sebaliknya. Nama gadis mungil itu adalah Shyrine. Shyrine sering sekali bermain game untuk mendapatkan tiket Dody , sampai- sampai Shyrine terus bermain game seharian dia dan ibunya sangat gemar pada Dody. Namun Nelly bersikap biasa saja. Dan saat Nelly berbalik badan dia melihat cowok manis yang dia jumpa di bus tadi. Dia berfikir “ mengapa dia di dalam kelas ini!” dan semua mata cewek hanya ada di pada cowok itu kecuali Shyrine dan Nelly. lalu Nelly bertanya
“ siapakah cowok itu mengapa dia sangat dilihat oleh banyak orang ?”
Jawab Shyrine “ dia adalah calon ketua osis nanti jadi banya cewek yang menyukainya.”
Owh kata Nelly. Lalu mereka pun saling memperkenalkan diri nya sehingga Nelly taw siapa nama cowok yang telah membantunya tadi. Namanya adalah jihoon.
Pada hari kedua Nelly berangkat seperti biasa dia datang kesekolah dan satu bus lagi dengan jihoon. Nelly selalu saja mengikat rambut dengan kepang dua dan dia tidak merasa malu karna hanya dia yang sangan culun di sekolahnya. Dia bersahabat dekat dengan shyrine tetapi meskipun begitu nelly tidak pernah menceritakan pada shyrine tentang dody sahabat abangnya yang selalu bermain ke rumahnya dia hanya diam apabila shyrine membahas tentang dody.tak disangka ternyata nelly mempunyai cinta pertamanya sejak smp dia berpacaran dengan seorang lelaki yang berwajah tampan bernama jimen tetapi pada suatu hari jimen bertemu dengan nelly di suatu tempat, jimen sedang duduk sendirian dan nelly pun menghampirinya dan jimen pun terkejut melihan nelly lalu jimien menyuru nelly untuk pulang ternyata datang seorang gadis perempuan yang menghampiri jimen dan bertanya
“ siapa dia?? Mengapa dia bersamamu?” lalu jimean berkata
“dia hanyalah anak tetanggaku yang menyuru aku pulang karna ibuku sedang mencariku jadi kaw tak perlu ragu”
Lalu mereka pergi meninggalkan nelly. Nelly menangis pergi pulang karna dia telah kehilangan cinta pertamanya.dia merasakan sakit hati yang begitu besar dan dia menangis menangis dan menangis. Dia bertemu dengan shyrine di jalan lalu shyrine bertanya padanya tetapi nelly hanya menangis .dan pergi pulang ke rumahnya memencit bel dan keluarlah dody dari dalam dody melihat nelly menangis dan memeluknya sambil berkata”nelly kamu kenapa?” tolong berhentilah untuk menangis aku jadi sedih melihatnya kata dody pelan. Lalu nelly berlari pergi seianya melepaskan pelukan dody dan pergi ke dalam kamarnyadan menangis. Sampai esoknya tiba dia pergi ke sekolah dengan hati yang masih sakit. Sesampai di sekolah dia sibuk belajar dengan menggunakan androidnya tiba tiba catatan balas dendam muncul, awalnya dia bingung dengan itu tetapi dia mencoba dan berhasil menjawab pertanyaan yang muncul dan dia masih sedih.
Dan terjadilah pada jimean hal hal yang buruk dan terkirim semua foto yang terjadipada jimean dan akhirnya nelly agak lega dengan hal itu.dan pada saat itu nelly dapat tersenyum kembali.
Pada saat itu kelas mereka sedang belajar olahraga jadi guru olahraga mereka membagi mereka kelompok untuk bermain bola jadi nelly dan jihoon pun satu kelompok sehingga mereka bersama melawan bola tetapi sebelum dimulai ,nelly langsung berkata pada jihoon
“aku takut sekali dengan bola karna aku pernah sakit terkena bola jadi tim kita pasti akan kalah.” Tetapi jihoon menjawab” tidak apa apa tenang saja kw tidak akan terkena bola tetaplah kw berada di belakangku.” Nelly tersenyum manis.
Dan akhirnya latihan pun di mulai nelly selalu berada di belakang jihoon dan jihoon melindungi nelly dari serangan bola sehingga badan jihoon yang selalu terkena bola dan shyrine berteriak “ ayo nelly pukul bola sekali” dan nelly pun berfikir untuk mencobanya tiba tiba datang pukulan bola yang sangat keras lalu nelly pun mencobanya dan dia terjatuh pngsan jihoon langsung menggendong nelly membawanya ke rumah sakit dengat cepat dan panik.akhirnya nelly sadar. Di siang itu nelly dan shyrine makan siang di kantin.
Shyrine berkata “ kamu tidak merasa aneh dengan jihoon?”
lalu nelly bertanya “ memangnya mengapa? aku hanya merasa biasa saja kok.”
Lalu shyrine berkata lagi” tadi pas kamu pingsan dia langsung panic dan menggendong mu”
Lalu nelly terdiam. Tiba tiba jihoon dan temannya datang dan duduk di depan nelly sehingga nelly bertanya heran apakah itu benar sambil menatap wajah jihoon yang tersenyum manis.tiba tiba jihoon langsung berkata “tolong bergeser sedikit aku ingin melihat menu makanan yang berada di balik kepalamu” nelly langsung tertawa .
Siswa yang tobat
Karya :Kevin powel malau
Hari ini adalah hari yang sangat cerah dimana hari yang penuh dengan semangat untuk memulai pelajaran,di pagi hari yang sangat cerah ini semua siswa tidak sabar lagi untuk mulai belajar.
Dan setelah kami menunggu beberapa saat pak guru pun datang
Pak guru:”selamat pagi anak anak”
Siswa: “selamat pagi pak”
Pak guru: apa kalian sudah berdoa?
Siswa:sudah pak
Pak guru: kalau begitu mari kita mulai pelajaran nya,
Pelajaran puun berlangsung selama pelajaran pak guru ter focus pada seorang siswa yang bernama emang yang dari tadi seperti orang ketakutan.
Pak guru:kamu kenapa emang”? Tanya pak guru
sahut seorang siswa :mungkin kebelet pak” dan teman temen yang lain menertawakan nya “hahahah”
emang:begini pak tadi pagi buku bahasa Indonesia saya hilang….
Pak guru: kok bisa?tanya pak guru
Mungkin dia lupa kali pak meletakkan buku nya dimana ‘’sahut seorang siswa”
Pak guru: apa betul yang dikatakan teman teman mu emang?tanya pak guru
Emang: tidak pak,tadi pagi masih ada kok…?
Pak guru: lalu bagai mana bisa hilang kalau tadi pagi buku kamu masih ada di sini?tanya pak guru
Emang:kalo saya tahu pasti udah ketemu lah pak, ‘’sentak emang”
“hahahahah”kata sebagian siswa
Setelah lama mencari cari akhir nya salah satu teman bernama joy menemukan buku milik emang di dalam laci meja nya sendiri
Pak guru pun kaget!
Pak guru: lohk kok bisa ada di dalam laci meja kamu?
Emang:iya ya pak, saya juga bigung…
Joy: mungkin ada yang jahil kali pak…
Pak guru:sudah lah gak usah di perpanjang lagi yang penting bukunya kan sudah ketemu..
Setelah bel pulang berbunyi pak guru memberikan tugas
Kepada siswa untuk membuat sebuah cerpen dengan karangan masing masing
Esok harinya pun tiba
Seluru siswa kelas A sudah berada di ruangan dan pak guru pun masuk
Pak guru: ‘’selamat pagi anak anak’’
Siswa :selamat pagi pak
Pak ada tugas’ sahut seorang siswa
Pak guru: oh iya ‘ apakah tugas kalian siap semuanya !tanya pak guru
Siap pak sahut siswa
Akan tetapi pak guru tidak percaya dan memeriksa satu per satu pekerjaan rumah siswa dan ada dua siswa kedapatan ternyata tidak sama sekali mengerjakan tugas,kebetulan siswa yang tidak mengerjakan tugas yang di berikan bapak guru salah satu nya si emang
Pak guru:lohk kok kamu tidak mengerjakan nya ?tanya pak guru
Emang: tadi malam listrik di rumah saya putus pak…
Putus apa jangan jangan kamu baru di putusin pacar kamu yah ‘hahahah’ ejek teman temanya
pak guru pun geram dan memberikan hukuman kepada emang
setelah hukuman selesai emang pun merasa malu dan tumbuh lah keinginan nya untuk belajar.
Setelah ber minggu minggu pelajaran pun berjalan seperti biasanya
Dan pak guru mulai menyukai emang karena emang sudah mulai rajin mengerakan tugas tugas dengan baik dan bahkan menjawab hampir sluruh pertanyaan pak guru.
Pak guru: emang!
Emang : ya pak
Pak guru:akhir akhir ini nilai mu meningkat ,”puji pak gru”
Emang: iya nih pak saya malu terus kena hukum.
Bagus bagus sahut pak guru
Setelah enam bulan lamanya akhir nya semester satu pun selesai dan seluruh siswa kaget karena emang mendapat nilai terbaik dan mendapat kan hadiah dari orang tua nya
Akhir nya emang pun belajar dan terus belajar
Hingga sukses dan ber keluarga
TAMAT..
" MALAS SEKOLAH"
KARYA Anggi
Hari minggu merupakan hari libur yang membuat sebahagian orang malas dalam beraktifitas ada yang berpergian atau liburan, ada juga yang memilih di rumah untuk melepas lelah atau beristirahat karena hari - hari sebelumnya dipenuhi dengan beraktifitas
begitu pula dengan anggi dia memilih unttuk bersantai - santai saja di rumah akibat dari terlalu santai nya setelah hari minggu anggi masih belum siap dalam menghadapi aktifitas sekolah yang menurut nya sangat sangat membosankan
" anggi kamu tidak sekolah? ini sudah siang loh nanti kamu terlambat tanya ibunya"
"anggi masih capek bu boleh satu hari boleh kan bu? lagian ga ada PR dan ulangan harian kok bu" ya kamu jangan begitu gi sekolah itu bayar loh gi menuntut ilmu itu sangat penting dan jangan kamu sepelekan anggi" jawab ibunya menyenggah "sudahlah bu anggi masih ngantuk mau lanjut tidur lagi " melihat gelagat anaknya, ibunya menjadi kesal,dan geram
ibunya mengajak anggibkr suatu tempat.Yaitu panti asuhan dimana di sana di penuhi anak anak dengan latar belakang yang berbeda "nah sekarang kamu lihat mereka sudah tidak punya orang tua yang membiayai sekolahnya padahal mereka banyak yang menginginkan untuk sekolah.
Ibunya memberitahukan kepada anggi. setelah dari panti asuhan ibunya mengajak anggi ke suatu tempat disana banyak anak anak yang mengemis dan mengamen mencari uang.
"Untuk makan saja mereka bersusah payah apalgi untuk biaya sekolah" ibunya kembali menjelaskan kepada anggi.
Pada akhirnya anggi sadar dan ia mau sekolah meskipun dia terlambat ibunya mengantarkan ke sekolahnya.
didalam perjalanan kesekolah dia melihat anak sekolah berjalan pincang
"alangkah beruntung nya aku,masih memiliki fisik yang sempurna tetapi bermalas malasan unttuk sekolah sedangkan mereka yang cacat saja semangat buat sekolah"
ucapnya dalam hati
"USAHA DEMI SEKOLAH"
oleh: ROHICA Simangunsong
Saat ini usiaku genap 15 tahun dan kini aq menginjak bangku kls 10 sekolah menengah atas dan aq sekolah disebuah sekolah yg bukan termasuk sekolah terfavorit sebenarnya aq tidak menginginkan aq bersekolah ditempat ini namun, karena letak zonasi dan keadaan ekonomi maka dengan terpaksa aq harus sekolah ditempat ini. Dan karena letak hal itu aq terpaksa ngekos ditempat aq sekarang sekolah ini. Aq kos ditempat bibi q, disana aq sangat merasa tidak nyaman karena bibi q seperti tidak senang aq tinggal ditempatnya. Pertama aq bersekolah aq sangat murung dan pendiam karena tak ada seorang pun yang q kenal ditempat ini. Kebetulan aq termasuk orang yang tertutup saat itu, aq sangat tak suka bergaul bahkan aq tak suka tempat yang ramai.
Pada hari kedua aq berkenalan dengan seorang yg bernama Vita saat itu aq sangat senang karena aq mempunyai teman baru. Hari ketiga bersekolah aq berangkat dari kos tempat aq tinggal kesekolah dan sesampainya disekolah Vita menyapaku
"Pagi Cha,"ujarnya.
Aq hanya tersenyum dan mengangkat kedua alisku tanpa membalas ucapan Vita, mungkin Vita berfikir bahwa aq tidak mendengar ucapannya dan ia mengulangi kata" nya lagi.
Karena perasaan ku tak enak aq pun menyahut nya
"Pagi juga,"ucapku seraya tersenyum manis.
Sekarang tibalah saatnya pembagian jurusan dan aq pun memilih jurusan IPA karena mulai SMP aq sangat menyukai pelajaran ini. Setelah pembagian jurusan selesai maka aq masuk dikelas X Mia 1 saat itu, hatiku sangat sedih karena Vita memilih jurusan yang berbeda dariku. Hatiku sangat sedih karena, harus berpisah dengannya
Kemudian aq punya seorang sebangku yg bernama Putri, orangnya sangat banyak bicara dan gecor kadang aq sangat tak nyaman dengannya, tak jarang juga ia jadi bahan olokan karena suara bisingnya yg mengganggu kenyamanan orang lain namun, aq jadi teman baik dengannya, beberapa Minggu berlalu wali kelas kami berkata bahwa kami harus berganti teman sebangku, hatiku bertanya"
"Haruskah," pikirku.
Sambil bersungut-sungut semua siswa menaatinya, dan sekarang aq bersebangku dengan Joy. Aq tak suka dengannya karena dia merupakan pribadi yang kasar.
Sebulan bersekolah aq merasa ada yang berbeda denganku, yang dimana dulunya aq adalah pribadi yg pendiam kini aq menjadi sama seperti putri aq mulai malas belajar suka bercerita sehingga dalam hal akademik aq sangat kurang sehingga pada saat akhir semester nilai q sangat ambruk tapi aq bersyukur karena saat itu aq tidak tinggal kelas
Saat libur semester sebagai anak petani aq harus membantu ibuku bekerja di kebun kebetulan ayahku telah meninggal
Dan tak jarang juga aq membantu tetangga q dikebun mereka dengan prinsip
"Lumayan bantu ibu beli buku tulis," setelah libur sekolah seperti biasa aq kembali kekos namun belum berapa lama sekolah aq sangat tak tahan lagi tinggal dirumah bibi, aq memutuskan harus pindah dari sana, karena memang dari dulu sikapku selalu konsisten aq membulatkan tekad ku untuk pindah namun, aq bingung bercampur takut untuk mengatakan hal ini pada bibi sehingga aq memutuskan untuk menulis sepucuk surat dan sebelum berangkat ke sekolah aq menitipkannya dan mengatakan pada bibi untuk membacanya
Setelah pulang sekolah dengan gugup aq bertanya pada bibi keputusan nya agar membolehkan ku untuk pindah namun, saat itu bibi marah padaku dan berkata
"Dasar tidak tw diri," ujarnya.
Aq terdiam dan menangis karena ucapan bibi setelah itu kembali bibi marah padaku seraya berkata
"apa kah tujuanmu kw menulis surat seperti ini , apakah kw pikir aq ini seorang anak yg dapat kw buat begitu," ujarnya.
Aq menangis dan berkata pada bibi
"Bi .................... Aq tw aq salah namun saat ini aq benar" ingin pindah," ucapku
Bibi melotot padaku ,aq sangat ketakutan dia diam dan masuk kekamar, setelah itu aq kembali ke kampung dan menceritakan semuanya pada ibuku
Ibu memang maklum namun, ia tak tw harus bagaimana membicarakan hal ini dengan bibi karena ia segan pada bibi, dan karena aq sudah mendesak akhirnya ibu pun berbicara pada bibi akhirnya aq bisa keluar dari rumah bibi ku hatiku sangat lega.
Setelah aq keluar dari rumah bibi aq tinggal ditempat kosan milik seorang guru, beliau sangat baik dan pengertian ia juga sama seperti ibuku suaminya telah meninggal kira" lima tahun yg lalu, ia memiliki seorang anak, namun kelakuan anaknya sangat tak baik mungkin karena ia terlalu sering dimanjakan dan aq memanggil ibu itu dengan panggilan bibi juga jika dirumah.
Selama kos disana biasanya selama pulang sekolah aq akan bekerja dirumah tetangga yaitu, menyetrika dan terkadang menyuci pakaian milik tetangga, dan terkadang aq membantu bibi untuk berjualan aneka gorengan dipasar, sebenarnya aq tak suka dengan pekerjaan ini tapi apa boleh buat demi membantu org tuaku terpaksalah aq melakukannya.
Selama bekerja aq selalu menyisihkan uang buat q tabung untuk membantu ibu menyicil uang sekolah dan uang kos q.
Pengaruh aq malas belajar kmrin aq menyesal karena nilai ku anjlok setelah itu aq memutuskan untuk berubah dan kembali kependirianku semula yaitu menjadi pribadi yg pendiam dan aq mulai lebih giat lagi belajar dan hasilnya nilai ku pun meningkat dan membaik.
Suatu hari aq pulang ke kampung untuk meminta uang sekolah pada ibu, sesampainya di rumah aq sangat sedih karena ibuku sedang sakit, ia nampak lemas dan pucat mungkin karena ia terlalu kecapean bekerja dikebun, melihat keadaan ibuku saat itu aq mengurungkan niatku untuk memintanya dan aq beranjak ke dapur hendak memasak untuk makan malam dan aq tersentak saat aq meraih kaleng beras ddidapur saat melihat isi kaleng itu adalah raskin dan seperti yg diketahui bukankah raskin itu tidak bervitamin, aq menangis dan merenung sambil menyuci beras untuk menanak nya sesudah memasak nasi aq kembali menggoreng ikan asin yg tergantung didapur selesai memasak aq menggelar tikar usang milik kami dan membimbing ibu dan adikku untuk makan malam. Selesai makan malam kami pun tidur, sebelum tidur tak lupa Aq memberi ibu minum obat
Setelah minum obat ibu bertanya padaku "Berapa banyak uang yang kamu butuhkan nk," kata ibu.
"Bu, tak perlu banyak, cukup berapa yang ibu punya sekarang ! Ujarku.
Kemudian ibu berkata
"Katakanlah, berapa yang kw perlukan bukankah uang sekolahmu juga harus dibayar," kata ibu.
"Hhhhhhhhhhhhhhh................. Nggak kok, jika memang ibu blom punya uang gpp kok jika ditunda ucapku," sambil tertawa kecil walaupun sebenarnya saat itu hatiku sangat sedih.
"Ya udah ibu tidur dulu agar kesehatan ibu kembali pulih," kataku.
Kemudian aq bertelungkup dalam selimut sambil menangis melihat betapa sulitnya perekonomian keluarga ku saat ini
Rasanya aq ingin berhenti sekolah tapi ibu selalu berkata
Nak kamu jangan berhenti ya ntar kita kelihatan sekali org susah kamu harus bisa lebih dari ibu dan agar hidup kamu lebih baik kedepannya kata ibu
Hal itu lah yang membuatku terus semangat untuk bersekolah
Saat pagi tiba aq langsung bergegas ke dapur menyiapkan sarapan selepas itu kami pun sarapan selesai sarapan aq menyuci piring dan pakaian motor yg menumpuk di dapur setelah semuanya selesai aq berkemas dan bersiap kembali ke kos.
Tinnnnnnn.................... .tinnnnnn....................... Tinnnnnnnnnnn, nah itu bunyi klakson angkot yg akan q naikin ,sebelum aq berangkat aq berpamitan pada ibu, aq tidak tega meninggalkan ibuku yg dalam keadaan sakit itu.
Sesampainya di kos aq rebahan ditempat tidur dan menangis meratapi keadaan keluarga ku saat ini , Senin pun tiba" aq kembali sekolah dan belajar seperti biasanya, setelah pulang sekolah seperti biasa aq kembali bekerja di rumah tetangga dan aq kumpulkan semuanya hasil kerja keras ku mulai dari menyetrika, menyuci, berjualan dan aq membongkar celengan ayamku yg telah lama q simpan itu.
Hasilnya sih cukup banyak bahkan lebih untuk membayar uang sekolah ku yg sudah menumpuk itu
Akhhhhhh........ Aq lega sekali karena akhirnya sppku lunas, sebelumnya aq ingin merahasiakan hal ini pada ibu , namun tanpa q duga pada waktu seminggu sebelum ujian ibu datang kesekolah dan menghadap kepada guru bendahara pemegang uang sekolah kami dan akhirnya ibu pun tw bahwa uang sekolah q telah lunas ibu bertanya" darimana aq dapat uang itu setelah semuanya q jelaskan ibu terharu dan memelukku
Saat itu aq sangat bahagia saking bahagianya aku sampai menangis karena sudah lama ibu tidak memelukku sambil berkata
" Aq bangga padamu anakku,"ucapnya, sungguh hatiku sangat bahagia mendengar ibu berkata itu padaku, hari ini memang hari bahagia dalam hidupku.
love you mom' s kw adalah penguatku hingga aq kuat dengan apapun.
Sekian dan terimakasih !!!😊😊😊
Sabtu, 24 September 2011
Guru Jabut
Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 21 Agustus 2011)
BUNYI nio-nio terdengar kuyup! Ketimpong gong kecil itu menyela haru rindu yang berlangsung di rumah Marapande. Bakda subuh tadi, Dorlan tiba di rumah Uda Marapande, adik kandung Ayahnya. Letih oleh perjalanan Jakarta-Medan dengan pesawat, dilanjutkan dengan bus ekonomi satu malam utuh, mendadak lenyap oleh peluk cium Uda Marapande dan istrinya, Bujing Ros. Lebih dari 15 tahun Dorlan tak mengunjungi rumah tempat ia menghabiskan masa kanak. Iyalah, Uda Marapande dan Bujing Ros tak sebugar dulu. Telikung garis usia memang tak mudah dikecoh.
Suara nio-nio makin menanjak ke telinga. Pemukulnya sudah pasti memikul seru-seruan bagi warga. Boleh jadi undangan untuk memufakatkan hal penting di sopo godang, balai adat. Namun, irama nio-nio yang tegas tapi berjeda lama, barang tentu akan menguarkan kabar dukacita. Dorlan, Uda Marapande dan Bujing Ros menyiagakan telinga.
“Telah berpulang ke rahmatullah Panangaran Bayo Angin, tutup usia kurang lebih empat puluh dua tahun. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah Opung Omas. Insya Allah, almarhum ke tanah hari ini juga, lepas sembahyang zuhur.”
Dengung nio-nio menikung ke kejauhan. Bujing Ros memanggil napas ke dada. Uda-nya bergegas menerobos kamar. Dorlan memicing-micing mata.
“Siapa itu Panangaran….”
“Tak ingat kau sama Guru Jabut?” Bujing Ros menyalip keheranan Dorlan.
“Gu…ru Jabut…,” Garis-garis dahi Dorlan melengkung, “Guru Jabut yang….”
“Iya, yang mengajari kau mengaji,” pangkas Bujing-nya.
“Mmh….”
“Alah, Guru Jabut. Pelupa kalilah kau ini.”
Dorlan tertegun, tapi bukan karena ia mati ingatan.
“Jadi, Pana…ngaran itu Guru Jabut?” Dorlan seperti mengais kepastian ke Bujing Ros. Istri Uda-nya itu berangguk-angguk.
“Mandilah kau dulu. Habis itu makan. Biarlah Uda-mu duluan turun ke rumah duka. Kalau kau mau takziah, nanti menyusul,” titah Bujing Ros. Dorlan setengah mengangguk, setengah menerawang. Sorot matanya dilemparkan ke bubungan rumah panggung yang tak berlangit-langit.
Mmh, Guru Jabut. Manalah bisa sosok itu dikelupas dari dinding masa kanak Dorlan….
.
GURU Jabut, lelaki bertampang letih, tapi berhati cerlang. Ia dibutuhkan, tapi juga diam-diam dipencilkan. Guru Jabut itu ringan tenaga, pesuruh yang pantang mengeluh. Jaga malam di ranum sawah-ladang warga ia lakukan. Menambal atap rumah yang bocor ia tunaikan. Upahnya? Kalau tak dengan beras sepungut-dua pungut, ya, boleh kasih seikat sayur, sebungkus rokok, atau apa saja. Tak berupah pun, Guru Jabut tak kapok.
Sudah itu, Guru Jabut paling rajin ke surau. Ia tekun pula jadi guru mengaji di beranda surau. Sebagian besar anak-anak kampung seumur anak SD, Guru Jabut pengajarnya. Ia fasih tajwid, mahir pula melagukan bacaan. Suara Guru Jabut, uih, merdu berkelok. Guru Jabut tak hanya mengajar baca Quran, tapi juga memandikan sekaligus sembahyang mayit. Lantas, anak laki-laki dibimbingnya mengumandangkan bahang alias azan, juga jadi imam. Bisa dikatakan, Guru Jabut tak ambil keuntungan besar, terlebih-lebih uang, dari jasa mengajar. Lalu? Ya, itu tadi. Pokoknya para orang tua jarang merogoh saku. Guru Jabut cuma disodori beras, rencah lauk, rokok, bahkan tak sama sekali.
Benarkah Guru Jabut melakukannya tanpa pamrih? Soal itu, tanya saja Tuhan. Tapi, kalau Guru Jabut lama tak muncul di surau, tiada lain karena penyakitnya yang kumat, bukan sebab mogok tak terima upah. Kalau sudah kumat, lamanya bisa berbilang hari, bahkan berbilang minggu. Konon, Guru Jabut mengidap sakit jiwa kambuhan. Penyakit turun-temurun, kata orang-orang. Tak jarang, dalam sakitnya, Guru Jabut berceracau tak tentu hilir. Gubuknya yang compang-camping, 2 x 3 meter, berlantai tanah, berdinding tepas, beratap rumbia itu, bakal berantakan. Kendati demikian, kalau pun sedang dirundung gangguan jiwa, Guru Jabut tak pernah keluyuran, apalagi sampai mengacau di surau. Lantas, siapa yang mengurusnya? Ya, ia sendiri! Pula keluarganya sudah sejak lama hijrah ke kampung lain. Paling, Opung Omas, nenek Guru Jabut, yang sesekali datang menjenguknya. Ouh, jangan harap warga mau peduli terhadap upaya kesembuhannya.
Oya, sebentar, mengapa ia dipanggil Guru Jabut? Bukankah nama akikahnya Panangaran Bayo Angin? Dipanggil Guru, mungkin karena ia guru mengaji. Mmh, Jabut? Itu sabut kelapa! Lazimnya, tak akan ada orang kampung yang sudi digelari Jabut. Adapun jabut kerap dikaitkan dengan tahi ayam. Tiada benda yang paling dicari untuk menjumput unggun tahi ayam kecuali Jabut. Selain itu, kalau seseorang sudah diseru Jabut, tak lain untuk menyatakan bahwa seseorang itu tak berguna. Tapi Guru Jabut tak pernah mengeluh. Ia malah berkelakar, “Kalau tak ada Jabut, bah, alamat kampung kita banjir tahi ayam. Matilah kita!”
Mmh, Guru Jabut memang menyimpan sakit, tapi tidak hatinya. Ia tak pandai sakit hati. Padahal sering warga berginju gunjing: tak waras itu Guru Jabut! Tapi, anak-anak mereka belajar mengaji pada Guru Jabut juga. Bah! Ya, pada siapa lagi? Di kampung itu, banyak pemuda yang tamatan sekolah agama, tapi dengan berliuk alasan, enggan jadi guru mengaji.
Namun begitulah, warga punya gunjing, Guru Jabut punya senyum. Tetap dituntunnya anak-anak kampung belajar agama, meski para orang tua mereka menjewer telinga Guru Jabut dengan cibiran. Ah, tapi Guru Jabut tak paham kaji benci. Senantiasa riang hatinya memangku anak-anak. Padahal, tingkah anak-anak pun tak selalu diminyaki pekerti. Alah, macam tak tahu saja perilaku anak-anak.
Ha-ah. Biasanya, menjelang asar, anak-anak sudah kumpul di surau. Keriuhan pun pecah! Apalagi, cuma anak-anak yang memakmurkan surau di masa asar. Kebanyakan orang-orang dewasa masih sibuk di sawah, suntuk di ladang. Nah, pas masuk waktu, seusai Guru Jabut menyalakan pengeras suara, kontan sejumlah anak lelaki bakal berebut meledakkan suara di corong mikrofon. Barang tentu, kegaduhan sengketa suara menebar ke segenap penjuru kampung. Tak ayal, sasaran amarah Lobe Torop, pengurus surau, ya, Guru Jabut. Tapi, amarah Lobe Torop dibalas Guru Jabut dengan seringai kekeh.
O, tapi, pernah suatu kali, Guru Jabut diserapahi Lobe Torop tanpa ampun. Pasalnya, ada dua anak didiknya yang berebut mengumandangkan bahang asar. Sebab tak ada yang mau mengalah, Guru Jabut menyuruh keduanya bahang estafet. Seperdua lafaz bahang, tugas yang satu, separuh lagi ditunaikan yang satunya. Bayangkan, seperti apa wujud kumandang bahang oleh dua suara yang berlainan? Guru Jabut pun masuk buku hitam! Ia dilarang bergiat di surau, kalau tak salah, lebih dari sebulan.
Namun, Guru Jabut seolah tak dapat diceraikan dari surau, tak tahan lama-lama terberai dari anak-anak, sekalipun harus menahankan guit keusilan. Cobalah, pada sebuah peristiwa sembahyang asar, baru saja Guru Jabut menghela kedua tangan ke dada usai takbir pertama, di situ pula anak-anak meninggalkan saf. Jadilah Guru Jabut sembahyang seorang diri, jadi imam sekaligus makmum! Untung lidah Guru Jabut tak fasih mencecarkan kalimat murka. Tapi, ei, bukan ia tak punya hukuman. Seluruh anak lelaki terhukum dideretkan di saf pertama, diberi tugas jadi imam secara bersamaan. Gantian, Guru Jabut sebagai makmum. Selepas rampak suara takbir pertama, Guru Jabut menjiplak perilaku anak didiknya: pergi meninggalkan saf sambil dicekik-cekik kegeliannya sendiri. Tapi, meski demikian, anak-anak tak pernah memontennya: sakit jiwa!
Lain pula tingkah anak-anak sewaktu praktik sembahyang mayit. Anak-anak baru berkenan menunaikan sembahyang mayit kalau Guru Jabut bersedia jadi mayitnya. Nah, siapa pun yang dapat giliran imam, akan dengan sengaja memercik-mercikkan ludah saat mengeja bacaan. Tentulah wajah Guru Jabut ditempiasi ludah. Kalau sudah begitu, Guru Jabut bakal melindungi wajahnya dengan tangan sambil memelas, “Amangoi, janganlah ludahi aku! Meludah itu bukan bagian dari khusyuk!”
Namun, keusilan anak didiknya tak sampai di situ. Mendengar Guru Jabut memelas, mereka pun melonjak, pura-pura terperanjat, terus meledaklah pikuk-gelak yang tindih-menindih, “Hoi, mayitnya hidup. Ada mayit hidup. Tolong! Lari! Lari!”
Ups, demi mendamaikan kekacauan, Guru Jabut memilih menanggungkan hujan ludah dari sejumlah anak didiknya. Tapi, Guru Jabut tak pernah bersurut hati. Tabungan kasih sayangnya terhadap anak-anak selalu berlimpah. Pun anak-anak, sesungguhnya menaruh hormat pada Guru Jabut. Mereka tetap setia berimam pada Guru Jabut. Hal yang tak dilakukan sebagian besar warga dewasa di kampung itu.
Tengok saja saban magrib. Ya, para orang tua di kampung itu kan kerap telat berangkat ke surau. Maka Guru Jabut selalu pula berinisiatif berdiri di hulu saf, dan anak-anak yang jumlahnya tak lagi sebanyak asar jadi makmum yang pura-pura serius. Namun, sembahyang jemaah yang diimami Guru Jabut, tak bakal diikuti jemaah dewasa yang terlambat.
“Dari mana pula jalannya, he, orang gila jadi imam,” desis Haji Ringgas, seorang alim sepuh di kampung itu. Maka, di satu surau, berlangsunglah dua sembahyang berjemaah secara bersamaan. Separah itu? Rasa-rasanya, tak perlu lagi dikisahkan bagaimana sikap kekanak-kanakan yang terselempang di tubuh para orang dewasa di kampung itu.
.
RUMAH duka lengang. Tak terdengar sayup andung, ratap tangis. Mungkin karena mayit sudah diangkut ke bilik pemandian. Di halaman rumah bertanah miring, terdapat beberapa pentakziah berwajah enggan. Sekuat ingatan, Dorlan berupaya mengeja wajah setiap pelayat. Mana tahu, meski lupa nama, tapi hapal rupa. Sesekali Dorlan mendapati Uda Marapande hilir-mudik. Eh, siapa lelaki tua berlangkah limbung itu, bukankah ia Lobe Torop? Dorlan menyemai tanya sekaligus menuai jawab di hatinya sendiri.
Sambil memindah-mindah toleh, Dorlan melepas sapa, menyodorkan salam ke sesama hadirin belasungkawa. Namun, tatapan ganjil balasan yang diterima. Wajar, bujuk Dorlan pada hatinya. Tak ada lagi waktu baginya untuk mengisahkan bahwa belasan tahun lampau ia tinggal di kampung itu. Ia anak Baginda Hatoguan yang karena sering berpindah dinas, memilih menitipkan putranya pada sang adik, Marapande. Lalu, bersebab sudah mapan bermukim di Jakarta, Baginda Hatoguan menagih kembali anak lelakinya.
Ah, sudahlah, sembari menunggu mayit selesai dimandikan, Dorlan turut bercakap-cakap di bawah rerak tenda duka. Dari perbincangan yang tawar, Dorlan berhasil juga mengantungi satu-dua kabar. Ramlan, teman sebaya Dorlan sekaligus saingannya berebut bahang semasa kanak sudah jadi mualim di sebuah pesantren. Ia bahagia mendengarnya. Napasnya lapang. Tapi, dada Dorlan mendadak sempit ketika mengetahui Guru Jabut menghembuskan napas penghabisan di bawah cengkeraman pasung. Katanya, sejak tujuh tahun lalu Guru Jabut terpaksa dipasung karena dinilai mengganggu ketenteraman.
Dorlan bergegas naik ke rumah duka. Untung ia masih sempat menyaksikan Guru Jabut sebelum digelung kain kafan. Guru Jabut tampak lebih tua dari usianya. Tapi Dorlan tak menemukan garis-garis penderitaan di cekung wajahnya, meski tak pula wajah itu dinaungi senyum. Air mata Dorlan terbit.
Matahari makin naik menurutkan lengkung langit. Jenazah siap-siap diusung ke surau untuk disembahyangkan. Upacara pelepasan jenazah kelihatan sekenanya saja. Dorlan ikut menandu keranda saat jenazah Guru Jabut bergerak dari rumah duka. Pemberangkatan yang dingin, batin Dorlan! Pengiring jenazah pun tak lebih banyak dari pemikul keranda. Ke mana warga kampung? Tertambat di sawah atau terkurung di ladang? Atau sudah lebih dulu berkerumun di surau?
Tapi, kenyataannya, surau tak berkawan kala menyongsong jenazah Guru Jabut. Dorlan terbenam dalam cenung, sampai-sampai tak sadar kalau ia sudah khatam menunaikan sembahyang zuhur berjemaah. Dorlan baru angkat kesadaran tatkala bilal mayit berseru-seru: siapa sanak yang sudi jadi imam? Tapi jemaah cuma sudi bertikai pandang, mengundak-undak gerik bahu.
Di sela senyap, Dorlan meninggalkan saf, melangkah ke bibir keranda. Ia sempurnakan tekuk kepala. Sedang sebagian besar jemaah di belakangnya masih berdongak-dongak kepala; siapa gerangan pemuda yang jadi imam itu? Tapi, Dorlan terlanjur khusyuk untuk meladeni keheranan tersebut.
Sumpah, tak pernah Dorlan sekhusyuk ini. (*)
.
.
Griya Sakinah Medan, 2011
Hasan Al Banna lahir di Padangsidempuan, Sumatera Utara, 3 Desember 1978. Buku cerita pendeknya, Sampan Zulaiha (2011). Bekerja di Balai Bahasa Medan dan mengajar sastra di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan.
BUNYI nio-nio terdengar kuyup! Ketimpong gong kecil itu menyela haru rindu yang berlangsung di rumah Marapande. Bakda subuh tadi, Dorlan tiba di rumah Uda Marapande, adik kandung Ayahnya. Letih oleh perjalanan Jakarta-Medan dengan pesawat, dilanjutkan dengan bus ekonomi satu malam utuh, mendadak lenyap oleh peluk cium Uda Marapande dan istrinya, Bujing Ros. Lebih dari 15 tahun Dorlan tak mengunjungi rumah tempat ia menghabiskan masa kanak. Iyalah, Uda Marapande dan Bujing Ros tak sebugar dulu. Telikung garis usia memang tak mudah dikecoh.
Suara nio-nio makin menanjak ke telinga. Pemukulnya sudah pasti memikul seru-seruan bagi warga. Boleh jadi undangan untuk memufakatkan hal penting di sopo godang, balai adat. Namun, irama nio-nio yang tegas tapi berjeda lama, barang tentu akan menguarkan kabar dukacita. Dorlan, Uda Marapande dan Bujing Ros menyiagakan telinga.
“Telah berpulang ke rahmatullah Panangaran Bayo Angin, tutup usia kurang lebih empat puluh dua tahun. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah Opung Omas. Insya Allah, almarhum ke tanah hari ini juga, lepas sembahyang zuhur.”
Dengung nio-nio menikung ke kejauhan. Bujing Ros memanggil napas ke dada. Uda-nya bergegas menerobos kamar. Dorlan memicing-micing mata.
“Siapa itu Panangaran….”
“Tak ingat kau sama Guru Jabut?” Bujing Ros menyalip keheranan Dorlan.
“Gu…ru Jabut…,” Garis-garis dahi Dorlan melengkung, “Guru Jabut yang….”
“Iya, yang mengajari kau mengaji,” pangkas Bujing-nya.
“Mmh….”
“Alah, Guru Jabut. Pelupa kalilah kau ini.”
Dorlan tertegun, tapi bukan karena ia mati ingatan.
“Jadi, Pana…ngaran itu Guru Jabut?” Dorlan seperti mengais kepastian ke Bujing Ros. Istri Uda-nya itu berangguk-angguk.
“Mandilah kau dulu. Habis itu makan. Biarlah Uda-mu duluan turun ke rumah duka. Kalau kau mau takziah, nanti menyusul,” titah Bujing Ros. Dorlan setengah mengangguk, setengah menerawang. Sorot matanya dilemparkan ke bubungan rumah panggung yang tak berlangit-langit.
Mmh, Guru Jabut. Manalah bisa sosok itu dikelupas dari dinding masa kanak Dorlan….
.
GURU Jabut, lelaki bertampang letih, tapi berhati cerlang. Ia dibutuhkan, tapi juga diam-diam dipencilkan. Guru Jabut itu ringan tenaga, pesuruh yang pantang mengeluh. Jaga malam di ranum sawah-ladang warga ia lakukan. Menambal atap rumah yang bocor ia tunaikan. Upahnya? Kalau tak dengan beras sepungut-dua pungut, ya, boleh kasih seikat sayur, sebungkus rokok, atau apa saja. Tak berupah pun, Guru Jabut tak kapok.
Sudah itu, Guru Jabut paling rajin ke surau. Ia tekun pula jadi guru mengaji di beranda surau. Sebagian besar anak-anak kampung seumur anak SD, Guru Jabut pengajarnya. Ia fasih tajwid, mahir pula melagukan bacaan. Suara Guru Jabut, uih, merdu berkelok. Guru Jabut tak hanya mengajar baca Quran, tapi juga memandikan sekaligus sembahyang mayit. Lantas, anak laki-laki dibimbingnya mengumandangkan bahang alias azan, juga jadi imam. Bisa dikatakan, Guru Jabut tak ambil keuntungan besar, terlebih-lebih uang, dari jasa mengajar. Lalu? Ya, itu tadi. Pokoknya para orang tua jarang merogoh saku. Guru Jabut cuma disodori beras, rencah lauk, rokok, bahkan tak sama sekali.
Benarkah Guru Jabut melakukannya tanpa pamrih? Soal itu, tanya saja Tuhan. Tapi, kalau Guru Jabut lama tak muncul di surau, tiada lain karena penyakitnya yang kumat, bukan sebab mogok tak terima upah. Kalau sudah kumat, lamanya bisa berbilang hari, bahkan berbilang minggu. Konon, Guru Jabut mengidap sakit jiwa kambuhan. Penyakit turun-temurun, kata orang-orang. Tak jarang, dalam sakitnya, Guru Jabut berceracau tak tentu hilir. Gubuknya yang compang-camping, 2 x 3 meter, berlantai tanah, berdinding tepas, beratap rumbia itu, bakal berantakan. Kendati demikian, kalau pun sedang dirundung gangguan jiwa, Guru Jabut tak pernah keluyuran, apalagi sampai mengacau di surau. Lantas, siapa yang mengurusnya? Ya, ia sendiri! Pula keluarganya sudah sejak lama hijrah ke kampung lain. Paling, Opung Omas, nenek Guru Jabut, yang sesekali datang menjenguknya. Ouh, jangan harap warga mau peduli terhadap upaya kesembuhannya.
Oya, sebentar, mengapa ia dipanggil Guru Jabut? Bukankah nama akikahnya Panangaran Bayo Angin? Dipanggil Guru, mungkin karena ia guru mengaji. Mmh, Jabut? Itu sabut kelapa! Lazimnya, tak akan ada orang kampung yang sudi digelari Jabut. Adapun jabut kerap dikaitkan dengan tahi ayam. Tiada benda yang paling dicari untuk menjumput unggun tahi ayam kecuali Jabut. Selain itu, kalau seseorang sudah diseru Jabut, tak lain untuk menyatakan bahwa seseorang itu tak berguna. Tapi Guru Jabut tak pernah mengeluh. Ia malah berkelakar, “Kalau tak ada Jabut, bah, alamat kampung kita banjir tahi ayam. Matilah kita!”
Mmh, Guru Jabut memang menyimpan sakit, tapi tidak hatinya. Ia tak pandai sakit hati. Padahal sering warga berginju gunjing: tak waras itu Guru Jabut! Tapi, anak-anak mereka belajar mengaji pada Guru Jabut juga. Bah! Ya, pada siapa lagi? Di kampung itu, banyak pemuda yang tamatan sekolah agama, tapi dengan berliuk alasan, enggan jadi guru mengaji.
Namun begitulah, warga punya gunjing, Guru Jabut punya senyum. Tetap dituntunnya anak-anak kampung belajar agama, meski para orang tua mereka menjewer telinga Guru Jabut dengan cibiran. Ah, tapi Guru Jabut tak paham kaji benci. Senantiasa riang hatinya memangku anak-anak. Padahal, tingkah anak-anak pun tak selalu diminyaki pekerti. Alah, macam tak tahu saja perilaku anak-anak.
Ha-ah. Biasanya, menjelang asar, anak-anak sudah kumpul di surau. Keriuhan pun pecah! Apalagi, cuma anak-anak yang memakmurkan surau di masa asar. Kebanyakan orang-orang dewasa masih sibuk di sawah, suntuk di ladang. Nah, pas masuk waktu, seusai Guru Jabut menyalakan pengeras suara, kontan sejumlah anak lelaki bakal berebut meledakkan suara di corong mikrofon. Barang tentu, kegaduhan sengketa suara menebar ke segenap penjuru kampung. Tak ayal, sasaran amarah Lobe Torop, pengurus surau, ya, Guru Jabut. Tapi, amarah Lobe Torop dibalas Guru Jabut dengan seringai kekeh.
O, tapi, pernah suatu kali, Guru Jabut diserapahi Lobe Torop tanpa ampun. Pasalnya, ada dua anak didiknya yang berebut mengumandangkan bahang asar. Sebab tak ada yang mau mengalah, Guru Jabut menyuruh keduanya bahang estafet. Seperdua lafaz bahang, tugas yang satu, separuh lagi ditunaikan yang satunya. Bayangkan, seperti apa wujud kumandang bahang oleh dua suara yang berlainan? Guru Jabut pun masuk buku hitam! Ia dilarang bergiat di surau, kalau tak salah, lebih dari sebulan.
Namun, Guru Jabut seolah tak dapat diceraikan dari surau, tak tahan lama-lama terberai dari anak-anak, sekalipun harus menahankan guit keusilan. Cobalah, pada sebuah peristiwa sembahyang asar, baru saja Guru Jabut menghela kedua tangan ke dada usai takbir pertama, di situ pula anak-anak meninggalkan saf. Jadilah Guru Jabut sembahyang seorang diri, jadi imam sekaligus makmum! Untung lidah Guru Jabut tak fasih mencecarkan kalimat murka. Tapi, ei, bukan ia tak punya hukuman. Seluruh anak lelaki terhukum dideretkan di saf pertama, diberi tugas jadi imam secara bersamaan. Gantian, Guru Jabut sebagai makmum. Selepas rampak suara takbir pertama, Guru Jabut menjiplak perilaku anak didiknya: pergi meninggalkan saf sambil dicekik-cekik kegeliannya sendiri. Tapi, meski demikian, anak-anak tak pernah memontennya: sakit jiwa!
Lain pula tingkah anak-anak sewaktu praktik sembahyang mayit. Anak-anak baru berkenan menunaikan sembahyang mayit kalau Guru Jabut bersedia jadi mayitnya. Nah, siapa pun yang dapat giliran imam, akan dengan sengaja memercik-mercikkan ludah saat mengeja bacaan. Tentulah wajah Guru Jabut ditempiasi ludah. Kalau sudah begitu, Guru Jabut bakal melindungi wajahnya dengan tangan sambil memelas, “Amangoi, janganlah ludahi aku! Meludah itu bukan bagian dari khusyuk!”
Namun, keusilan anak didiknya tak sampai di situ. Mendengar Guru Jabut memelas, mereka pun melonjak, pura-pura terperanjat, terus meledaklah pikuk-gelak yang tindih-menindih, “Hoi, mayitnya hidup. Ada mayit hidup. Tolong! Lari! Lari!”
Ups, demi mendamaikan kekacauan, Guru Jabut memilih menanggungkan hujan ludah dari sejumlah anak didiknya. Tapi, Guru Jabut tak pernah bersurut hati. Tabungan kasih sayangnya terhadap anak-anak selalu berlimpah. Pun anak-anak, sesungguhnya menaruh hormat pada Guru Jabut. Mereka tetap setia berimam pada Guru Jabut. Hal yang tak dilakukan sebagian besar warga dewasa di kampung itu.
Tengok saja saban magrib. Ya, para orang tua di kampung itu kan kerap telat berangkat ke surau. Maka Guru Jabut selalu pula berinisiatif berdiri di hulu saf, dan anak-anak yang jumlahnya tak lagi sebanyak asar jadi makmum yang pura-pura serius. Namun, sembahyang jemaah yang diimami Guru Jabut, tak bakal diikuti jemaah dewasa yang terlambat.
“Dari mana pula jalannya, he, orang gila jadi imam,” desis Haji Ringgas, seorang alim sepuh di kampung itu. Maka, di satu surau, berlangsunglah dua sembahyang berjemaah secara bersamaan. Separah itu? Rasa-rasanya, tak perlu lagi dikisahkan bagaimana sikap kekanak-kanakan yang terselempang di tubuh para orang dewasa di kampung itu.
.
RUMAH duka lengang. Tak terdengar sayup andung, ratap tangis. Mungkin karena mayit sudah diangkut ke bilik pemandian. Di halaman rumah bertanah miring, terdapat beberapa pentakziah berwajah enggan. Sekuat ingatan, Dorlan berupaya mengeja wajah setiap pelayat. Mana tahu, meski lupa nama, tapi hapal rupa. Sesekali Dorlan mendapati Uda Marapande hilir-mudik. Eh, siapa lelaki tua berlangkah limbung itu, bukankah ia Lobe Torop? Dorlan menyemai tanya sekaligus menuai jawab di hatinya sendiri.
Sambil memindah-mindah toleh, Dorlan melepas sapa, menyodorkan salam ke sesama hadirin belasungkawa. Namun, tatapan ganjil balasan yang diterima. Wajar, bujuk Dorlan pada hatinya. Tak ada lagi waktu baginya untuk mengisahkan bahwa belasan tahun lampau ia tinggal di kampung itu. Ia anak Baginda Hatoguan yang karena sering berpindah dinas, memilih menitipkan putranya pada sang adik, Marapande. Lalu, bersebab sudah mapan bermukim di Jakarta, Baginda Hatoguan menagih kembali anak lelakinya.
Ah, sudahlah, sembari menunggu mayit selesai dimandikan, Dorlan turut bercakap-cakap di bawah rerak tenda duka. Dari perbincangan yang tawar, Dorlan berhasil juga mengantungi satu-dua kabar. Ramlan, teman sebaya Dorlan sekaligus saingannya berebut bahang semasa kanak sudah jadi mualim di sebuah pesantren. Ia bahagia mendengarnya. Napasnya lapang. Tapi, dada Dorlan mendadak sempit ketika mengetahui Guru Jabut menghembuskan napas penghabisan di bawah cengkeraman pasung. Katanya, sejak tujuh tahun lalu Guru Jabut terpaksa dipasung karena dinilai mengganggu ketenteraman.
Dorlan bergegas naik ke rumah duka. Untung ia masih sempat menyaksikan Guru Jabut sebelum digelung kain kafan. Guru Jabut tampak lebih tua dari usianya. Tapi Dorlan tak menemukan garis-garis penderitaan di cekung wajahnya, meski tak pula wajah itu dinaungi senyum. Air mata Dorlan terbit.
Matahari makin naik menurutkan lengkung langit. Jenazah siap-siap diusung ke surau untuk disembahyangkan. Upacara pelepasan jenazah kelihatan sekenanya saja. Dorlan ikut menandu keranda saat jenazah Guru Jabut bergerak dari rumah duka. Pemberangkatan yang dingin, batin Dorlan! Pengiring jenazah pun tak lebih banyak dari pemikul keranda. Ke mana warga kampung? Tertambat di sawah atau terkurung di ladang? Atau sudah lebih dulu berkerumun di surau?
Tapi, kenyataannya, surau tak berkawan kala menyongsong jenazah Guru Jabut. Dorlan terbenam dalam cenung, sampai-sampai tak sadar kalau ia sudah khatam menunaikan sembahyang zuhur berjemaah. Dorlan baru angkat kesadaran tatkala bilal mayit berseru-seru: siapa sanak yang sudi jadi imam? Tapi jemaah cuma sudi bertikai pandang, mengundak-undak gerik bahu.
Di sela senyap, Dorlan meninggalkan saf, melangkah ke bibir keranda. Ia sempurnakan tekuk kepala. Sedang sebagian besar jemaah di belakangnya masih berdongak-dongak kepala; siapa gerangan pemuda yang jadi imam itu? Tapi, Dorlan terlanjur khusyuk untuk meladeni keheranan tersebut.
Sumpah, tak pernah Dorlan sekhusyuk ini. (*)
.
.
Griya Sakinah Medan, 2011
Hasan Al Banna lahir di Padangsidempuan, Sumatera Utara, 3 Desember 1978. Buku cerita pendeknya, Sampan Zulaiha (2011). Bekerja di Balai Bahasa Medan dan mengajar sastra di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan.
Jejak
Di bawah pohon mahoni kampus serambi,
di alun-alun terbuka sebuah ranah,
kala rindu menepi membangun dermaga,
pada jiwa yang tumbuh dari bumi,
dalam senyum merekah yang bisa dipetik dari ladang,
pada aroma satu jiwa yang telah hilang,
kuakui aku rindu padamu…
Teringat kisah bersama kalian, dulu membuihkan mulut mengeja tuk berlatih. Di bawah pohon rindang Unimed, ngumpul uang lima ribu lima ribu untuk membeli kemek-kemek. Dari sudut jalan terlihat tergesa-gesa Sri dkk. yang sudah terlambat, tetapi tetap ditunggu, karena kalau mereka tak datang, tak khusuk rasanya. Dan Sri pun berucap, “Maap ya baru siap kuliah juga.”
Per dua minggu, menggelar karpet di belakang UMSU, di bawah pohon belimbing, meneduhkan rindu pada pena. Sesekali menjajah sekretariat BEM FKIP UMSU menemu tawa. Di situ pula, aku sering terlambat, “Sori,aku terlambat lagi woi…,” selepas itu kusambung lagi, “hehheheheheeee.”
Sayum Sabah menjadi saksi menulis di tengah sungai pada atas batu, menulis puisi bersambung ketika basah oleh air hulu. Malam itu kita menimba cerita dengan beliau. Siapa yang tak menemu baru ketika membaca puisi di bawah pohon coklat. Eh, kala petang bermain diiringi musik. Dan pulang diguyur hujan. Oi, jadi terlambat nyampe di rumah. Dalam hati, “Mudah-mudahan aja adek-adek ni gak pada dimarahni setelah nyamper rumah.”
Berjalan masa pada alam, rindu beralih pada sudut taman budaya. Dari situ disulam jejak-jejak penemu tulis. Sempat aku berkilah, “Kita harus mengembangkan ‘sayap’, pelatihan di kampus masing-masing. Kita buat aja Kompak Unimed, Kompak UMSU, Kompak Nomensen,” Namun dengan teguh dijawab oleh Sri, “Tidak! Kita harus tetap satu! Kita pelatihan di sekretariat. Ya, di Taman Budaya ini.”
Rudi Saragih
Di bawah pohon mahoni kampus serambi,
di alun-alun terbuka sebuah ranah,
kala rindu menepi membangun dermaga,
pada jiwa yang tumbuh dari bumi,
dalam senyum merekah yang bisa dipetik dari ladang,
pada aroma satu jiwa yang telah hilang,
kuakui aku rindu padamu…
Teringat kisah bersama kalian, dulu membuihkan mulut mengeja tuk berlatih. Di bawah pohon rindang Unimed, ngumpul uang lima ribu lima ribu untuk membeli kemek-kemek. Dari sudut jalan terlihat tergesa-gesa Sri dkk. yang sudah terlambat, tetapi tetap ditunggu, karena kalau mereka tak datang, tak khusuk rasanya. Dan Sri pun berucap, “Maap ya baru siap kuliah juga.”
Per dua minggu, menggelar karpet di belakang UMSU, di bawah pohon belimbing, meneduhkan rindu pada pena. Sesekali menjajah sekretariat BEM FKIP UMSU menemu tawa. Di situ pula, aku sering terlambat, “Sori,aku terlambat lagi woi…,” selepas itu kusambung lagi, “hehheheheheeee.”
Sayum Sabah menjadi saksi menulis di tengah sungai pada atas batu, menulis puisi bersambung ketika basah oleh air hulu. Malam itu kita menimba cerita dengan beliau. Siapa yang tak menemu baru ketika membaca puisi di bawah pohon coklat. Eh, kala petang bermain diiringi musik. Dan pulang diguyur hujan. Oi, jadi terlambat nyampe di rumah. Dalam hati, “Mudah-mudahan aja adek-adek ni gak pada dimarahni setelah nyamper rumah.”
Berjalan masa pada alam, rindu beralih pada sudut taman budaya. Dari situ disulam jejak-jejak penemu tulis. Sempat aku berkilah, “Kita harus mengembangkan ‘sayap’, pelatihan di kampus masing-masing. Kita buat aja Kompak Unimed, Kompak UMSU, Kompak Nomensen,” Namun dengan teguh dijawab oleh Sri, “Tidak! Kita harus tetap satu! Kita pelatihan di sekretariat. Ya, di Taman Budaya ini.”
Rudi Saragih
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Taubat Oleh Sadam* Hidup bagaikan durjana Tercebur ke dalam nista Membuatku jadi gila Hidupku berlumur dosa Merasa paling sempurna Terhentak...
-
Hasil Seleksi Anggota Baru Tahap I Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) Nama Peserta Prestasi 1. Febri Mira Rizki A+ (Istimewa) 2. Afni Ai...
