Senin, 09 Desember 2019

Siswa yang tobat

Karya :Kevin powel malau Hari ini adalah hari yang sangat cerah dimana hari yang penuh dengan semangat untuk memulai pelajaran,di pagi hari yang sangat cerah ini semua siswa tidak sabar lagi untuk mulai belajar. Dan setelah kami menunggu beberapa saat pak guru pun datang Pak guru:”selamat pagi anak anak” Siswa: “selamat pagi pak” Pak guru: apa kalian sudah berdoa? Siswa:sudah pak Pak guru: kalau begitu mari kita mulai pelajaran nya, Pelajaran puun berlangsung selama pelajaran pak guru ter focus pada seorang siswa yang bernama emang yang dari tadi seperti orang ketakutan. Pak guru:kamu kenapa emang”? Tanya pak guru sahut seorang siswa :mungkin kebelet pak” dan teman temen yang lain menertawakan nya “hahahah” emang:begini pak tadi pagi buku bahasa Indonesia saya hilang…. Pak guru: kok bisa?tanya pak guru Mungkin dia lupa kali pak meletakkan buku nya dimana ‘’sahut seorang siswa” Pak guru: apa betul yang dikatakan teman teman mu emang?tanya pak guru Emang: tidak pak,tadi pagi masih ada kok…? Pak guru: lalu bagai mana bisa hilang kalau tadi pagi buku kamu masih ada di sini?tanya pak guru Emang:kalo saya tahu pasti udah ketemu lah pak, ‘’sentak emang” “hahahahah”kata sebagian siswa Setelah lama mencari cari akhir nya salah satu teman bernama joy menemukan buku milik emang di dalam laci meja nya sendiri Pak guru pun kaget! Pak guru: lohk kok bisa ada di dalam laci meja kamu? Emang:iya ya pak, saya juga bigung… Joy: mungkin ada yang jahil kali pak… Pak guru:sudah lah gak usah di perpanjang lagi yang penting bukunya kan sudah ketemu.. Setelah bel pulang berbunyi pak guru memberikan tugas Kepada siswa untuk membuat sebuah cerpen dengan karangan masing masing Esok harinya pun tiba Seluru siswa kelas A sudah berada di ruangan dan pak guru pun masuk Pak guru: ‘’selamat pagi anak anak’’ Siswa :selamat pagi pak Pak ada tugas’ sahut seorang siswa Pak guru: oh iya ‘ apakah tugas kalian siap semuanya !tanya pak guru Siap pak sahut siswa Akan tetapi pak guru tidak percaya dan memeriksa satu per satu pekerjaan rumah siswa dan ada dua siswa kedapatan ternyata tidak sama sekali mengerjakan tugas,kebetulan siswa yang tidak mengerjakan tugas yang di berikan bapak guru salah satu nya si emang Pak guru:lohk kok kamu tidak mengerjakan nya ?tanya pak guru Emang: tadi malam listrik di rumah saya putus pak… Putus apa jangan jangan kamu baru di putusin pacar kamu yah ‘hahahah’ ejek teman temanya pak guru pun geram dan memberikan hukuman kepada emang setelah hukuman selesai emang pun merasa malu dan tumbuh lah keinginan nya untuk belajar. Setelah ber minggu minggu pelajaran pun berjalan seperti biasanya Dan pak guru mulai menyukai emang karena emang sudah mulai rajin mengerakan tugas tugas dengan baik dan bahkan menjawab hampir sluruh pertanyaan pak guru. Pak guru: emang! Emang : ya pak Pak guru:akhir akhir ini nilai mu meningkat ,”puji pak gru” Emang: iya nih pak saya malu terus kena hukum. Bagus bagus sahut pak guru Setelah enam bulan lamanya akhir nya semester satu pun selesai dan seluruh siswa kaget karena emang mendapat nilai terbaik dan mendapat kan hadiah dari orang tua nya Akhir nya emang pun belajar dan terus belajar Hingga sukses dan ber keluarga TAMAT..

" MALAS SEKOLAH"

KARYA Anggi Hari minggu merupakan hari libur yang membuat sebahagian orang malas dalam beraktifitas ada yang berpergian atau liburan, ada juga yang memilih di rumah untuk melepas lelah atau beristirahat karena hari - hari sebelumnya dipenuhi dengan beraktifitas begitu pula dengan anggi dia memilih unttuk bersantai - santai saja di rumah akibat dari terlalu santai nya setelah hari minggu anggi masih belum siap dalam menghadapi aktifitas sekolah yang menurut nya sangat sangat membosankan " anggi kamu tidak sekolah? ini sudah siang loh nanti kamu terlambat tanya ibunya" "anggi masih capek bu boleh satu hari boleh kan bu? lagian ga ada PR dan ulangan harian kok bu" ya kamu jangan begitu gi sekolah itu bayar loh gi menuntut ilmu itu sangat penting dan jangan kamu sepelekan anggi" jawab ibunya menyenggah "sudahlah bu anggi masih ngantuk mau lanjut tidur lagi " melihat gelagat anaknya, ibunya menjadi kesal,dan geram ibunya mengajak anggibkr suatu tempat.Yaitu panti asuhan dimana di sana di penuhi anak anak dengan latar belakang yang berbeda "nah sekarang kamu lihat mereka sudah tidak punya orang tua yang membiayai sekolahnya padahal mereka banyak yang menginginkan untuk sekolah. Ibunya memberitahukan kepada anggi. setelah dari panti asuhan ibunya mengajak anggi ke suatu tempat disana banyak anak anak yang mengemis dan mengamen mencari uang. "Untuk makan saja mereka bersusah payah apalgi untuk biaya sekolah" ibunya kembali menjelaskan kepada anggi. Pada akhirnya anggi sadar dan ia mau sekolah meskipun dia terlambat ibunya mengantarkan ke sekolahnya. didalam perjalanan kesekolah dia melihat anak sekolah berjalan pincang "alangkah beruntung nya aku,masih memiliki fisik yang sempurna tetapi bermalas malasan unttuk sekolah sedangkan mereka yang cacat saja semangat buat sekolah" ucapnya dalam hati

"USAHA DEMI SEKOLAH"

oleh: ROHICA Simangunsong
Saat ini usiaku genap 15 tahun dan kini aq menginjak bangku kls 10 sekolah menengah atas dan aq sekolah disebuah sekolah yg bukan termasuk sekolah terfavorit sebenarnya aq tidak menginginkan aq bersekolah ditempat ini namun, karena letak zonasi dan keadaan ekonomi maka dengan terpaksa aq harus sekolah ditempat ini. Dan karena letak hal itu aq terpaksa ngekos ditempat aq sekarang sekolah ini. Aq kos ditempat bibi q, disana aq sangat merasa tidak nyaman karena bibi q seperti tidak senang aq tinggal ditempatnya. Pertama aq bersekolah aq sangat murung dan pendiam karena tak ada seorang pun yang q kenal ditempat ini. Kebetulan aq termasuk orang yang tertutup saat itu, aq sangat tak suka bergaul bahkan aq tak suka tempat yang ramai. Pada hari kedua aq berkenalan dengan seorang yg bernama Vita saat itu aq sangat senang karena aq mempunyai teman baru. Hari ketiga bersekolah aq berangkat dari kos tempat aq tinggal kesekolah dan sesampainya disekolah Vita menyapaku "Pagi Cha,"ujarnya. Aq hanya tersenyum dan mengangkat kedua alisku tanpa membalas ucapan Vita, mungkin Vita berfikir bahwa aq tidak mendengar ucapannya dan ia mengulangi kata" nya lagi. Karena perasaan ku tak enak aq pun menyahut nya "Pagi juga,"ucapku seraya tersenyum manis. Sekarang tibalah saatnya pembagian jurusan dan aq pun memilih jurusan IPA karena mulai SMP aq sangat menyukai pelajaran ini. Setelah pembagian jurusan selesai maka aq masuk dikelas X Mia 1 saat itu, hatiku sangat sedih karena Vita memilih jurusan yang berbeda dariku. Hatiku sangat sedih karena, harus berpisah dengannya Kemudian aq punya seorang sebangku yg bernama Putri, orangnya sangat banyak bicara dan gecor kadang aq sangat tak nyaman dengannya, tak jarang juga ia jadi bahan olokan karena suara bisingnya yg mengganggu kenyamanan orang lain namun, aq jadi teman baik dengannya, beberapa Minggu berlalu wali kelas kami berkata bahwa kami harus berganti teman sebangku, hatiku bertanya" "Haruskah," pikirku. Sambil bersungut-sungut semua siswa menaatinya, dan sekarang aq bersebangku dengan Joy. Aq tak suka dengannya karena dia merupakan pribadi yang kasar. Sebulan bersekolah aq merasa ada yang berbeda denganku, yang dimana dulunya aq adalah pribadi yg pendiam kini aq menjadi sama seperti putri aq mulai malas belajar suka bercerita sehingga dalam hal akademik aq sangat kurang sehingga pada saat akhir semester nilai q sangat ambruk tapi aq bersyukur karena saat itu aq tidak tinggal kelas Saat libur semester sebagai anak petani aq harus membantu ibuku bekerja di kebun kebetulan ayahku telah meninggal Dan tak jarang juga aq membantu tetangga q dikebun mereka dengan prinsip "Lumayan bantu ibu beli buku tulis," setelah libur sekolah seperti biasa aq kembali kekos namun belum berapa lama sekolah aq sangat tak tahan lagi tinggal dirumah bibi, aq memutuskan harus pindah dari sana, karena memang dari dulu sikapku selalu konsisten aq membulatkan tekad ku untuk pindah namun, aq bingung bercampur takut untuk mengatakan hal ini pada bibi sehingga aq memutuskan untuk menulis sepucuk surat dan sebelum berangkat ke sekolah aq menitipkannya dan mengatakan pada bibi untuk membacanya Setelah pulang sekolah dengan gugup aq bertanya pada bibi keputusan nya agar membolehkan ku untuk pindah namun, saat itu bibi marah padaku dan berkata "Dasar tidak tw diri," ujarnya. Aq terdiam dan menangis karena ucapan bibi setelah itu kembali bibi marah padaku seraya berkata "apa kah tujuanmu kw menulis surat seperti ini , apakah kw pikir aq ini seorang anak yg dapat kw buat begitu," ujarnya. Aq menangis dan berkata pada bibi "Bi .................... Aq tw aq salah namun saat ini aq benar" ingin pindah," ucapku Bibi melotot padaku ,aq sangat ketakutan dia diam dan masuk kekamar, setelah itu aq kembali ke kampung dan menceritakan semuanya pada ibuku Ibu memang maklum namun, ia tak tw harus bagaimana membicarakan hal ini dengan bibi karena ia segan pada bibi, dan karena aq sudah mendesak akhirnya ibu pun berbicara pada bibi akhirnya aq bisa keluar dari rumah bibi ku hatiku sangat lega. Setelah aq keluar dari rumah bibi aq tinggal ditempat kosan milik seorang guru, beliau sangat baik dan pengertian ia juga sama seperti ibuku suaminya telah meninggal kira" lima tahun yg lalu, ia memiliki seorang anak, namun kelakuan anaknya sangat tak baik mungkin karena ia terlalu sering dimanjakan dan aq memanggil ibu itu dengan panggilan bibi juga jika dirumah. Selama kos disana biasanya selama pulang sekolah aq akan bekerja dirumah tetangga yaitu, menyetrika dan terkadang menyuci pakaian milik tetangga, dan terkadang aq membantu bibi untuk berjualan aneka gorengan dipasar, sebenarnya aq tak suka dengan pekerjaan ini tapi apa boleh buat demi membantu org tuaku terpaksalah aq melakukannya. Selama bekerja aq selalu menyisihkan uang buat q tabung untuk membantu ibu menyicil uang sekolah dan uang kos q. Pengaruh aq malas belajar kmrin aq menyesal karena nilai ku anjlok setelah itu aq memutuskan untuk berubah dan kembali kependirianku semula yaitu menjadi pribadi yg pendiam dan aq mulai lebih giat lagi belajar dan hasilnya nilai ku pun meningkat dan membaik. Suatu hari aq pulang ke kampung untuk meminta uang sekolah pada ibu, sesampainya di rumah aq sangat sedih karena ibuku sedang sakit, ia nampak lemas dan pucat mungkin karena ia terlalu kecapean bekerja dikebun, melihat keadaan ibuku saat itu aq mengurungkan niatku untuk memintanya dan aq beranjak ke dapur hendak memasak untuk makan malam dan aq tersentak saat aq meraih kaleng beras ddidapur saat melihat isi kaleng itu adalah raskin dan seperti yg diketahui bukankah raskin itu tidak bervitamin, aq menangis dan merenung sambil menyuci beras untuk menanak nya sesudah memasak nasi aq kembali menggoreng ikan asin yg tergantung didapur selesai memasak aq menggelar tikar usang milik kami dan membimbing ibu dan adikku untuk makan malam. Selesai makan malam kami pun tidur, sebelum tidur tak lupa Aq memberi ibu minum obat Setelah minum obat ibu bertanya padaku "Berapa banyak uang yang kamu butuhkan nk," kata ibu. "Bu, tak perlu banyak, cukup berapa yang ibu punya sekarang ! Ujarku. Kemudian ibu berkata "Katakanlah, berapa yang kw perlukan bukankah uang sekolahmu juga harus dibayar," kata ibu. "Hhhhhhhhhhhhhhh................. Nggak kok, jika memang ibu blom punya uang gpp kok jika ditunda ucapku," sambil tertawa kecil walaupun sebenarnya saat itu hatiku sangat sedih. "Ya udah ibu tidur dulu agar kesehatan ibu kembali pulih," kataku. Kemudian aq bertelungkup dalam selimut sambil menangis melihat betapa sulitnya perekonomian keluarga ku saat ini Rasanya aq ingin berhenti sekolah tapi ibu selalu berkata Nak kamu jangan berhenti ya ntar kita kelihatan sekali org susah kamu harus bisa lebih dari ibu dan agar hidup kamu lebih baik kedepannya kata ibu Hal itu lah yang membuatku terus semangat untuk bersekolah Saat pagi tiba aq langsung bergegas ke dapur menyiapkan sarapan selepas itu kami pun sarapan selesai sarapan aq menyuci piring dan pakaian motor yg menumpuk di dapur setelah semuanya selesai aq berkemas dan bersiap kembali ke kos. Tinnnnnnn.................... .tinnnnnn....................... Tinnnnnnnnnnn, nah itu bunyi klakson angkot yg akan q naikin ,sebelum aq berangkat aq berpamitan pada ibu, aq tidak tega meninggalkan ibuku yg dalam keadaan sakit itu. Sesampainya di kos aq rebahan ditempat tidur dan menangis meratapi keadaan keluarga ku saat ini , Senin pun tiba" aq kembali sekolah dan belajar seperti biasanya, setelah pulang sekolah seperti biasa aq kembali bekerja di rumah tetangga dan aq kumpulkan semuanya hasil kerja keras ku mulai dari menyetrika, menyuci, berjualan dan aq membongkar celengan ayamku yg telah lama q simpan itu. Hasilnya sih cukup banyak bahkan lebih untuk membayar uang sekolah ku yg sudah menumpuk itu Akhhhhhh........ Aq lega sekali karena akhirnya sppku lunas, sebelumnya aq ingin merahasiakan hal ini pada ibu , namun tanpa q duga pada waktu seminggu sebelum ujian ibu datang kesekolah dan menghadap kepada guru bendahara pemegang uang sekolah kami dan akhirnya ibu pun tw bahwa uang sekolah q telah lunas ibu bertanya" darimana aq dapat uang itu setelah semuanya q jelaskan ibu terharu dan memelukku Saat itu aq sangat bahagia saking bahagianya aku sampai menangis karena sudah lama ibu tidak memelukku sambil berkata " Aq bangga padamu anakku,"ucapnya, sungguh hatiku sangat bahagia mendengar ibu berkata itu padaku, hari ini memang hari bahagia dalam hidupku. love you mom' s kw adalah penguatku hingga aq kuat dengan apapun. Sekian dan terimakasih !!!😊😊😊

Sabtu, 24 September 2011

Guru Jabut

Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 21 Agustus 2011)

BUNYI nio-nio terdengar kuyup! Ketimpong gong kecil itu menyela haru rindu yang berlangsung di rumah Marapande. Bakda subuh tadi, Dorlan tiba di rumah Uda Marapande, adik kandung Ayahnya. Letih oleh perjalanan Jakarta-Medan dengan pesawat, dilanjutkan dengan bus ekonomi satu malam utuh, mendadak lenyap oleh peluk cium Uda Marapande dan istrinya, Bujing Ros. Lebih dari 15 tahun Dorlan tak mengunjungi rumah tempat ia menghabiskan masa kanak. Iyalah, Uda Marapande dan Bujing Ros tak sebugar dulu. Telikung garis usia memang tak mudah dikecoh.

Suara nio-nio makin menanjak ke telinga. Pemukulnya sudah pasti memikul seru-seruan bagi warga. Boleh jadi undangan untuk memufakatkan hal penting di sopo godang, balai adat. Namun, irama nio-nio yang tegas tapi berjeda lama, barang tentu akan menguarkan kabar dukacita. Dorlan, Uda Marapande dan Bujing Ros menyiagakan telinga.

“Telah berpulang ke rahmatullah Panangaran Bayo Angin, tutup usia kurang lebih empat puluh dua tahun. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah Opung Omas. Insya Allah, almarhum ke tanah hari ini juga, lepas sembahyang zuhur.”

Dengung nio-nio menikung ke kejauhan. Bujing Ros memanggil napas ke dada. Uda-nya bergegas menerobos kamar. Dorlan memicing-micing mata.

“Siapa itu Panangaran….”

“Tak ingat kau sama Guru Jabut?” Bujing Ros menyalip keheranan Dorlan.

“Gu…ru Jabut…,” Garis-garis dahi Dorlan melengkung, “Guru Jabut yang….”

“Iya, yang mengajari kau mengaji,” pangkas Bujing-nya.

“Mmh….”

“Alah, Guru Jabut. Pelupa kalilah kau ini.”

Dorlan tertegun, tapi bukan karena ia mati ingatan.

“Jadi, Pana…ngaran itu Guru Jabut?” Dorlan seperti mengais kepastian ke Bujing Ros. Istri Uda-nya itu berangguk-angguk.

“Mandilah kau dulu. Habis itu makan. Biarlah Uda-mu duluan turun ke rumah duka. Kalau kau mau takziah, nanti menyusul,” titah Bujing Ros. Dorlan setengah mengangguk, setengah menerawang. Sorot matanya dilemparkan ke bubungan rumah panggung yang tak berlangit-langit.

Mmh, Guru Jabut. Manalah bisa sosok itu dikelupas dari dinding masa kanak Dorlan….

.

GURU Jabut, lelaki bertampang letih, tapi berhati cerlang. Ia dibutuhkan, tapi juga diam-diam dipencilkan. Guru Jabut itu ringan tenaga, pesuruh yang pantang mengeluh. Jaga malam di ranum sawah-ladang warga ia lakukan. Menambal atap rumah yang bocor ia tunaikan. Upahnya? Kalau tak dengan beras sepungut-dua pungut, ya, boleh kasih seikat sayur, sebungkus rokok, atau apa saja. Tak berupah pun, Guru Jabut tak kapok.

Sudah itu, Guru Jabut paling rajin ke surau. Ia tekun pula jadi guru mengaji di beranda surau. Sebagian besar anak-anak kampung seumur anak SD, Guru Jabut pengajarnya. Ia fasih tajwid, mahir pula melagukan bacaan. Suara Guru Jabut, uih, merdu berkelok. Guru Jabut tak hanya mengajar baca Quran, tapi juga memandikan sekaligus sembahyang mayit. Lantas, anak laki-laki dibimbingnya mengumandangkan bahang alias azan, juga jadi imam. Bisa dikatakan, Guru Jabut tak ambil keuntungan besar, terlebih-lebih uang, dari jasa mengajar. Lalu? Ya, itu tadi. Pokoknya para orang tua jarang merogoh saku. Guru Jabut cuma disodori beras, rencah lauk, rokok, bahkan tak sama sekali.

Benarkah Guru Jabut melakukannya tanpa pamrih? Soal itu, tanya saja Tuhan. Tapi, kalau Guru Jabut lama tak muncul di surau, tiada lain karena penyakitnya yang kumat, bukan sebab mogok tak terima upah. Kalau sudah kumat, lamanya bisa berbilang hari, bahkan berbilang minggu. Konon, Guru Jabut mengidap sakit jiwa kambuhan. Penyakit turun-temurun, kata orang-orang. Tak jarang, dalam sakitnya, Guru Jabut berceracau tak tentu hilir. Gubuknya yang compang-camping, 2 x 3 meter, berlantai tanah, berdinding tepas, beratap rumbia itu, bakal berantakan. Kendati demikian, kalau pun sedang dirundung gangguan jiwa, Guru Jabut tak pernah keluyuran, apalagi sampai mengacau di surau. Lantas, siapa yang mengurusnya? Ya, ia sendiri! Pula keluarganya sudah sejak lama hijrah ke kampung lain. Paling, Opung Omas, nenek Guru Jabut, yang sesekali datang menjenguknya. Ouh, jangan harap warga mau peduli terhadap upaya kesembuhannya.

Oya, sebentar, mengapa ia dipanggil Guru Jabut? Bukankah nama akikahnya Panangaran Bayo Angin? Dipanggil Guru, mungkin karena ia guru mengaji. Mmh, Jabut? Itu sabut kelapa! Lazimnya, tak akan ada orang kampung yang sudi digelari Jabut. Adapun jabut kerap dikaitkan dengan tahi ayam. Tiada benda yang paling dicari untuk menjumput unggun tahi ayam kecuali Jabut. Selain itu, kalau seseorang sudah diseru Jabut, tak lain untuk menyatakan bahwa seseorang itu tak berguna. Tapi Guru Jabut tak pernah mengeluh. Ia malah berkelakar, “Kalau tak ada Jabut, bah, alamat kampung kita banjir tahi ayam. Matilah kita!”

Mmh, Guru Jabut memang menyimpan sakit, tapi tidak hatinya. Ia tak pandai sakit hati. Padahal sering warga berginju gunjing: tak waras itu Guru Jabut! Tapi, anak-anak mereka belajar mengaji pada Guru Jabut juga. Bah! Ya, pada siapa lagi? Di kampung itu, banyak pemuda yang tamatan sekolah agama, tapi dengan berliuk alasan, enggan jadi guru mengaji.

Namun begitulah, warga punya gunjing, Guru Jabut punya senyum. Tetap dituntunnya anak-anak kampung belajar agama, meski para orang tua mereka menjewer telinga Guru Jabut dengan cibiran. Ah, tapi Guru Jabut tak paham kaji benci. Senantiasa riang hatinya memangku anak-anak. Padahal, tingkah anak-anak pun tak selalu diminyaki pekerti. Alah, macam tak tahu saja perilaku anak-anak.

Ha-ah. Biasanya, menjelang asar, anak-anak sudah kumpul di surau. Keriuhan pun pecah! Apalagi, cuma anak-anak yang memakmurkan surau di masa asar. Kebanyakan orang-orang dewasa masih sibuk di sawah, suntuk di ladang. Nah, pas masuk waktu, seusai Guru Jabut menyalakan pengeras suara, kontan sejumlah anak lelaki bakal berebut meledakkan suara di corong mikrofon. Barang tentu, kegaduhan sengketa suara menebar ke segenap penjuru kampung. Tak ayal, sasaran amarah Lobe Torop, pengurus surau, ya, Guru Jabut. Tapi, amarah Lobe Torop dibalas Guru Jabut dengan seringai kekeh.

O, tapi, pernah suatu kali, Guru Jabut diserapahi Lobe Torop tanpa ampun. Pasalnya, ada dua anak didiknya yang berebut mengumandangkan bahang asar. Sebab tak ada yang mau mengalah, Guru Jabut menyuruh keduanya bahang estafet. Seperdua lafaz bahang, tugas yang satu, separuh lagi ditunaikan yang satunya. Bayangkan, seperti apa wujud kumandang bahang oleh dua suara yang berlainan? Guru Jabut pun masuk buku hitam! Ia dilarang bergiat di surau, kalau tak salah, lebih dari sebulan.

Namun, Guru Jabut seolah tak dapat diceraikan dari surau, tak tahan lama-lama terberai dari anak-anak, sekalipun harus menahankan guit keusilan. Cobalah, pada sebuah peristiwa sembahyang asar, baru saja Guru Jabut menghela kedua tangan ke dada usai takbir pertama, di situ pula anak-anak meninggalkan saf. Jadilah Guru Jabut sembahyang seorang diri, jadi imam sekaligus makmum! Untung lidah Guru Jabut tak fasih mencecarkan kalimat murka. Tapi, ei, bukan ia tak punya hukuman. Seluruh anak lelaki terhukum dideretkan di saf pertama, diberi tugas jadi imam secara bersamaan. Gantian, Guru Jabut sebagai makmum. Selepas rampak suara takbir pertama, Guru Jabut menjiplak perilaku anak didiknya: pergi meninggalkan saf sambil dicekik-cekik kegeliannya sendiri. Tapi, meski demikian, anak-anak tak pernah memontennya: sakit jiwa!

Lain pula tingkah anak-anak sewaktu praktik sembahyang mayit. Anak-anak baru berkenan menunaikan sembahyang mayit kalau Guru Jabut bersedia jadi mayitnya. Nah, siapa pun yang dapat giliran imam, akan dengan sengaja memercik-mercikkan ludah saat mengeja bacaan. Tentulah wajah Guru Jabut ditempiasi ludah. Kalau sudah begitu, Guru Jabut bakal melindungi wajahnya dengan tangan sambil memelas, “Amangoi, janganlah ludahi aku! Meludah itu bukan bagian dari khusyuk!”

Namun, keusilan anak didiknya tak sampai di situ. Mendengar Guru Jabut memelas, mereka pun melonjak, pura-pura terperanjat, terus meledaklah pikuk-gelak yang tindih-menindih, “Hoi, mayitnya hidup. Ada mayit hidup. Tolong! Lari! Lari!”

Ups, demi mendamaikan kekacauan, Guru Jabut memilih menanggungkan hujan ludah dari sejumlah anak didiknya. Tapi, Guru Jabut tak pernah bersurut hati. Tabungan kasih sayangnya terhadap anak-anak selalu berlimpah. Pun anak-anak, sesungguhnya menaruh hormat pada Guru Jabut. Mereka tetap setia berimam pada Guru Jabut. Hal yang tak dilakukan sebagian besar warga dewasa di kampung itu.

Tengok saja saban magrib. Ya, para orang tua di kampung itu kan kerap telat berangkat ke surau. Maka Guru Jabut selalu pula berinisiatif berdiri di hulu saf, dan anak-anak yang jumlahnya tak lagi sebanyak asar jadi makmum yang pura-pura serius. Namun, sembahyang jemaah yang diimami Guru Jabut, tak bakal diikuti jemaah dewasa yang terlambat.

“Dari mana pula jalannya, he, orang gila jadi imam,” desis Haji Ringgas, seorang alim sepuh di kampung itu. Maka, di satu surau, berlangsunglah dua sembahyang berjemaah secara bersamaan. Separah itu? Rasa-rasanya, tak perlu lagi dikisahkan bagaimana sikap kekanak-kanakan yang terselempang di tubuh para orang dewasa di kampung itu.

.

RUMAH duka lengang. Tak terdengar sayup andung, ratap tangis. Mungkin karena mayit sudah diangkut ke bilik pemandian. Di halaman rumah bertanah miring, terdapat beberapa pentakziah berwajah enggan. Sekuat ingatan, Dorlan berupaya mengeja wajah setiap pelayat. Mana tahu, meski lupa nama, tapi hapal rupa. Sesekali Dorlan mendapati Uda Marapande hilir-mudik. Eh, siapa lelaki tua berlangkah limbung itu, bukankah ia Lobe Torop? Dorlan menyemai tanya sekaligus menuai jawab di hatinya sendiri.

Sambil memindah-mindah toleh, Dorlan melepas sapa, menyodorkan salam ke sesama hadirin belasungkawa. Namun, tatapan ganjil balasan yang diterima. Wajar, bujuk Dorlan pada hatinya. Tak ada lagi waktu baginya untuk mengisahkan bahwa belasan tahun lampau ia tinggal di kampung itu. Ia anak Baginda Hatoguan yang karena sering berpindah dinas, memilih menitipkan putranya pada sang adik, Marapande. Lalu, bersebab sudah mapan bermukim di Jakarta, Baginda Hatoguan menagih kembali anak lelakinya.

Ah, sudahlah, sembari menunggu mayit selesai dimandikan, Dorlan turut bercakap-cakap di bawah rerak tenda duka. Dari perbincangan yang tawar, Dorlan berhasil juga mengantungi satu-dua kabar. Ramlan, teman sebaya Dorlan sekaligus saingannya berebut bahang semasa kanak sudah jadi mualim di sebuah pesantren. Ia bahagia mendengarnya. Napasnya lapang. Tapi, dada Dorlan mendadak sempit ketika mengetahui Guru Jabut menghembuskan napas penghabisan di bawah cengkeraman pasung. Katanya, sejak tujuh tahun lalu Guru Jabut terpaksa dipasung karena dinilai mengganggu ketenteraman.

Dorlan bergegas naik ke rumah duka. Untung ia masih sempat menyaksikan Guru Jabut sebelum digelung kain kafan. Guru Jabut tampak lebih tua dari usianya. Tapi Dorlan tak menemukan garis-garis penderitaan di cekung wajahnya, meski tak pula wajah itu dinaungi senyum. Air mata Dorlan terbit.

Matahari makin naik menurutkan lengkung langit. Jenazah siap-siap diusung ke surau untuk disembahyangkan. Upacara pelepasan jenazah kelihatan sekenanya saja. Dorlan ikut menandu keranda saat jenazah Guru Jabut bergerak dari rumah duka. Pemberangkatan yang dingin, batin Dorlan! Pengiring jenazah pun tak lebih banyak dari pemikul keranda. Ke mana warga kampung? Tertambat di sawah atau terkurung di ladang? Atau sudah lebih dulu berkerumun di surau?

Tapi, kenyataannya, surau tak berkawan kala menyongsong jenazah Guru Jabut. Dorlan terbenam dalam cenung, sampai-sampai tak sadar kalau ia sudah khatam menunaikan sembahyang zuhur berjemaah. Dorlan baru angkat kesadaran tatkala bilal mayit berseru-seru: siapa sanak yang sudi jadi imam? Tapi jemaah cuma sudi bertikai pandang, mengundak-undak gerik bahu.

Di sela senyap, Dorlan meninggalkan saf, melangkah ke bibir keranda. Ia sempurnakan tekuk kepala. Sedang sebagian besar jemaah di belakangnya masih berdongak-dongak kepala; siapa gerangan pemuda yang jadi imam itu? Tapi, Dorlan terlanjur khusyuk untuk meladeni keheranan tersebut.

Sumpah, tak pernah Dorlan sekhusyuk ini. (*)

.

.

Griya Sakinah Medan, 2011

Hasan Al Banna lahir di Padangsidempuan, Sumatera Utara, 3 Desember 1978. Buku cerita pendeknya, Sampan Zulaiha (2011). Bekerja di Balai Bahasa Medan dan mengajar sastra di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Medan.
Jejak

Di bawah pohon mahoni kampus serambi,
di alun-alun terbuka sebuah ranah,
kala rindu menepi membangun dermaga,
pada jiwa yang tumbuh dari bumi,
dalam senyum merekah yang bisa dipetik dari ladang,
pada aroma satu jiwa yang telah hilang,
kuakui aku rindu padamu…

Teringat kisah bersama kalian, dulu membuihkan mulut mengeja tuk berlatih. Di bawah pohon rindang Unimed, ngumpul uang lima ribu lima ribu untuk membeli kemek-kemek. Dari sudut jalan terlihat tergesa-gesa Sri dkk. yang sudah terlambat, tetapi tetap ditunggu, karena kalau mereka tak datang, tak khusuk rasanya. Dan Sri pun berucap, “Maap ya baru siap kuliah juga.”
Per dua minggu, menggelar karpet di belakang UMSU, di bawah pohon belimbing, meneduhkan rindu pada pena. Sesekali menjajah sekretariat BEM FKIP UMSU menemu tawa. Di situ pula, aku sering terlambat, “Sori,aku terlambat lagi woi…,” selepas itu kusambung lagi, “hehheheheheeee.”
Sayum Sabah menjadi saksi menulis di tengah sungai pada atas batu, menulis puisi bersambung ketika basah oleh air hulu. Malam itu kita menimba cerita dengan beliau. Siapa yang tak menemu baru ketika membaca puisi di bawah pohon coklat. Eh, kala petang bermain diiringi musik. Dan pulang diguyur hujan. Oi, jadi terlambat nyampe di rumah. Dalam hati, “Mudah-mudahan aja adek-adek ni gak pada dimarahni setelah nyamper rumah.”
Berjalan masa pada alam, rindu beralih pada sudut taman budaya. Dari situ disulam jejak-jejak penemu tulis. Sempat aku berkilah, “Kita harus mengembangkan ‘sayap’, pelatihan di kampus masing-masing. Kita buat aja Kompak Unimed, Kompak UMSU, Kompak Nomensen,” Namun dengan teguh dijawab oleh Sri, “Tidak! Kita harus tetap satu! Kita pelatihan di sekretariat. Ya, di Taman Budaya ini.”

Rudi Saragih

Kamis, 14 Oktober 2010

lomba cerpen 2010

Woi, kawan-kawan.
ni ada lomba!

Ayo, gali potensi! Asah kemampuan! Atau apapun namanya….. coba dulu deh….
[orang lain aja bilang kamu bisa kok. Ya, pasti bisa n memang bisa!]
[Ayo tunjukkan kawan…. Tindakanmu buktinya tu….]
===================================================================================
Kompak Festival Puisi dan Cerita Pendek Indonesia
“Menggali Potensi dan Kreativitas Generasi Muda dalam Bersastra”
25-27 November 2010

Mengadakan Lomba:

1. Cipta Cerpen untuk umum (usia 15-25 tahun)
Persyaratan:
- Banyak naskah 5000-8000 karakter
- Tema bebas
- Uang pendaftaran Rp. 15000,

2. Cipta Puisi untuk umum (usia 15-25 tahun)
Persyaratan:
- Tema bebas
- Uang pendaftaran Rp. 15000

3. Lomba Baca Puisi untuk umum (usia 15-25 tahun)
Persyaratan:
- uang pendaftaran Rp. 15.000, tema bebas

4. Cipta Cerpen khusus anggota KOMPAK
Persyaratan:
- Banyak naskah 5000-8000 karakter
- Tema budaya local

5. Workshop Cerita Pendek
- Biaya pendaftaran Rp. 10.000

6. Pameran Cerita Pendek
7. Bazar Buku Antologi Cerpen dan Puisi

Persyaratan Umum:
- Berkas rangkap 3, menyertai soft copy di CD, biodata, dan foto JPG ukuran minimal 1000×2000
- Diketik kertas A4, Times New Roman, huruf 12, 1 ½ spasi
- Berkas dikirim ke rudisaragih@ymail.com, atau wahyu_wiji@yahoo.com dan dapat pula dikirim langsung ke sekretariat Taman Baca setiap sabtu pukul 15.30-17.30
- Uang pendaftaran dapat dikirim kerekening BNI 46 dengan No. 0137031319 atas nama Ria Ristiana Dewi

Informasi lebih tepat hubungi:
Rudi Hartono Saragih 081260980286 || Zuliana Ibrahim 085277042241
Dani Sukma 085762691247 || Erni Wirda Ningsih 081990504418

Batas akhir pendaftaran 30 oktober 2010 pukul 00.00

diselenggarakan oleh KOMPAK bersama LABSAS
============================================================================

teknik menulis esai

Cakap-cakap Tentang Esai [Katanya]

Tulisan prosa berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek / bidang kehidupan. Tulisan ini mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan analisis, sintesis dan kesimpulan yang khas dari penulisnya.

Langkah-langkah membuat Esai

1. Mulailah dengan Semangat! Dan jangan melemahkan diri anda katakana pada diri anda
“Ayo … (sebutkan nama anda) kamu pasti bisa!”
2. Tentukan topik
Topik yang ditentukan harus spesifik, kreatif, dan inovatif. Pikirkan tujuan dan potensi (pengaruh) topik
[gak usah berpikir menulis yang besar, yang kecil aja asal pasti.]
3. Tuliskan Garis besar ide-ide dan struktur ide
Identifikasi secara umum apa yang akan dituliskan
4. Identifikasi dengan hal-hal yang berhubungan
5. Buat lead
Kalimat pengantar yang membuat orang tertari pada kesan pertama membaca
6. Kembangkan ide
7. Buatlah beberapa sub topic untuk pembahasan lebih mendalam
8. Kembangkan sub topik yang telah anda buat
9. buat Sintesis-nya
Perpaduan masalah, analisis serta ide/gagasan
10. Berikan sentuhan terakhir
Pilih mana data dan informasi menarik, paling kuat hingga setelah membaca tulisan anda pembaca penasaran untuk membahas lebih dalam
11. Baca kembali [editing akhir]
12. Baca kembali [perbaiki] selanjutnya baca kembali [dan tersenyumlah dan katakan “yes! Selesai!]

Membuat tulisan tentunya berdasarkan wawasan dan pengalaman. menulis non fiksi berupa menyampaikan gagasan dengan kemampuan intelektual dalam bentuk tulisan.

Sekolah ku Ibadahku

Oleh 'Liani sinaga' Pagi hari yang cerah,aku duduk di depan Kelas ku b...